Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Gigi Tersisa Jadi Penentu: Kualitas Hidup Oral Pasien Diabetes di RSUD Yogyakarta

Dari 82 pasien rawat jalan diabetes tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yogyakarta, lebih dari separuhnya, tepatnya 59,76 persen, ternyata memiliki kualitas hidup terkait kesehatan mulut yang rendah. Temuan ini bukan sekadar angka statistik. Di baliknya ada orang-orang yang kesulitan mengunyah, tidak nyaman makan di depan orang lain, bahkan merasa minder dengan kondisi gigi dan gusinya.

Itulah salah satu temuan utama penelitian yang dipublikasikan di Majalah Kedokteran Gigi Indonesia edisi April 2021, yang diketuai oleh Prof. Dr. drg. Dewi Agustina, MDSc, dari Departemen Ilmu Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini secara khusus menyoroti kondisi oral health-related quality of life (OHRQoL) pada pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 di Yogyakarta, provinsi dengan prevalensi DM tertinggi di Indonesia, mencapai 2,4 persen.

Mulut Adalah Cermin Tubuh

Yogyakarta menyimpan paradoks yang menarik: kota pelajar dengan fasilitas kesehatan relatif lengkap, namun tercatat sebagai provinsi dengan angka diabetes tertinggi nasional. Sekitar 90 persen penderita diabetes menderita tipe 2, dan komplikasi oral sering kali luput dari perhatian dibandingkan komplikasi jantung atau ginjal.

Penelitian Prof. Dewi dan tim dilakukan pada Agustus hingga Oktober 2017, melibatkan 82 pasien rawat jalan berusia 40 hingga 81 tahun, terdiri dari 50 laki-laki dan 32 perempuan. Mereka diperiksa secara intraoral dan diwawancarai menggunakan dua instrumen: Geriatric Oral Health Assessment Index (GOHAI) untuk mengukur OHRQoL, dan Xerostomia Inventory (XI) untuk mendeteksi keluhan mulut kering.

Hasilnya cukup mengejutkan. Hampir seluruh subjek, 95,12 persen, mengalami kerusakan jaringan periodontal. Kebersihan mulut yang buruk ditemukan pada 96,34 persen subjek. Hampir separuh, yakni 47,56 persen, mengeluhkan xerostomia atau mulut kering. Kondisi ini bukan kebetulan: diabetes yang tidak terkontrol memengaruhi fungsi kelenjar saliva, sementara obat antihipertensi yang dikonsumsi sebagian pasien juga bersifat xerogenik, alias memperparah kekeringan mulut.

Ketika Gigi yang Tersisa Bicara

Di antara seluruh variabel yang diteliti, hanya satu yang secara statistik bermakna terhadap skor GOHAI: jumlah gigi yang tersisa. Pasien dengan 20 gigi atau lebih memiliki proporsi OHRQoL yang jauh lebih baik dibandingkan mereka yang giginya tersisa kurang dari 20 (p=0,032).

“Hanya ‘present teeth’ yang memiliki kontribusi signifikan terhadap proporsi status GOHAI pada pasien DM tipe 2 dalam penelitian ini. Pasien DM tipe 2 dengan ≥20 gigi memiliki proporsi status GOHAI tinggi yang lebih signifikan dibandingkan mereka yang memiliki <20 gigi.” — Prof. Dr. drg. Dewi Agustina, MDSc, dalam laporan penelitian

Ini bukan temuan yang mengejutkan jika dipahami dalam konteks “fenomena kaskade” yang dijelaskan tim peneliti. Xerostomia memicu berkurangnya self-cleaning di rongga mulut. Kondisi itu mempermudah terbentuknya plak, memperparah penyakit periodontal, dan pada akhirnya mempercepat kehilangan gigi. Gigi yang hilang membuat pasien kesulitan mengunyah, tidak nyaman makan, dan perlahan menarik diri dari interaksi sosial.

Tiga dimensi GOHAI, yaitu fungsi fisik, rasa nyeri dan ketidaknyamanan, serta dampak psikososial, semuanya terdampak. Pada dimensi fisik, keluhan terbanyak adalah kesulitan menggigit dan mengunyah. Pada dimensi nyeri, ketidakmampuan makan dengan nyaman menjadi keluhan dominan. Sementara pada dimensi psikososial, perasaan tidak puas dengan kondisi gigi, gusi, atau gigi tiruan paling sering dilaporkan.

Angka yang Menuntut Perhatian

Temuan ini relevan tidak hanya secara klinis, tetapi juga dari sisi kebijakan kesehatan. Sebanyak 41,46 persen subjek penelitian ini memiliki sisa gigi kurang dari 20, sebuah ambang yang kerap digunakan sebagai penanda fungsional dalam geriatric dentistry. Dengan rata-rata usia subjek 63,41 tahun, kondisi ini mencerminkan akumulasi masalah kesehatan mulut yang tidak tertangani selama bertahun-tahun.

Prof. Dewi dan tim menegaskan bahwa penilaian kualitas hidup bersifat sangat subjektif, dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, kondisi sosial, budaya, dan sistem nilai masing-masing individu. Itulah mengapa tidak semua pasien dengan gigi tersisa kurang dari 20 otomatis memiliki skor GOHAI rendah. Ada pasien yang sudah “menerima” kondisinya, ada pula yang standar ekspektasinya memang berbeda.

Namun justru di sinilah tantangan terbesar bagi tenaga kesehatan: bagaimana membantu pasien mengenali bahwa kondisi mulut mereka berpengaruh langsung pada kualitas hidup secara keseluruhan, bukan hanya soal estetika atau rasa sakit sesaat.

Diabetes dan kesehatan mulut bukan dua jalur yang berjalan terpisah. Keduanya saling memperburuk, dan penelitian ini menjadi pengingat bahwa kunjungan ke dokter gigi bagi pasien diabetes bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian yang tidak bisa diabaikan dari tata laksana penyakit kronis.

Sumber DOI : DOI: http://doi.org/10.22146/majkedgiind.43693

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
21 Juli 2026

Ketika Karier Mandek, Siapa yang Bertanggung Jawab?

21 Juli 2026

Nanokitosan Lawan Bakteri Tersembunyi di Balik Kawat Gigi

21 Juli 2026

REVOLUSI HIJAU DI KURSI GIGI: KETIKA SENYUMAN SEHAT TAK LAGI KORBANKAN BUMI

id_ID