Bayangkan seorang dokter gigi yang tidak pernah lelah, tidak pernah salah memperkirakan posisi karies, dan mampu menganalisis ribuan gambar radiografi dalam hitungan detik. Bukan manusia super, melainkan algoritma. Itulah gambaran yang mulai mendekat dalam praktik kedokteran gigi modern, dan sebuah artikel ilmiah dari Universitas Gadjah Mada mencoba memetakan sejauh mana kecerdasan buatan telah merambah ke hampir seluruh cabang spesialisasi gigi.
Paper bertajuk The Role of Artificial Intelligence in Many Dental Specialties yang ditulis oleh Choirunisa Nur Humairo, Aquarina Hapsari, dan Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K) dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM ini diterbitkan dalam BIO Web of Conferences (2021). Meski ringkas, muatannya padat: sebuah peta komprehensif tentang bagaimana kecerdasan buatan, atau Artificial Intelligence (AI), mengubah wajah kedokteran gigi dari akar sampai mahkota.
Otak Buatan yang Belajar Melihat Gigi
Di jantung teknologi ini terdapat Artificial Neural Network (ANN), model matematis yang meniru cara kerja jaringan saraf otak manusia. Ketika lapisan-lapisan jaringan ini disusun bertingkat, lahirlah sistem deep learning, yang mampu mengenali pola dalam gambar, suara, bahkan teks.
Salah satu turunannya, Convolutional Neural Network (CNN), menjadi andalan dalam pencitraan medis. CNN mampu mendeteksi struktur anatomis, memisahkan temuan normal dari yang patologis, lalu mengklasifikasikannya. Dalam konteks gigi, ini berarti CNN bisa menunjuk lokasi karies secara tepat pada radiografi, bahkan meningkatkan performa pembacaan gambar radiologi secara keseluruhan.
Sebuah penelitian oleh Lee dkk. (2018) yang dikutip dalam paper ini menguji kemampuan CNN pada 3.000 gambar radiografi periapikal, meliputi model premolar, molar, dan keduanya. Hasilnya, akurasi deteksi karies pada ketiga kategori tersebut melampaui 80 persen. Angka yang, untuk sebuah algoritma, terbilang mengagumkan.
Dari Anak-Anak hingga Meja Operasi
Cakupan aplikasi AI yang diulas dalam paper ini melintasi hampir seluruh spesialisasi kedokteran gigi, dan masing-masing punya cerita berbeda.
Dalam kedokteran gigi anak, tantangan terbesar bukan soal teknis, melainkan perilaku. Anak-anak takut. Mereka menangis, menolak, atau tidak kooperatif. Di sinilah AI menawarkan sesuatu yang tak terduga: animasi 4D dan permainan virtual reality sebagai alat modifikasi perilaku. Teknologi CAD/CAM yang selama ini identik dengan pasien dewasa pun mulai dilirik untuk perawatan estetik pada anak. Bahkan perangkat kendali nyeri berbasis AI dikembangkan agar pengalaman di kursi gigi tak lagi menjadi mimpi buruk bagi si kecil.
Untuk kedokteran gigi restoratif, AI hadir sebagai asisten yang tak kenal lelah. Dokter gigi yang bekerja berjam-jam rentan melewatkan lesi karies kecil. Perangkat lunak AI mampu menyoroti area mencurigakan pada radiografi bitewing, membantu deteksi dini sebelum kerusakan meluas.
Di bidang ortodonti, Expert System (ES) terbukti mampu merekomendasikan apakah pasien maloklusi perlu ekstraksi atau tidak, dengan akurasi hingga 80 persen dalam studi yang melibatkan 200 subjek remaja di Nanjing. Sementara AI di bidang prostodontik membantu dokter mendesain senyum pasien secara digital, mengurangi waktu diagnosis, dan memaksimalkan pertimbangan estetik melalui citra 2D dan 3D.
Yang paling dramatis mungkin adalah penerapan AI dalam bedah mulut. Robot bedah berbasis AI telah berhasil digunakan untuk prosedur di area kepala dan leher, termasuk pemasangan implan, operasi tumor, biopsi, hingga operasi sendi temporomandibular. Keunggulannya nyata: durasi operasi lebih singkat, gerakan lebih presisi di sekitar struktur halus, dan risiko prosedur revisi berkurang.
“The latest development of Artificial Intelligence is beneficial for dental practitioner in the near future. It is considered as a breakthrough of the 21st century to support the diagnostic procedure and decision making in clinical practice.” — Choirunisa Nur Humairo, Aquarina Hapsari, dan Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K), FKG UGM
Klinik yang Lebih Cerdas, Pendidikan yang Lebih Aman
Di luar prosedur klinis, AI juga menyentuh dua hal yang sering luput dari perhatian: manajemen klinik dan pendidikan.
Dalam pengelolaan klinik, AI dapat mengatur jadwal pasien, mengelola rekam medis, mengurus asuransi, bahkan membantu resep obat pascabedah. Dalam keadaan darurat gigi, AI berpotensi menjadi panduan pertolongan pertama sebelum tenaga profesional tiba.
Sementara itu, mahasiswa kedokteran gigi kini bisa berlatih pada “pasien virtual” yang merespons layaknya manusia nyata, tanpa risiko kesalahan yang berdampak pada pasien sungguhan. Integrasi CBCT dan MRI dengan AI pun mempermudah kerja radiolog dalam membaca citra diagnostik yang kompleks.
Ini bukan sekadar efisiensi. Ini pergeseran paradigma: dari pendidikan yang bergantung pada pengulangan prosedur nyata, menuju lingkungan belajar yang terukur dan aman secara etis.
Bukan Pengganti, Melainkan Perpanjangan Tangan
Paper dari tim FKG UGM ini tidak mengklaim bahwa AI akan menggantikan dokter gigi. Sebaliknya, ia menegaskan posisi AI sebagai alat bantu yang memperluas kapasitas manusia, mengisi celah yang ditinggalkan oleh kelelahan, keterbatasan waktu, atau batas kemampuan persepsi visual.
Pertanyaan yang lebih relevan bukan lagi “apakah AI bisa digunakan dalam kedokteran gigi?” melainkan “seberapa cepat praktisi siap mengadopsinya?” Di sebuah klinik masa depan yang tidak terlalu jauh, algoritma mungkin sudah duduk di samping dokter gigi, diam-diam membaca radiografi, menghitung risiko, dan menyiapkan opsi terbaik, sebelum dokter bahkan sempat mengangkat kacamata lupanya.
Sumber DOI : https://doi.org/10.1051/bioconf/20214103005
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels