Selama ini, povidon-iodin dikenal luas sebagai antiseptik andalan untuk luka. Tapi sebuah penelitian dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menemukan fakta yang membuat banyak orang berpikir ulang: air liur — cairan yang selama ini dianggap biasa saja, bahkan sering dikaitkan dengan kesan “kotor” — ternyata mampu menyembuhkan luka kulit lebih cepat dibandingkan povidon-iodin 10%. Penelitian ini dilakukan oleh drg. Ivan Arie Wahyudi, M.Kes., Ph.D., bersama dua mahasiswa Pendidikan Dokter Gigi FKG UGM, Malida Magista dan Merry Angel, menggunakan tikus Sprague Dawley sebagai subjek uji. Selama 21 hari pengamatan, tim peneliti membandingkan tiga bahan perawatan luka — saliva (air liur), povidon-iodin 10%, dan larutan NaCl 0,9% — untuk melihat mana yang paling efektif memulihkan luka pada kulit.
Rahasia di Balik Air Liur
Saliva bukan sekadar cairan pelumas mulut. Di dalamnya terkandung sejumlah protein aktif yang memiliki fungsi biologis penting, salah satunya adalah Epidermal Growth Factor atau EGF — faktor pertumbuhan yang berperan mendorong proliferasi sel (pembelahan sel baru), diferensiasi sel (pematangan sel), dan migrasi sel (pergerakan sel menuju area yang rusak). Ketiga proses inilah yang menjadi kunci utama penyembuhan luka.
Selain EGF, saliva juga mengandung Nerve Growth Factor (NGF), imunoglobulin A, lisozim, dan laktoperoksidase — komponen-komponen yang bersifat antibakteri dan antivirus. Artinya, saliva tidak hanya mempercepat perbaikan jaringan, tetapi juga melindungi luka dari infeksi.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa luka di dalam rongga mulut sembuh lebih cepat dibandingkan luka di kulit. Para ilmuwan menduga saliva adalah faktor utama di balik fenomena tersebut. Penelitian drg. Ivan dan tim mencoba membuktikan apakah keunggulan serupa bisa terjadi pada luka kulit (cutaneous wound) yang ditetesi saliva secara langsung.
Apa yang Terjadi pada Luka Selama 21 Hari
Tim peneliti membuat luka eksisi kecil menggunakan punch biopsy berdiameter 2 mm pada punggung 30 ekor tikus yang dibagi ke dalam tiga kelompok perlakuan. Setiap kelompok mendapat perawatan berbeda: saliva, povidon-iodin 10%, atau NaCl 0,9%. Pengamatan dilakukan secara klinis dan histologis — artinya, luka dilihat langsung dan juga diperiksa di bawah mikroskop — pada hari ke-1, 3, 5, 7, 14, dan 21 setelah perlukaan.
Hasilnya cukup gamblang. Pada hari pertama, belum ada satu pun kelompok yang menunjukkan pembentukan jaringan epitel baru — wajar, karena tubuh masih dalam fase inflamasi awal. Memasuki hari ketiga, kelompok saliva mulai menunjukkan pembentukan sel epitel yang lebih tebal dibandingkan dua kelompok lainnya. Kelompok povidon-iodin justru paling lambat.
Puncaknya terjadi pada hari ke-7, saat ketebalan epitel mencapai titik tertinggi di semua kelompok. Data menunjukkan kelompok saliva mencatat rata-rata ketebalan epitel 81,61 mikrometer, lebih tinggi dari kelompok NaCl (75,53 mikrometer) dan jauh di atas kelompok povidon-iodin (59,36 mikrometer).
Memasuki hari ke-14 dan ke-21, jaringan epitel mulai menipis dan menyusun diri secara lebih teratur — tanda bahwa proses remodelling atau penyempurnaan jaringan sedang berlangsung. Pada hari ke-21, kelompok saliva menunjukkan epitel yang paling tipis dan teratur, mencerminkan rekonstruksi kulit yang paling sempurna. Kelompok povidon-iodin, sebaliknya, masih menampilkan jaringan epitel yang lebih tebal dan tidak teratur — tanda bahwa penyembuhan belum tuntas.
NaCl Biasa Ternyata Lebih Baik dari Antiseptik Populer
Temuan lain yang tak kalah menarik: larutan NaCl 0,9% — larutan garam fisiologis yang murah dan mudah didapat — terbukti lebih efektif menyembuhkan luka dibandingkan povidon-iodin 10%. Ini menantang praktik perawatan luka yang selama ini umum dilakukan di banyak tempat.
Penjelasannya cukup masuk akal secara fisiologis. NaCl memiliki komposisi yang seimbang dan mirip cairan tubuh, sehingga menciptakan suasana lembab pada area luka. Kondisi lembab inilah yang mempercepat pembentukan stratum corneum (lapisan terluar kulit) dan angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru), dua proses penting dalam penyembuhan luka.
Povidon-iodin, meski efektif sebagai antiseptik, justru bersifat iritatif. Penggunaan berulang dapat menghambat proses granulasi jaringan dan mengurangi kekuatan kulit di area luka. Hasil penelitian ini sejalan dengan kajian-kajian sebelumnya yang mempertanyakan efektivitas povidon-iodin sebagai agen perawatan luka jangka panjang.
Secara statistik, perbedaan antar ketiga kelompok memang tidak mencapai tingkat signifikansi (p>0,05) berdasarkan uji Kruskal-Wallis. Namun secara klinis dan histologis, pola perbedaannya konsisten dan terarah — saliva unggul, NaCl di posisi kedua, dan povidon-iodin tertinggal.
Dari Rongga Mulut ke Dunia Medis yang Lebih Luas
Penelitian ini membuka peluang yang menarik. Jika kandungan EGF dalam saliva terbukti mempercepat penyembuhan luka kulit, maka isolasi dan pengembangan EGF dari saliva berpotensi menjadi dasar bagi pengembangan obat luka generasi baru — yang berasal dari sumber biologis alami tubuh manusia sendiri.
“Saliva dapat mempercepat penyembuhan luka, sehingga ke depannya saliva dengan kandungan EGF-nya dapat menjadi sumber obat yang baru untuk penyembuhan luka.”
Demikian simpulan yang ditulis tim peneliti dalam makalahnya. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi implikasinya luas: tubuh manusia mungkin menyimpan lebih banyak potensi penyembuhan alami daripada yang selama ini kita sadari.
Tentu, masih banyak tahap yang perlu dilalui sebelum temuan ini bisa diterapkan secara klinis pada manusia. Penelitian lanjutan dengan skala lebih besar, uji keamanan, dan pengujian pada manusia masih diperlukan. Tapi untuk saat ini, pertanyaan lama yang pernah kita abaikan — mengapa luka di dalam mulut lebih cepat sembuh? — akhirnya mulai mendapat jawaban yang lebih ilmiah.
Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam
Foto: Freepik