Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Kista Rahang yang Diam-Diam Menggerogoti Tulang Hidung: Kisah di Balik Foto Tiga Dimensi

Selama lima belas tahun, pria itu tidak pernah mendatangi dokter gigi. Sejak jatuh saat masih remaja, ia membiarkan giginya berubah warna, membiarkan gusinya membengkak, dan baru datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Padjadjaran ketika rasa nyeri sudah tak tertahankan — terutama saat tubuhnya kelelahan. Di usianya yang ke-32, apa yang ditemukan dokter jauh melampaui perkiraan awal: sebuah kista yang telah tumbuh diam-diam, merusak tulang langit-langit dan bahkan menembus dasar rongga hidungnya.

Laporan kasus ini didokumentasikan oleh drg. Silviana Farrah Diba, Sp.RKG. Subsp. RP(K) dari Departemen Radiologi Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama koleganya dari Universitas Padjadjaran, dan dipublikasikan dalam Jurnal Radiologi Dentomaksilofasial Indonesia edisi Desember 2019.

Gigi Gelap, Gusi Bernanah, dan Misteri yang Tersembunyi

Pemeriksaan klinis pertama menunjukkan gigi insisivus sentral kiri rahang atas (gigi 21) yang berubah warna lebih gelap dari gigi di sebelahnya. Ada benjolan keras di sisi palatal, gigi sedikit goyah, dan hasil tes vitalitas negatif — tanda bahwa jaringan pulpa di dalam gigi sudah mati.

Foto rontgen periapikal sebagai pemeriksaan awal memperlihatkan area gelap (radiolusen) berbatas tegas di ujung akar gigi 21, meluas hingga menyentuh gigi 22. Gambaran ini khas untuk kista radikuler: kantong patologis berisi cairan yang terbentuk dari reaksi inflamasi kronis pada jaringan mati di sekitar ujung akar.

Yang tidak terlihat dari foto dua dimensi itu adalah seberapa jauh kista sebenarnya telah meluas.

Saat Foto Dua Dimensi Tidak Lagi Cukup

Di sinilah teknologi Cone Beam Computed Tomography, atau CBCT, mengambil peran.

Berbeda dari foto rontgen konvensional yang hanya menampilkan bayangan datar, CBCT merekonstruksi gambar dalam tiga bidang pandang sekaligus: koronal (depan-belakang), sagital (samping), dan aksial (atas-bawah). Tidak ada tumpang-tindih antar struktur anatomi, tidak ada distorsi. Setiap irisan dapat diamati satu per satu, dengan sudut yang bisa diatur sesuai kebutuhan.

Hasilnya pada kasus ini mengejutkan. Rekonstruksi 3D menunjukkan lesi osteolitik — kerusakan tulang — yang jauh lebih luas dari perkiraan. Kista tidak hanya melibatkan area sekitar akar gigi 21, tetapi juga telah menghancurkan tulang kortikal labial (sisi depan), tulang kortikal palatal (sisi langit-langit), dan yang paling serius: menembus dasar kavum nasal sinistra, atau rongga hidung bagian kiri. Dimensi terluas lesi tercatat 17,9 x 14,3 mm pada pandangan sagital.

“Perforasi lesi ke struktur anatomi terdekat dapat terjadi pada kista berukuran besar, oleh karena itu pemeriksaan radiografi yang adekuat diperlukan untuk menentukan efek lesi terhadap jaringan sekitar, penegakkan diagnosis, dan rencana bedah.” — drg. Silviana Farrah Diba, Sp.RKG. Subsp. RP(K) dan tim, dalam laporan kasus

Pada foto periapikal dua dimensi, ada bayangan gelap kedua yang mencurigakan — diduga perforasi ke arah palatal. CBCT mengonfirmasi kecurigaan itu secara definitif.

Dari Diagnosis ke Meja Operasi

Setelah perawatan saluran akar (endodontik) selesai, barulah pemeriksaan CBCT dilakukan untuk pemetaan menyeluruh sebelum tindakan bedah. Ini bukan keputusan sembarangan: CBCT memberikan dosis radiasi lebih tinggi dibanding foto gigi biasa, sehingga penggunaannya harus dipertimbangkan matang-matang berdasarkan indikasi klinis yang jelas.

Tindakan bedah mencakup apikoektomi (pengangkatan ujung akar), enukleasi kista (pengambilan seluruh kantong kista), aplikasi bone graft untuk mengisi kekosongan tulang, dan pemutihan gigi untuk memulihkan estetik. Pemeriksaan histopatologis kemudian mengonfirmasi temuan: jaringan ikat fibrokolagen, sel-sel inflamasi, hingga area nekrotik — gambaran khas kista radikuler yang telah berkembang lama.

Tiga bulan setelah perawatan, foto periapikal kontrol menunjukkan batas sklerotik kista mulai memudar. Tulang baru terbentuk dari tepi menuju pusat lesi — tanda pemulihan yang berjalan ke arah yang benar.

Pelajaran dari Satu Kasus yang Hampir Terlewat

Kista radikuler dikenal sebagai lesi yang tumbuh sangat lambat dan hampir tanpa gejala. Banyak pasien tidak menyadari keberadaannya hingga lesi membesar atau ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan rutin. Kasus ini menjadi pengingat yang keras: riwayat trauma gigi yang diabaikan selama bertahun-tahun bisa berujung pada kerusakan struktural yang jauh melampaui batas gigi itu sendiri.

Laporan ini juga menegaskan peran CBCT bukan sebagai pengganti foto konvensional, melainkan sebagai alat konfirmasi dan perencanaan ketika ukuran atau lokasi lesi meragukan. Untuk evaluasi pascaoperasi pada kasus ini, foto periapikal biasa sudah dianggap cukup — sebuah pengingat bahwa teknologi canggih sekalipun harus digunakan proporsional, sesuai kebutuhan klinis nyata.

Kista itu sudah diam selama lebih dari satu dekade. Yang membuatnya akhirnya terdeteksi bukan hanya alat yang lebih canggih, tetapi keputusan untuk akhirnya datang ke dokter.

Sumber DOI : DOI: 10.32793/jrdi.v3i3.439

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
17 Juli 2026

Ekspansi Rahang Atas Ternyata Memperluas Saluran Napas Anak: Bukti dari 13 Studi CBCT

17 Juli 2026

Bibir yang Tak Bisa Menutup: Alat Sederhana di Balik Masalah Tumbuh Kembang Anak

17 Juli 2026

Tekanan Cairan Gigi Ternyata Bisa Memicu Regenerasi Dentin: Bukti dari Sel Punca Gigi Susu

id_ID