Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 12, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Cangkang Kerang Hijau Mengungguli CPP-ACP: Terobosan Remineralisasi Gigi Sulung dari Laut

Limbah laut yang selama ini dibuang ternyata menyimpan potensi tak terduga untuk kesehatan gigi anak. Penelitian terbaru dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa mousse berbahan ekstrak cangkang kerang hijau (Perna viridis) konsentrasi 20% mampu meningkatkan kadar kalsium email gigi sulung lebih tinggi dibandingkan CPP-ACP, produk remineralisasi komersial yang selama ini menjadi standar klinis. Angkanya bukan selisih tipis: 28,97 ppm berbanding 27,89 ppm, meski secara statistik perbedaan itu belum signifikan.

Ketika Gigi Anak Kehilangan Mineralnya

Karies pada gigi desidui bukan sekadar masalah estetika. Gigi sulung yang rusak lebih awal dapat mengganggu ruang tumbuh gigi permanen, mempengaruhi posisi gigi di masa depan, bahkan berdampak pada kemampuan bicara dan nutrisi anak. Masalahnya, enamel gigi desidui secara alami lebih tipis dan lebih berpori dibanding gigi permanen, menjadikannya sasaran empuk serangan asam dari bakteri kariogenik.

Proses demineralisasi dimulai dari penurunan pH rongga mulut. Mineral enamel larut, terbentuk lesi bercak putih (white spot lesion), dan jika dibiarkan, berkembang menjadi kavitas. Di sinilah peran agen remineralisasi menjadi krusial: menyuplai ion kalsium dan fosfat untuk memulihkan struktur kristal enamel yang rusak.

CPP-ACP selama ini menjadi pilihan utama. Namun produk berbasis protein susu sapi ini memiliki keterbatasan nyata: kurang optimal pada pH rendah, daya penetrasi ke permukaan email terbatas, dan tidak dapat digunakan pada anak dengan alergi atau kondisi imunokompromais terhadap turunan susu sapi. Keterbatasan inilah yang mendorong drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA. bersama tim peneliti untuk mencari alternatif yang lebih inklusif dan terjangkau.

Dari Limbah Maritim Menjadi Biomaterial

Cangkang kerang hijau mengandung 95% kalsium karbonat amorf murni, senyawa yang berfungsi sebagai prekursor hidroksiapatit. Dalam proses penelitian, cangkang diolah melalui serangkaian tahapan kimia yang presisi: dibersihkan, dikeringkan, dikalsinasi pada suhu 1.000°C selama lima jam untuk mengubah kalsium karbonat menjadi kalsium oksida, lalu dipresipitasi bersama diammonium fosfat untuk menghasilkan senyawa kalsium hidroksiapatit.

Serbuk hidroksiapatit inilah yang kemudian diformulasikan ke dalam sediaan mousse, dipilih karena konsistensinya yang ringan dan hidrofilik memungkinkan penetrasi lebih dalam ke permukaan enamel dibandingkan sediaan gel. Formulasi mousse dirancang untuk meningkatkan daya sebar, retensi, dan distribusi bahan aktif secara merata.

“Penelitian ini merupakan yang pertama mengevaluasi aplikasi ekstrak cangkang kerang hijau (Perna viridis) konsentrasi 20% dalam bentuk sediaan mousse terhadap peningkatan kadar kalsium email gigi desidui.”

Penelitian eksperimental semu ini menggunakan 16 gigi insisivus desidui anterior yang dibagi ke dalam empat kelompok: kelompok mousse kerang hijau, kelompok kontrol positif (CPP-ACP), kelompok basis mousse tanpa ekstrak, dan kelompok kontrol negatif tanpa perlakuan. Semua gigi terlebih dahulu didemineralisasi menggunakan asam fosfat 37% sebelum diberi perlakuan, lalu diinkubasi pada suhu 37°C selama 30 menit. Kadar kalsium diukur menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA).

Angka yang Bicara

Hasilnya tegas. Kelompok mousse kerang hijau mencatat kadar kalsium tertinggi (28,97 ± 1,75 ppm), diikuti CPP-ACP (27,89 ± 1,78 ppm), basis mousse (22,53 ± 1,05 ppm), dan kontrol negatif (22,17 ± 0,36 ppm). Uji One Way ANOVA mengkonfirmasi perbedaan bermakna antar kelompok dengan nilai p=0,0001.

Uji Post Hoc LSD mengungkap detail penting: mousse kerang hijau berbeda signifikan dari kontrol negatif (p=0,001) dan basis mousse (p=0,001), namun tidak berbeda signifikan dari CPP-ACP (p=0,288). Artinya, secara klinis mousse kerang hijau setara dengan standar emas yang ada, bahkan menunjukkan rerata lebih tinggi.

Mekanisme kerjanya menarik. Ion kalsium dari ekstrak kerang hijau berikatan dengan gugus karboksil hidroksiapatit enamel, membentuk ikatan jenuh yang mencegah terlarutnya kristal. pH larutan ekstrak yang tinggi (11,8) turut meningkatkan aktivitas ion fosfat dan hidroksil, menciptakan lingkungan mikro yang kondusif untuk remineralisasi.

Potensi Besar, Jalan Masih Panjang

Penelitian ini, yang diterbitkan dalam Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran edisi Desember 2025, membuka cakrawala baru dalam kedokteran gigi anak. Kerang hijau adalah komoditas laut yang melimpah di Indonesia, harganya jauh lebih terjangkau dari produk CPP-ACP komersial, dan tidak mengandung protein susu sehingga aman untuk anak dengan kondisi alergi tertentu.

Tim peneliti yang terdiri dari Sito Resmi Hayuning Wardani, drg. Putri Kusuma Wardani Mahendra, M.Kes., Sp.KGA., dan Indra Bramanti ini mengakui sejumlah keterbatasan: sampel masih kecil, waktu observasi hanya 30 menit, dan pengujian baru dilakukan secara in vitro dengan saliva buatan. Kondisi rongga mulut yang sesungguhnya, dengan fluktuasi pH, aliran saliva alami, dan keberadaan biofilm, jauh lebih kompleks.

Penelitian lanjutan secara in vivo dengan sampel lebih besar dan waktu observasi lebih panjang diperlukan sebelum formulasi ini bisa benar-benar hadir di klinik gigi anak. Namun bukti awal ini sudah cukup kuat untuk menyatakan bahwa cangkang yang selama ini dibuang ke tempat sampah itu layak mendapat perhatian lebih serius dari dunia kedokteran gigi.

Sumber DOI : http://10.24198/jkg.v37i3.60956

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
16 Juli 2026

Racun Bakteri dari Mulut yang Mengacak-acak Sel Hati

16 Juli 2026

Racun Bakteri yang Membunuh Penjaga Imun dari Dalam

16 Juli 2026

Royal Jelly Lawan Bakteri Mematikan: Riset Kolaborasi FKG UGM dan Jepang Ungkap Potensi Baru Suplemen Lebah

id_ID