Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Ketika Uap Bensin Merusak Sel: Temuan Mengejutkan dari Pompa Bensin di Sleman

Bayangkan bekerja delapan jam sehari, berdiri di bawah terik matahari, menghirup uap bensin yang mengepul dari setiap kendaraan yang mengisi bahan bakar. Bagi puluhan ribu petugas SPBU di Indonesia, itu bukan skenario hipotetis — itu rutinitas. Yang tidak mereka sadari: setiap tarikan napas bisa membawa benzen, senyawa karsinogenik, langsung ke dalam sel-sel tubuh mereka.

Sebuah penelitian dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada mengungkap sesuatu yang mengkhawatirkan. Prof. Dr. drg. Regina TC. Tandelilin, M.Sc., PBO, bersama timnya menemukan bahwa frekuensi karyorrhexis — fragmentasi inti sel yang menjadi penanda kerusakan DNA — pada sel epitel mukosa bukal petugas SPBU di Kabupaten Sleman jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Selisihnya bukan tipis: rata-rata insiden karyorrhexis pada petugas SPBU mencapai 39,93 per 1.000 sel, sementara kelompok kontrol hanya 10,47 per 1.000 sel.

Mulut Sebagai Garis Pertahanan Pertama

Untuk memahami mengapa temuan ini penting, perlu dipahami dulu peran mukosa mulut dalam tubuh manusia. Rongga mulut bukan sekadar pintu masuk makanan dan minuman. Ia adalah benteng pertama yang berhadapan langsung dengan agen-agen berbahaya yang masuk melalui inhalasi maupun ingesti.

Sel epitel mukosa bukal — lapisan tipis yang melapisi bagian dalam pipi — bersifat non-keratinisasi, sehingga jauh lebih permeabel dibandingkan jaringan mulut lainnya seperti gingiva atau palatum. Artinya, senyawa kimia yang terserap melalui mukosa bukal bisa langsung masuk ke sirkulasi sistemik, melewati saluran pencernaan dan metabolisme hati. Inilah yang membuat sel-sel ini menjadi target utama sekaligus biomarker yang sensitif untuk mendeteksi paparan genotoksik.

Karyorrhexis sendiri adalah salah satu bentuk kelainan inti sel yang terjadi saat sel memasuki fase apoptosis — kematian sel terprogram. Inti sel yang seharusnya utuh menjadi terfragmentasi, membentuk pola berbintik padat yang bisa diidentifikasi di bawah mikroskop cahaya. Kelainan ini bukan sekadar penanda kematian sel biasa; ia merupakan sinyal bahwa ada kerusakan DNA yang cukup serius untuk memicu proses kematian sel secara paksa.

Metodologi: Sikat Kecil, Temuan Besar

Penelitian ini melibatkan 30 subjek laki-laki berusia 20 hingga 55 tahun: 15 petugas SPBU yang telah bekerja minimal satu tahun di stasiun pengisian bahan bakar di Sleman, dan 15 orang dari kalangan mahasiswa serta staf UGM sebagai kelompok kontrol tanpa riwayat paparan bensin atau zat genotoksik lainnya.

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara yang relatif sederhana namun presisi. Sel epitel bukal diambil menggunakan cytobrush — sikat kecil steril yang dilembapkan dengan larutan NaCl 0,09% — dengan cara memutar sikat setidaknya 360 derajat pada permukaan mukosa bukal. Sel-sel yang terkelupas kemudian dioleskan ke kaca preparat, difiksasi dalam larutan etanol 95%, lalu diwarnai menggunakan metode Papanicolaou (PAP). Setiap preparat diperiksa di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 1.000 kali menggunakan minyak imersi, dan minimal 1.000 sel dihitung per preparat.

Hasilnya dianalisis menggunakan uji T independen dengan nilai signifikansi p < 0,05. Perbedaan yang ditemukan sangat meyakinkan secara statistik, dengan nilai p = 0,000 — jauh melampaui ambang signifikansi yang ditetapkan.

Benzen, Waktu, dan Risiko yang Menumpuk

Yang memperkuat temuan ini adalah pola yang konsisten: petugas yang bekerja lebih dari 10 tahun menunjukkan insiden karyorrhexis rata-rata 45 hingga 57 per 1.000 sel, sementara mereka yang bekerja kurang dari 10 tahun berkisar antara 31 hingga 43 per 1.000 sel. Semakin lama paparan, semakin tinggi kerusakan yang terekam di sel-sel mukosa mereka.

Benzen, komponen utama dalam uap bensin, telah lama diklasifikasikan oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) sebagai karsinogen kelompok I — paling berbahaya bagi manusia. Metabolit reaktif benzen seperti fenol, katekol, dan hidrokuinon mampu mengikat dan merusak makromolekul termasuk DNA. Proses ini juga memicu produksi reactive oxygen species (ROS) yang memperparah kerusakan DNA. Dalam jangka panjang, paparan berulang terhadap senyawa sitotoksik seperti ini dapat menyebabkan proliferasi sel kompensatoris yang berujung pada transformasi malignan.

Ironisnya, saat tim peneliti melakukan observasi lapangan, sebagian besar petugas SPBU tidak menggunakan alat pelindung diri sama sekali — tidak ada masker, tidak ada sarung tangan. Mereka menghirup langsung uap bensin setiap kali mengisi tangki kendaraan. Di negara tropis seperti Indonesia, risiko ini bahkan lebih tinggi karena bensin lebih mudah menguap dalam kondisi suhu dan kelembapan tinggi.

“Penelitian ini mengindikasikan peningkatan insiden karyorrhexis pada sel epitel mukosa bukal yang terkelupas akibat paparan berulang terhadap benzen.” — Prof. Dr. drg. Regina TC. Tandelilin, M.Sc., PBO, Departemen Biologi Oral FKG UGM

Sinyal Dini yang Tidak Boleh Diabaikan

Penelitian ini bukan sekadar laporan akademik. Ia menyentuh sebuah kenyataan yang kerap luput dari perhatian: bahwa risiko kesehatan kerja di sektor informal — termasuk petugas SPBU — sering kali tidak termonitor dengan baik. Tidak ada pemeriksaan berkala, tidak ada protokol perlindungan yang ketat, dan tidak ada kesadaran memadai dari para pekerja itu sendiri tentang bahaya yang mereka hadapi setiap hari.

Teknik sitologi eksfoliatif yang digunakan dalam penelitian ini menawarkan solusi yang menjanjikan: noninvasif, relatif murah, dan cukup sensitif untuk mendeteksi perubahan sitogeenetik sejak dini. Sel mukosa bukal bisa menjadi jendela untuk melihat kondisi kesehatan seseorang jauh sebelum gejala klinis muncul.

Fragmentasi inti sel yang terdeteksi di bawah mikroskop itu mungkin tampak kecil dan tidak kasat mata. Tapi bagi para petugas yang setiap hari berdiri di antara deru mesin dan kepulan uap bensin, sinyal kecil itu bisa menjadi peringatan paling awal — dan paling berharga — yang pernah mereka terima.

Sumber DOI : DOI: 10.1016/0027-5107(92)90071-9.

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
16 Juli 2026

Mahasiswa Dental Summer Course 2026 Paparkan Sikat Gigi dari Limbah Sekam Padi

16 Juli 2026

Tumor Langka di Rahang: CBCT Ungkap Sementoblastoma Tahap Awal yang Nyaris Terlewat

16 Juli 2026

Akar yang Kembali Tumbuh: Revaskularisasi Selamatkan Gigi Molar Anak 12 Tahun

id_ID