Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Dukung Kedokteran Gigi Minim Invasi, Ini Dia Cara Optimal Perbaiki Tambalan Gigi

Dosen sekaligus peneliti dari Departemen Ilmu Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM), drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG(K)., Ph.D., bersama tim peneliti dari UGM dan Universitas Groningen Belanda, berhasil menemukan solusi ilmiah atas dilema klinis yang kerap dihadapi para praktisi dokter gigi. Riset kolaboratif ini membuktikan bahwa prosedur perbaikan (relayering) pada tambalan resin komposit yang mulai rusak dapat berhasil dengan sangat kuat, asalkan metode persiapan permukaannya dilakukan dengan tepat menggunakan teknik pelapisan silika (silica coating).

Temuan komprehensif yang telah sukses dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi, Clinical Oral Investigations, memberikan jawaban tegas untuk meminimalkan tindakan pembongkaran tambalan gigi secara total. Eksperimen ini menjadi kontribusi penting dalam mendukung filosofi kedokteran gigi modern yang mengutamakan perlindungan terhadap jaringan asli gigi yang masih sehat (minimally invasive dentistry), demi meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan mulut masyarakat.

Selama ini, ketika tambalan resin komposit pasien mengalami penuaan dan mulai menunjukkan kerusakan di dalam rongga mulut, seperti perubahan warna, kebocoran tepi, keausan, hingga retak, prosedur yang paling umum dilakukan adalah mengganti tambalan secara keseluruhan. Padahal, sebagian besar tambalan yang diganti sebenarnya masih dalam kondisi baik secara klinis. Tindakan penggantian total tersebut memaksa dokter gigi untuk mengasah kembali jaringan gigi yang sehat, yang secara jangka panjang dapat melemahkan struktur kokoh gigi serta berisiko mencederai pulpa, yaitu jaringan hidup di dalam gigi.

Sebagai solusi yang lebih konservatif, perbaikan tambalan dengan menambahkan lapisan baru di atas tambalan lama (relayering) menjadi alternatif terbaik. Namun, efektivitas metode ini sempat diperdebatkan karena kekuatan ikatan antara tambalan lama yang sudah menua dengan material baru cenderung menurun drastis, antara 25 hingga 80 persen dibanding tambalan yang belum menua. Guna memecahkan masalah tersebut, drg. Margareta Rinastiti dan tim melakukan eksperimen laboratorium untuk menguji empat jenis resin komposit yang umum digunakan dengan mensimulasikan kondisi penuaan di dunia nyata melalui fluktuasi suhu (thermocycling), perendaman air suhu tubuh, dan paparan asam sitrat.

Setelah melalui proses penuaan buatan, dua metode persiapan permukaan diterapkan sebelum material baru ditempelkan. Pertama, aplikasi resin adhesif perantara atau intermediate adhesive resin (IAR). Kedua, metode yang lebih kompleks yaitu pelapisan silika tribokimia menggunakan partikel alumina berukuran 30 mikrometer yang dilapisi silika, dilanjutkan dengan aplikasi silane dan kemudian resin adhesif perantara, yang disebut metode SC (silica coating).

Hasil penelitian memperlihatkan pola yang konsisten namun tidak sesederhana yang diharapkan. Secara umum, metode SC menghasilkan kekuatan ikatan yang lebih tinggi dibanding IAR, terutama setelah penuaan akibat perendaman air. Pada kondisi tersebut, tiga dari empat jenis komposit bahkan mencapai kekuatan ikatan yang melampaui kontrol tanpa penuaan, suatu hasil yang tidak diduga sebelumnya.

“SC-application led to higher bond strengths than IAR-application after thermocycling and water storage. In addition, SC-application led to more cohesive failures than after IAR-application, regardless the aging method.” Rinastiti et al., Clinical Oral Investigations, 2011

Lebih dari sekadar angka kekuatan ikatan, signifikansi riset ini terlihat dari analisis pola kegagalannya di bawah mikroskop. Metode SC terbukti menghasilkan kegagalan kohesif, artinya bagian yang patah saat diuji tekanan bukanlah ikatan lem antarmuka antara tambalan lama dan baru, melainkan material tambalan itu sendiri. Ini menjadi indikator sahih bahwa ikatan yang dibentuk oleh metode silika justru lebih kuat dari material komposit di bawahnya. Sebaliknya, metode lem biasa (IAR) lebih sering menghasilkan kegagalan adhesif, yaitu lepasnya ikatan tepat di antarmuka tambalan lama dan baru, tanda bahwa ikatan tersebut menjadi titik lemah.

Meski demikian, peneliti memberikan catatan bahwa setelah penuaan akibat thermocycling dan perendaman asam sitrat yang agresif, bahkan metode SC pun tidak mampu memulihkan kekuatan ikatan ke level awal. Permukaan yang terlalu terdegradasi oleh fluktuasi suhu ekstrem dan serangan asam membuat partikel silika sulit menempel karena permukaan sudah didominasi partikel pengisi yang terekspos, bukan matriks resin yang lunak.

Secara klinis, temuan ini memiliki makna praktis yang langsung bisa diterapkan di klinik gigi. Hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah yang lebih kuat untuk memilih kapan dan bagaimana perbaikan dilakukan secara presisi. Bagi tambalan yang mengalami degradasi ringan hingga sedang, misalnya akibat paparan air dan saliva jangka panjang, metode SC layak menjadi pilihan utama karena secara konsisten terbukti lebih andal, meskipun prosedurnya lebih panjang dibanding pengolesan resin adhesif biasa. Sementara untuk tambalan yang sudah mengalami kerusakan berat akibat tekanan termal atau paparan asam berkepanjangan, pertimbangan untuk penggantian total mungkin tetap diperlukan.

Melalui data sains yang valid ini, UGM terus mendorong hilirisasi riset yang menghormati struktur biologis tubuh pasien. Setiap milimeter jaringan gigi yang bisa diselamatkan lewat keputusan klinis yang tepat adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan gigi pasien. Penelitian dari drg. Margareta Rinastiti dan tim ini mengingatkan kembali bahwa keberhasilan perawatan gigi tidak hanya diukur dari aspek kecepatan atau kemudahan prosedur, melainkan tentang bagaimana memilih pendekatan medis yang paling menghormati gigi itu sendiri.

Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti

Foto : FreePik

Sumber DOI : https://doi.org/10.1007/s00784-010-0426-6

https://doi.org/10.1007/s00784-010-0426-6

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
17 Juli 2026

Literasi Kesehatan Gigi Rendah, Gusi Pun Meradang: Temuan Peneliti FKG UGM pada Lansia Yogyakarta

17 Juli 2026

Filtrat Bawang Putih Ungguli Kalsium Hidroksida: Temuan dari Saluran Akar Gigi Susu

17 Juli 2026

Saat Komputer Belajar Membaca Rongga Mulut: Kecerdasan Buatan di Balik Kursi Gigi

id_ID