Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Lidah Buaya Melawan Bakteri Berbahaya di Kursi Dokter Gigi: Temuan dari Laboratorium FKG UGM

Setiap kali seseorang duduk di kursi perawatan gigi, ada risiko kecil yang jarang dipikirkan: air yang mengalir dari alat-alat seperti handpiece berkecepatan tinggi dan syringe mungkin membawa bakteri berbahaya. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah Pseudomonas aeruginosa, bakteri oportunistik yang dikenal lihai membentuk lapisan pelindung diri di dalam pipa saluran air unit gigi (dental unit waterline). Kini, peneliti dari Departemen Biologi Oral FKG Universitas Gadjah Mada menemukan bahwa tanaman yang tumbuh di pekarangan rumah, lidah buaya, bisa menjadi senjata alami untuk melumpuhkan kemampuan bakteri itu melekat.

Ketika Pipa Air Jadi Sarang Bakteri

Dental unit waterline (DUWL) adalah jaringan selang tipis di dalam dental chair unit yang mengalirkan air untuk mendinginkan dan mengirigasi gigi selama perawatan. Masalahnya, selang-selang sempit ini adalah habitat ideal bagi koloni bakteri. Penelitian di berbagai negara maju mencatat kontaminasi P. aeruginosa dalam air unit gigi berkisar antara 60 hingga 89 persen, sementara di India angkanya mencapai 68 hingga 82 persen.

Bagi pasien dengan imunitas normal, paparan ini mungkin tidak menimbulkan masalah besar. Tapi bagi pasien lanjut usia, penderita HIV, pasien kanker, atau diabetesi, air yang terkontaminasi bisa memicu infeksi nosokomial yang serius. P. aeruginosa punya sifat invasif dan toksigenik yang membuatnya cukup ditakuti di lingkungan klinis.

Kunci kemampuan bakteri ini untuk bertahan dan menyebar terletak pada satu sifat fisikokimiawi: hidrofobisitas. Sederhananya, permukaan sel bakteri yang bersifat hidrofobik lebih mudah menempel pada berbagai permukaan, termasuk jaringan tubuh manusia. Semakin tinggi hidrofobisitas, semakin kuat daya lekat bakteri, dan semakin besar pula potensi infeksinya.

Lidah Buaya di Bawah Mikroskop

Prof. drg. Tetiana Haniastuti, M.Kes., Ph.D bersama tim peneliti dari FKG UGM memilih pendekatan yang sederhana namun metodis: menguji apakah ekstrak lidah buaya (Aloe vera) mampu menurunkan hidrofobisitas P. aeruginosa ATCC 10145. Penelitian ini dipublikasikan dalam Majalah Kedokteran Gigi Klinik (MKGK) UGM edisi Agustus 2022.

Lidah buaya dipilih bukan tanpa alasan. Tanaman dari famili Liliaceae ini mengandung empat senyawa aktif yang sudah lama dikenal sebagai agen antibakteri: tanin, flavonoid, saponin, dan terpenoid. Masing-masing bekerja dengan cara berbeda untuk merusak struktur membran sel bakteri.

Dalam penelitian laboratoris ini, ekstrak dibuat dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%, lalu diencerkan menjadi tiga konsentrasi: 8,5%, 17%, dan 34%. Bakteri yang telah terpapar ekstrak kemudian dideposit ke membran filter selulosa asetat, dan hidrofobisitasnya diukur melalui drop-profile analysis, yakni menganalisis sudut kontak yang terbentuk saat setetes akuades jatuh di atas permukaan membran tersebut. Sudut kontak yang besar menandakan permukaan hidrofobik tinggi; sudut yang kecil berarti hidrofobisitas rendah.

Angka yang Bicara

Hasilnya cukup tegas. Kelompok kontrol negatif, yang hanya diberi akuades tanpa ekstrak, membentuk sudut kontak sebesar 79,6°. Angka ini turun menjadi 60,5° pada konsentrasi 8,5%, lalu 47,8° pada 17%, dan mencapai titik terendah di 38,7° pada konsentrasi 34%.

“Penurunan hidrofobisitas pada bakteri P. aeruginosa ATCC 10145 berbanding lurus dengan semakin tingginya konsentrasi ekstrak lidah buaya yang digunakan.”

Uji statistik One-way ANOVA mengonfirmasi bahwa perbedaan antar kelompok signifikan secara statistik (p < 0,05). Uji lanjutan LSD (Least Significant Difference) menunjukkan konsentrasi 34% sebagai yang paling efektif.

Mekanisme di balik penurunan ini sudah cukup dipahami. Tanin berinteraksi dengan protein dan lipid membran sel, mengubah permeabilitasnya hingga ion dan makromolekul bocor keluar. Flavonoid mengubah struktur tersier protein permukaan bakteri sehingga sifat hidrofobiknya hilang. Saponin merusak membran dari luar dengan meningkatkan permeabilitas, sementara terpenoid menghancurkan porin, yaitu protein transpor yang ada di membran luar dinding sel bakteri.

Potensi Besar, Tapi Masih Ada Pekerjaan Rumah

Temuan ini membuka peluang menarik: ekstrak lidah buaya berpotensi dikembangkan sebagai antiseptik alternatif untuk dekontaminasi dental unit waterline. Sebuah solusi yang relatif murah, mudah didapat, dan berbasis bahan alam.

Namun para peneliti juga jujur soal batasannya. Penelitian ini baru dilakukan secara in vitro, di dalam kondisi laboratorium yang terkontrol. Tingkat toksisitas ekstrak lidah buaya pada konsentrasi 34% belum diketahui, dan konsentrasi optimum yang benar-benar aman bagi pasien maupun lingkungan klinis masih perlu dikaji lebih jauh.

Pertanyaan berikutnya yang perlu dijawab bukan hanya soal efektivitas, tapi juga soal keamanan dan kepraktisan penggunaan di klinik gigi sesungguhnya. Dari pekarangan rumah ke ruang perawatan, perjalanan lidah buaya sebagai agen pencegah infeksi tampaknya baru saja dimulai.

Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.identj.2024.07.1059

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
16 Juli 2026

Riwayat Karies Anak Empat Kali Lebih Berisiko Terulang, Ibu Jadi Penentu Utama

16 Juli 2026

Cangkok Tulang dari Kulit Udang: Peneliti FKG UGM Uji Material Baru untuk Regenerasi Tulang

16 Juli 2026

Tulang Ikan Tuna Jadi Bahan Perawatan Gigi: Harapan Baru dari Laut Indonesia

id_ID