Ukuran gigi susu anak-anak Jawa modern ternyata menyimpan cerita panjang tentang perjalanan evolusi manusia. Sebuah studi yang terbit di Archives of Oral Biology (2022) mengungkap bahwa total luas mahkota gigi desidui anak-anak Melayu Jawa dari Yogyakarta hanya 484,7 mm² — jauh lebih kecil dibandingkan leluhur prasejarah mereka dari Mehrgarh, Pakistan, yang hidup sekitar 8.450 tahun silam dengan total luas mahkota mencapai 535,3 mm². Temuan ini bukan sekadar angka. Di balik selisih 50 mm² itu tersimpan rekam jejak bagaimana manusia Asia berubah seiring waktu, diet, dan teknologi pengolahan makanan.
Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi antara John R. Lukacs dari Department of Anthropology, University of Oregon, dan Prof. drg. Sri Kuswandari, MS., Sp.KGA., Ph.D. dari Departemen Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Data primer dikumpulkan dari 142 anak Yogyakarta — 81 laki-laki dan 61 perempuan, usia rata-rata 5,2 tahun — melalui cetakan gigi yang dibuat Prof. Sri Kuswandari pada 2001 hingga 2002.
Yogyakarta sebagai Laboratorium Odontometri Asia Tenggara
Selama puluhan tahun, data dimensi mahkota gigi desidui untuk kawasan Asia Tenggara kepulauan nyaris tidak ada. Asia Timur relatif terdokumentasi dengan baik: Jepang prasejarah dan modern, Taiwan, hingga China Neolitik sudah punya data. Asia Selatan pun demikian. Tapi Indonesia? Hampir kosong.
Studi ini mengisi kekosongan itu. Dengan kaliper digital Mitutoyo yang dikalibrasi hingga 0,05 mm, tim peneliti mengukur dimensi mesiodistal (MD) dan bukolingual (BL) seluruh 10 tipe gigi desidui — dari insisivus pertama atas hingga molar kedua bawah. Pengukuran MD dilakukan oleh Prof. Sri Kuswandari, sementara dimensi BL diukur oleh Lukacs, masing-masing dua kali per spesimen untuk meminimalkan kesalahan pengukuran.
Hasilnya menunjukkan bahwa sampel Melayu Jawa paling mirip dengan Jepang modern (486,3 mm²) dan lebih besar dari Hindu Gujarat, India (476,4 mm²). Posisi ini konsisten ketika diplot dalam grafik regresi yang membandingkan luas mahkota total dengan rentang waktu ribuan tahun: anak-anak Yogyakarta berada tepat di atas garis regresi, berdampingan dengan Jepang modern, jauh di bawah sampel-sampel prasejarah.
Semakin Tua Zamannya, Semakin Besar Giginya
Pola yang muncul dari analisis temporal ini cukup mencolok. Korelasi Pearson antara luas mahkota total dan waktu menghasilkan r = -0,789 (p = 0,004), artinya ada hubungan negatif yang signifikan: semakin jauh ke masa lalu, semakin besar ukuran gigi. Laju penyusutan diperkirakan sekitar 4,69 mm² per milenium.
Tren ini paralel dengan apa yang sudah diketahui pada gigi permanen — bahwa pergeseran dari gaya hidup berburu-meramu ke pertanian, lalu ke pengolahan makanan yang semakin halus, berangsur-angsur mengurangi tekanan fungsional pada gigi. Gigi tidak perlu besar lagi ketika makanan sudah dimasak lunak, digiling, atau difermentasi.
“Perspektif antropologis tentang ukuran gigi dalam kaitannya dengan diet, subsistensi, dan teknologi pengolahan makanan adalah fokus penelitian yang selama ini terabaikan, namun berpotensi mengungkap variasi pola reduksi gigi desidui di berbagai penjuru dunia dan sepanjang rentang waktu prasejarah.”
Kutipan dari paper ini mengingatkan bahwa gigi susu bukan sekadar “gigi sementara” yang tidak perlu diperhatikan secara ilmiah. Justru di sinilah terletak peluang besar: gigi desidui menyimpan sinyal evolusi yang belum banyak dieksplorasi.
Dimorfisme Seksual yang Rendah, Tantangan Identifikasi Forensik
Salah satu temuan paling relevan secara klinis dan forensik adalah tingkat dimorfisme seksual yang rendah pada sampel Melayu Jawa. Rata-rata perbedaan ukuran mahkota antara laki-laki dan perempuan hanya 1,07% — lebih rendah dari rata-rata Asia (sekitar 1,78%) dan jauh di bawah Taiwan (3,50% untuk dimensi MD).
Artinya, membedakan jenis kelamin anak berdasarkan ukuran gigi desidui pada populasi Jawa jauh lebih sulit dibandingkan populasi lain. Ini punya implikasi langsung dalam konteks forensik dan arkeologi, di mana penentuan jenis kelamin individu sub-dewasa sering bergantung pada analisis odontometri.
Pola dimorfisme pun tidak konsisten. Pada dimensi MD, gigi paling dimorfik adalah molar pertama atas (udm1) dan kaninus bawah (ldc). Pada dimensi BL, justru kaninus atas (udc) yang paling menonjol. Pola yang bergeser-geser antara gigi, rahang, dan dimensi ini berbeda dengan gigi permanen, di mana kaninus rahang atas dan bawah secara konsisten menjadi gigi paling dimorfik di hampir semua populasi dunia.
Warisan Data yang Akan Terus Dipakai
Cetakan gigi yang dibuat Prof. drg. Sri Kuswandari, MS., Sp.KGA., Ph.D. lebih dari dua dekade lalu kini telah menghasilkan dua publikasi besar di jurnal internasional bereputasi, dan membuka jalan bagi penelitian lanjutan yang selama ini mustahil dilakukan karena tidak adanya data dasar untuk Asia Tenggara kepulauan.
Para peneliti menutup studi ini dengan rekomendasi yang terasa sederhana tapi penting: dokumentasi gigi desidui seharusnya selalu menyertakan dimensi bukolingual, bukan hanya mesiodistal. Tanpa BL, luas penampang mahkota tidak bisa dihitung, dan tanpa luas mahkota, perbandingan lintas populasi dan lintas zaman menjadi tidak mungkin.
Gigi susu anak Yogyakarta, yang tampak biasa di mulut anak-anak taman kanak-kanak, ternyata menyimpan posisi unik dalam peta evolusi manusia Asia. Kecil ukurannya, besar maknanya.
Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.archoralbio.2022.105481
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels