Gigi yang berlubang bukan sekadar masalah estetika. Sebuah penelitian dari Universitas Gadjah Mada membuktikan secara kuantitatif bahwa semakin luas ukuran kavitas (lubang pada gigi akibat karies atau preparasi), semakin tinggi tekanan mekanis yang harus ditanggung struktur gigi yang tersisa dan semakin besar pula risiko gigi itu patah. Penelitian ini dipimpin oleh drg. Andina Widyastuti, Sp.KG(K) bersama tim dari Fakultas Kedokteran Gigi dan Fakultas Teknik UGM, diterbitkan dalam Journal of Conservative Dentistry and Endodontics edisi Februari 2026. Hasilnya memberikan bukti ilmiah kuat untuk sesuatu yang selama ini hanya dipegang sebagai prinsip klinis: lebih sedikit gigi yang dibuang, lebih aman gigi itu ke depannya.
Untuk itu, tim peneliti tidak mengebor gigi sungguhan di laboratorium, melainkan membangun replika digital tiga dimensi dari gigi geraham bawah pertama yang diperoleh dari hasil pemindaian micro-computed tomography (micro-CT). Teknologi ini memotret struktur internal gigi dengan resolusi tinggi, memungkinkan peneliti membedakan lapisan enamel dan dentin secara akurat.
Dari data pemindaian, tiga model gigi dibuat: gigi utuh tanpa lubang, gigi dengan kavitas konservatif (lubang kecil berukuran tinggi 2 mm dan diameter 2 mm), serta gigi dengan kavitas ekstensif (lubang besar berukuran tinggi 3 mm dan diameter 4 mm). Ketiganya kemudian diuji dengan metode finite element analysis (FEA), yakni simulasi komputer yang memecah struktur padat menjadi ribuan elemen kecil untuk menghitung bagaimana gaya tersebar di setiap titiknya.
Beban oklusal sebesar 565 Newton, setara tekanan saat mengunyah makanan keras diberikan pada permukaan kunyah setiap model. Simulasi diulang 18 kali untuk memastikan konsistensi hasil. Hasil simulasi mengungkap pola yang jelas dan konsisten. Gigi utuh menanggung tekanan maksimum sebesar 96,2 MPa (megapascal). Begitu dibuat kavitas konservatif, angka itu langsung melompat ke 165,7 MPa. Pada kavitas ekstensif, tekanannya mencapai 185,3 MPa. Hampir dua kali lipat dibandingkan gigi yang masih utuh.
Yang menarik, efeknya tidak hanya soal tekanan yang meningkat. Kelenturan gigi justru menurun seiring membesarnya kavitas. Gigi utuh memiliki nilai regangan (strain) tertinggi sebesar 0,0075, sedangkan gigi dengan kavitas konservatif dan ekstensif masing-masing hanya 0,0060 dan 0,0062. Ini berarti gigi berlubang lebih kaku di tingkat keseluruhan, namun pada titik-titik tertentu di tepi kavitas, tekanan justru terkonsentrasi secara ekstrem.
“Preparasi kavitas menciptakan efek stress riser, tekanan yang semula mengalir mulus melalui jaringan gigi terpaksa berbelok tajam di sekitar sudut kavitas, sehingga terjadi penumpukan tekanan lokal yang intens di dinding dalam kavitas.”
Fenomena ini menjelaskan mengapa area di tepi kavitas menjadi titik paling rentan untuk retak, meskipun secara kasat mata tidak terlihat berbeda.
Temuan lain yang menonjol dari penelitian ini adalah identifikasi tonjolan lingual (tonjol di sisi lidah) sebagai area paling rawan kerusakan pada gigi geraham bawah. Pada semua model, baik gigi utuh maupun yang berlubang, deformasi total dan konsentrasi regangan tertinggi secara konsisten ditemukan di regio linguo-servikal, yaitu pertemuan antara mahkota dan akar di sisi lidah.
Secara anatomis, tonjol lingual memang lebih kecil, sudut kemiringannya lebih rendah, dan lapisan enamnya lebih tipis dibandingkan tonjol bukal. Ketika beban kunyah diterima tonjol bukal, fleksi mahkota gigi menghasilkan tegangan tarik (tensile stress) yang merambat ke sisi linguo-servikal. Dentin, sebagai jaringan utama di area ini, sangat rentan terhadap tegangan tarik. Data dari literatur pun menyebutkan bahwa fraktur tonjol lingual terjadi dua kali lebih sering dibandingkan fraktur tonjol bukal.
Implikasi klinisnya langsung, dokter gigi tidak boleh hanya melindungi tonjol bukal saat merestorasi gigi geraham, tapi harus memberi perhatian setara pada tonjol lingual yang justru lebih rapuh. Penelitian ini memberi landasan kuantitatif bagi prinsip minimally invasive dentistry, pendekatan yang mendorong dokter gigi untuk membuang sesedikit mungkin jaringan gigi sehat saat membersihkan karies dan membuat tambalan. Selisih tekanan antara kavitas konservatif dan ekstensif memang “hanya” sekitar 20 MPa. Tapi dalam skala biomekanikal gigi yang menahan ribuan siklus kunyah setiap hari selama bertahun-tahun, perbedaan itu bisa berarti selisih antara tambalan yang bertahan lama dan gigi yang suatu hari retak tanpa peringatan.
Penelitian ini juga didukung oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI, serta melibatkan kolaborasi lintas fakultas antara FKG UGM, Fakultas Teknik UGM, dan Laboratorium Micro-CT Institut Teknologi Bandung. Sebuah pengingat bahwa pertanyaan sederhana “seberapa bahaya lubang gigi?” ternyata membutuhkan kerja sama insinyur, dokter gigi, dan mesin pemindai canggih untuk dijawab dengan benar.
Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti
Foto : FreePik
Sumber DOI : https://doi.org/10.4103/JCDE.JCDE_991_25