Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Teh Hijau Terbukti Redakan Peradangan Pulpa Setelah Bleaching Gigi

Peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada yang dipimpin oleh Dr. drg. Yulita Kristanti, M.Kes., Sp.KG(K), bersama Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., Dr. drg. Raphael Tri Endra Untara, M.Kes., Sp.KG(K), drg. Pribadi Santosa, M.S., Sp.KG., dan drg. Iffah Mardhiyah, M.Biomed menemukan bahwa ekstrak teh hijau (Camellia sinensis) konsentrasi 10% secara signifikan menurunkan ekspresi COX-2, penanda inflamasi pada jaringan pulpa gigi tikus Wistar yang sebelumnya dipapar bahan pemutih hidrogen peroksida 40%. Hasil penelitian ini dipublikasikan di Journal of International Dental and Medical Research edisi 2025, menunjukkan bahwa bahan alami yang selama ini akrab di dapur bisa jadi pelindung bagi pulpa gigi dari efek samping prosedur bleaching klinis.

Prosedur pemutihan gigi atau bleaching ekstrakoronal sudah lama menjadi pilihan pasien yang menginginkan senyum lebih cerah. Hidrogen peroksida 40% adalah agen pemutih yang umum digunakan di klinik karena kemampuannya memecah ikatan rangkap pada kromofor, zat pemberi warna pada gigi, sehingga warna gigi menjadi lebih terang.

Namun, ada harga yang harus dibayar. Molekul hidrogen peroksida berbobot sangat ringan, hanya 34 Dalton, sehingga mampu menembus email dan tubulus dentin hingga mencapai ruang pulpa. Sesampainya di sana, senyawa ini menghasilkan radikal bebas seperti radikal hidroksil dan anion superoksida yang bisa merusak DNA sel, mengganggu metabolisme sel, bahkan memicu nekrosis pulpa jika tidak ditangani. Salah satu penanda paling jelas dari respons peradangan ini adalah meningkatnya ekspresi enzim COX-2 (Cyclooxygenase-2), enzim yang berperan dalam sintesis prostaglandin, senyawa yang memicu rasa nyeri dan peradangan lebih lanjut.

Teh hijau sudah lama dikenal kaya polifenol, khususnya katekin. Senyawa paling aktif di antaranya adalah epigallocatechin gallate (EGCG), antioksidan utama dalam daun teh yang bekerja dengan cara menyumbangkan elektron kepada radikal bebas sehingga radikal tersebut menjadi stabil dan tidak lagi merusak sel.

Dalam penelitian ini, tim menggunakan 15 gigi molar tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok. Setelah seluruh gigi mendapatkan perlakuan bleaching dengan hidrogen peroksida 40%, kelompok pertama hanya dibilas dengan air suling hangat sebagai kontrol, kelompok kedua mendapat gel teh hijau 5%, dan kelompok ketiga mendapat gel teh hijau 10%. Satu hari setelah perlakuan, jaringan pulpa gigi diperiksa menggunakan pewarnaan imunohistokimia (IHC) untuk mengukur ekspresi COX-2.

Alasan tim memilih bentuk gel, bukan cairan, juga disengaja. Gel memungkinkan kontak antara bahan aktif dengan permukaan gigi berlangsung lebih lama dibanding larutan biasa, sehingga efeknya pada jaringan pulpa lebih optimal dalam konteks klinis.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa gel teh hijau 10% dapat mengurangi ekspresi COX-2 secara signifikan setelah bleaching ekstrakoronal dengan hidrogen peroksida 40%.” Dr. drg. Yulita Kristanti, M.Kes., Sp.KG(K), Departemen Ilmu Konservasi Gigi FKG UGM

Hasil analisis Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik antara ketiga kelompok (p=0,00). Uji Mann-Whitney yang dilakukan untuk membandingkan antar kelompok secara berpasangan juga memperlihatkan perbedaan signifikan, artinya bukan kebetulan.

Kelompok kontrol yang hanya dibilas air suling menunjukkan ekspresi COX-2 paling kuat, dikategorikan sebagai strong positive. Ini selaras dengan fakta bahwa tanpa antioksidan, residu hidrogen peroksida tetap tertinggal di dalam tubulus dentin dan terus memicu peradangan. Kelompok gel teh hijau 5% menunjukkan ekspresi positif yang lebih rendah, sedangkan kelompok gel teh hijau 10% mencatat ekspresi paling rendah, masuk kategori weak positive.

Pola ini memperkuat mekanisme yang sudah dipahami sebelumnya: EGCG dalam konsentrasi lebih tinggi menghambat aktivasi NF-κB, jalur molekuler utama yang mendorong produksi sitokin proinflamasi seperti IL-6 dan enzim COX-2 oleh sel-sel imun seperti makrofag dan monosit. Dengan kata lain, semakin tinggi konsentrasi teh hijau yang diberikan, semakin besar hambatan terhadap kaskade peradangan pascableaching.

Penelitian ini didukung oleh hibah dari FKG UGM (Nomor Kontrak Riset: 3901/UNI/KG/Set.KG/LT/2024) dan telah mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik FKG UGM-RSGM Prof. Soedomo dengan nomor No.35/UN1/KEP/FKG-RSGM/EC/2023

Temuan ini bukan sekadar menambah deretan data laboratorium. Implikasinya cukup konkret, gel antioksidan berbasis teh hijau berpotensi diintegrasikan ke dalam protokol bleaching klinis sebagai langkah perlindungan pulpa pascaprosedur. Bagi jutaan pasien yang setiap tahun menjalani pemutihan gigi di klinik, perlindungan semacam ini bisa berarti perbedaan antara prosedur yang nyaman dan prosedur yang berakhir dengan rasa nyeri berkepanjangan atau komplikasi pulpa.Tentu, jalan dari bench ke kursi pasien masih panjang. Uji klinis pada manusia dengan skala lebih besar masih diperlukan. Tapi untuk saat ini, secangkir teh hijau tampaknya menyimpan lebih banyak manfaat dari yang kita duga

Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti

Foto : FreePik

Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.dentre.2022.100055

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
15 Juli 2026

Nano Kalsium dan Vitamin D Percepat Erupsi Gigi Tikus Sejak dalam Kandungan

15 Juli 2026

Pasta Gigi Fluorida Terbukti Pulihkan Permukaan Email Gigi Pasca Bleaching

15 Juli 2026

Kawat, Sekrup, dan Wajah yang Kembali Simetris: Teknik Baru Penanganan Fraktur ZMC dari FKG UGM

id_ID