Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Pasta Gigi dari Daun Teh: Ketika Minuman Sehari-hari Melawan Plak Gigi

Bayangkan bahan yang selama ini diseduh di cangkir setiap pagi ternyata bisa bekerja di dalam pasta gigi, melawan lapisan bakteri yang menempel di permukaan gigi. Itulah yang diteliti oleh Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, dari Bagian Biologi Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada — dan hasilnya mengejutkan.

Penelitian yang dipublikasikan di Dentika Dental Journal (2009) ini membuktikan bahwa pasta gigi berbahan ekstrak etanolik daun teh segar konsentrasi 2% mampu menurunkan indeks plak gigi secara bermakna. Bukan hanya itu, pasta teh terbukti lebih efektif dibandingkan pasta gigi yang mengandung senyawa murni Epigallocatechin gallate (EGCG) — komponen paling poten dari polifenol teh hijau (Camellia sinensis).

Plak Gigi, Musuh yang Tak Terlihat

Plak gigi bukan sekadar kotoran biasa. Ia adalah lapisan bakteri hidup yang menempel pada permukaan gigi, tidak berwarna saat tipis, dan hanya tampak dengan bahan disklosing. Lebih dari 300 spesies bakteri diperkirakan menghuni rongga mulut manusia, dan sebagian di antaranya menjadi biang keladi karies serta gingivitis.

Pengendalian plak bisa dilakukan secara mekanis melalui sikat gigi, maupun secara kimiawi melalui obat kumur dan bahan aktif dalam pasta gigi. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pasta gigi secara teratur mampu mereduksi karies hingga lebih dari 57%. Pertanyaannya: bahan aktif apa yang paling efektif?

Di sinilah teh hijau masuk ke dalam perhitungan. Kandungan polifenol daun teh mencapai sekitar 30% dari berat kering daun, dan komponen terbesarnya adalah catechin — senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans, bakteri utama penyebab karies.

Tiga Puluh Tiga Anak, Dua Puluh Satu Hari, Tiga Jenis Pasta

Subjek penelitian adalah 45 siswi berusia 10 hingga 12 tahun dari Pondok Pesantren Putri Bin-Baz di Jalan Wonosari, Yogyakarta. Mereka dibagi ke dalam tiga kelompok berdasarkan kondisi klinis: kelompok karies aktif, kelompok gingivitis sedang, dan kelompok sehat. Masing-masing kelompok kemudian dibagi lagi menjadi tiga subkelompok berdasarkan jenis pasta yang digunakan: pasta ekstrak etanolik daun teh 2%, pasta EGCG 0,1%, dan pasta bahan dasar tanpa kandungan teh sebagai kontrol.

Selama 21 hari berturut-turut, setiap subyek menyikat gigi dua kali sehari — pagi dan malam. Indeks plak diukur menggunakan PHP Index (Podshadley dan Haley) sebelum perlakuan, lalu pada hari ke-7, ke-14, dan ke-21.

Hasilnya bicara sendiri. Pada kelompok karies, rerata skor PHP kelompok pasta teh 2% turun dari 21,40 sebelum perlakuan menjadi 6,00 pada hari ke-21. Kelompok EGCG turun dari 20,60 menjadi 10,40. Kelompok kontrol hanya turun dari 19,40 menjadi 13,60. Pola serupa terjadi pada kelompok gingivitis: pasta teh membawa skor dari 21,20 menjadi 5,40, sementara EGCG dari 21,20 menjadi 10,60. Uji ANOVA dan LSD keduanya menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik (p = 0,000).

Mengapa Teh Utuh Lebih Kuat dari Senyawa Murninya?

Hasil yang paling menarik justru ada di sini: pasta gigi ekstrak etanolik daun teh — yang mengandung campuran senyawa lengkap tanpa pemisahan — terbukti lebih efektif daripada pasta gigi EGCG yang merupakan ekstraksi satu komponen saja.

Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO menduga ada dua alasan di balik ini. Pertama, catechin dalam ekstrak utuh bekerja melalui mekanisme denaturasi protein dinding sel bakteri — merusak permeabilitas membran, menyebabkan lisis sel, hingga kematian bakteri. Kedua, dan ini yang menarik, daun teh mengandung fluor alami sekitar 0,1 hingga 0,3 mg per cangkir. Fluor ini diduga menghambat metabolisme S. mutans dengan cara memblokir kerja enzim enolase dan mengganggu translokasi gula dalam sel bakteri. Ketika senyawa ekstrak tidak dipisahkan, fluor tetap hadir dan ikut berkontribusi. Sementara pada EGCG murni hasil isolasi, kandungan fluor kemungkinan sudah tidak ada lagi.

“Kandungan ekstrak etanolik daun teh diduga lebih bermanfaat karena senyawanya tidak dipisahkan. Adanya kandungan fluor dalam teh yang diduga dapat meningkatkan peran teh dalam menurunkan indeks plak gigi.”

Mekanisme ini selaras dengan temuan penelitian in vitro lain yang menyatakan bahwa polifenol teh dapat menghambat aksi glukosiltransferase pada S. mutans — enzim yang membantu bakteri menempel pada permukaan email gigi.

Dari Kebun Teh ke Klinik: Jalan yang Masih Panjang

Penelitian ini membuka peluang nyata untuk pengembangan produk kesehatan mulut berbasis bahan alam. Namun Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO juga jujur soal tantangannya: dari 3 kilogram daun teh segar yang diekstraksi, hanya dihasilkan 215 gram ekstrak kering. Rendemen yang kecil ini menjadi hambatan praktis jika ingin diproduksi dalam skala besar.

Artinya, potensi teh sebagai bahan aktif pasta gigi memang terbukti secara klinis — tetapi efisiensi produksi masih perlu diteliti lebih lanjut sebelum bisa menjadi alternatif yang benar-benar terjangkau dan mudah diakses. Penelitian lanjutan tentang formulasi, stabilitas senyawa, dan optimalisasi proses ekstraksi menjadi langkah yang tak bisa dilewati.

Teh telah menemani meja makan masyarakat Indonesia selama berabad-abad. Kini, ia mungkin juga bisa menemani sikat gigi di kamar mandi — jika sains memberi jalannya.

Sumber DOI : –

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pixels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
15 Juli 2026

Biji Ketumbar Melawan Radang Gusi: Ketika Bumbu Dapur Menantang Standar Emas Kedokteran Gigi

15 Juli 2026

Wajah yang Bercerita: Membaca Tanda Talasemia dari Profil Lateral Anak Jawa

15 Juli 2026

Gigi yang Hampir Hilang Diselamatkan dengan Cangkok Tulang dan Material Bioaktif

id_ID