Bayangkan sebuah sel yang bergerak, mendekat, lalu menelan bakteri hidup-hidup. Itulah makrofag, salah satu garda terdepan sistem imun tubuh manusia. Dan ternyata, kemampuan “memakan” bakteri itu bisa ditingkatkan oleh senyawa yang selama ini kita kenal dari cangkir teh pagi hari.
Penelitian Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada membuktikan hal itu secara ilmiah. Dalam studinya yang dipublikasikan di Dentika Dental Journal (Vol. 17, No. 1, 2012), ia menguji apakah epigallocatechin gallate (EGCG), senyawa polifenol utama dalam daun teh (Camellia sinensis), mampu mendorong sel mononuklear untuk lebih aktif melakukan fagositosis.
Hasilnya: ya, dan signifikan secara statistik.
Senyawa Kecil dari Daun Teh yang Punya Kuasa Besar
EGCG bukan nama yang asing di dunia biokimia. Senyawa ini mendominasi komposisi daun teh, mencapai 49% dari total fraksi polifenol, jauh melampaui komponen lain seperti epicatechin gallate (ECG) sebesar 14% dan epigallocatechin (EGC) sebesar 11%. Di antara seluruh katekin yang ada dalam teh, EGCG dikenal memiliki aktivitas biologis paling kuat.
Selama ini, polifenol teh sudah diketahui punya efek antibakteri. Ekstrak teh hijau mampu membunuh Streptococcus mutans, bakteri penyebab karies gigi, pada konsentrasi 2%. Polifenol teh juga terbukti menghambat perlekatan Porphyromonas gingivalis pada sel epitelium bukal, sehingga berpotensi mencegah penyakit periodontal. Tapi pertanyaan Juni Handajani lebih jauh dari itu: apakah EGCG juga bisa memperkuat respons imun dari dalam, bukan sekadar membunuh bakteri dari luar?
Dua Puluh Tikus, Satu Pertanyaan Besar
Untuk menjawab pertanyaan itu, penelitian ini melibatkan 20 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi dua kelompok masing-masing 10 ekor. Kelompok perlakuan mendapat EGCG konsentrasi 0,1% secara oral selama 14 hari, sementara kelompok kontrol hanya mendapat aquabides.
Setelah 14 hari, sel mononuklear diisolasi dari darah tikus menggunakan metode histopaque, lalu diuji kemampuan fagositosisnya terhadap bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans, salah satu bakteri patogen periodontal yang kerap menjadi objek studi imunologi oral. Hasilnya diukur melalui Indeks Fagositosis (IF), yakni rasio jumlah bakteri yang berhasil ditelan terhadap jumlah sel mononuklear dalam sediaan.
Angka-angkanya berbicara jelas. Kelompok yang mendapat EGCG menunjukkan rata-rata IF sebesar 2,91, sementara kelompok kontrol hanya 1,49. Uji-t mengonfirmasi perbedaan ini bermakna secara statistik (p<0,05). Lebih mencolok lagi, Persentase Fagositosis (PF) mencapai 113,36%, artinya aktivitas fagositosis kelompok perlakuan lebih dari dua kali lipat dibandingkan kontrol.
“EGCG konsentrasi 0,1% dapat meningkatkan aktivitas fagositosis sel mononuklear tikus Wistar.” — Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO
Makrofag: Si Pemakan yang Ternyata Bisa Dilatih
Yang menarik dari temuan ini bukan sekadar angkanya, melainkan implikasinya terhadap pemahaman kita soal imunitas. Sel mononuklear yang diamati dalam studi ini terdiri dari makrofag dan limfosit. Namun yang punya kemampuan fagositosis aktif adalah makrofag. Satu sel makrofag dalam penelitian ini mampu menelan antara 2 hingga 12 bakteri sekaligus, sebuah rentang yang menunjukkan betapa dinamisnya kapasitas sel ini.
Makrofag bekerja bukan hanya sebagai “pemakan”. Sel ini juga memproduksi sitokin seperti IL-1β, IL-6, IL-8, dan TNF-α yang menjadi mediator penting dalam inisiasi reaksi inflamasi. Ketika EGCG masuk ke dalam sistem, ia tampaknya memodulasi jalur aktivasi ini, mendorong makrofag untuk lebih responsif terhadap ancaman bakteri.
Satu catatan penting yang diangkat dalam diskusi penelitian ini: meski EGCG terbukti efektif, efeknya kemungkinan belum maksimal karena senyawa-senyawa lain dalam daun teh sudah terpisah dalam proses ekstraksi. Ekstrak daun teh utuh, yang mengandung seluruh komponen polifenol secara sinergis, boleh jadi memberikan efek yang lebih kuat. Ini membuka pintu bagi penelitian lanjutan yang lebih komprehensif.
Dari Laboratorium ke Gelas Teh di Meja Anda
Temuan ini belum berarti dokter akan meresepkan teh sebagai imunomodulator. Namun ia menegaskan bahwa di balik minuman yang tampak sederhana itu, tersimpan potensi bioaktif yang layak diteliti lebih dalam, terutama dalam konteks kesehatan rongga mulut di mana infeksi bakteri adalah ancaman harian.
Bagi dunia kedokteran gigi, ini adalah pengingat bahwa pertahanan tubuh terhadap penyakit periodontal tidak hanya soal sikat gigi dan pasta fluoride. Ia juga soal bagaimana sel-sel imun di dalam darah kita merespons, dan apakah ada cara alami untuk membuat respons itu lebih tangguh.
Secangkir teh, rupanya, menyimpan lebih banyak cerita dari yang pernah kita bayangkan.
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik ( magnific )