Selama sepuluh tahun, seorang perempuan berusia 50 tahun membawa benjolan di langit-langit mulutnya tanpa pernah tahu dari mana asalnya. Ia merasakannya membesar perlahan, tersentuh lidah setiap kali mengunyah, namun tidak nyeri, tidak berdarah. Ketika akhirnya ia datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dokter pun belum bisa langsung memastikan apa yang tumbuh di sana.
Cerita serupa dialami pasien kedua: perempuan 48 tahun dengan benjolan kecil di mukosa bukal kiri yang muncul sekitar setahun lalu. Setiap kali mengunyah, giginya menggigit massa itu tanpa sengaja. Penyebabnya pun tidak jelas.
Dua kasus ini menjadi dasar laporan ilmiah yang dipublikasikan tim peneliti Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM di ODOVTOS-International Journal of Dental Sciences pada 2022. Tim terdiri dari Elma N. Permata-Dewi, Sarah R. Salsabila, Ardhian R. Kristiasih, Rizqan Maulana, drg. Cahya Yustisia Hasan, Sp.BM., dan Hendri Susanto, PhD.
Satu Benjolan, Banyak Kemungkinan
Dalam praktik kedokteran gigi, benjolan di rongga mulut bukan hal langka. Masalahnya, penampilan klinis lesi semacam ini bisa sangat mirip satu sama lain: lunak, bertangkai atau melebar di dasar, permukaannya halus, tidak sakit. Fibroma, papiloma skuamosa, tumor kelenjar liur, bahkan lesi reaktif lainnya bisa tampak serupa di mata telanjang.
Pada pasien pertama, dokter menemukan massa bundar berdiameter sekitar 1 cm di palatum anterior yang keras, dengan konsistensi lunak dan permukaan sedikit kasar. Diagnosis klinis awal mengarah ke fibroma, dengan diagnosis banding tumor kelenjar liur dan papiloma skuamosa. Pada pasien kedua, nodul di mukosa bukal kiri berdiameter sekitar 0,5 cm, sedikit kemerahan, lunak, dan tidak nyeri. Dugaan klinis: fibroma traumatik, dengan kemungkinan papiloma skuamosa.
Keduanya dirujuk ke klinik bedah mulut untuk eksisi sekaligus pengiriman jaringan ke laboratorium patologi.
Pisau Bedah dan Jawaban di Bawah Mikroskop
Prosedur eksisi dilakukan beberapa minggu setelah kunjungan pertama. Pada pasien pertama, tiga minggu kemudian; pada pasien kedua, empat minggu setelahnya. Luka operasi keduanya menutup sempurna dalam dua minggu pascatindakan.
Hasil pemeriksaan histopatologi menjawab pertanyaan yang selama bertahun-tahun menggantung. Pada kedua kasus, jaringan yang dieksisi menunjukkan gambaran jaringan ikat yang dilapisi epitel skuamosa kompleks monomorfus. Pada pasien pertama, stroma bersifat fibrovaskular dengan berkas kolagen, pembuluh darah yang melebar dan berproliferasi, serta ditemukan jaringan adiposa dan limfosit. Pada pasien kedua, gambaran serupa disertai infiltrasi sel inflamasi kronik seperti histiosit dan limfosit, yang mengisyaratkan adanya iritasi berulang dari gigitan gigi saat mengunyah. Tidak ditemukan tanda keganasan pada keduanya.
Diagnosis final: hiperplasia fibrosa oral, atau yang secara klinis sering disebut fibroma iritasi maupun fibroma traumatik.
“The diagnosis of a single mass in oral cavity with unidentified causes need histopathology examination to have final diagnosis.”
Kalimat penutup dari laporan ini terasa sederhana, namun menyimpan pesan yang penting bagi klinisi: penampilan luar tidak selalu cukup.
Lokasi yang Tidak Biasa, Pelajaran yang Universal
Salah satu hal menarik dari laporan ini adalah lokasi lesi pada pasien pertama. Fibroma paling sering ditemukan di mukosa bukal, sesuai dengan kasus kedua. Namun palatum anterior, seperti pada kasus pertama, merupakan lokasi yang jarang. Literatur memang mencatat beberapa kasus fibroma di palatum, tetapi tetap dianggap tidak lazim. Tidak ada prostesis gigi, tidak ada kebiasaan buruk, tidak ada sumber iritasi yang jelas yang bisa menjelaskan asal muasal lesi.
Kondisi sistemik pasien pertama, seperti hipertensi yang ditangani dengan amlodipine 10 mg, juga menjadi catatan tersendiri. Beberapa obat antihipertensi memang dikenal memiliki efek samping terhadap jaringan gingiva dan mukosa mulut, meski dalam laporan ini hubungan langsung tersebut tidak ditegaskan sebagai penyebab.
Yang lebih penting, laporan ini menegaskan bahwa meski fibroma adalah tumor jinak yang tidak mengancam jiwa, eksisi tetap wajib dilakukan: bukan hanya untuk menyingkirkan massa dan memulihkan fungsi rongga mulut, tetapi juga untuk memastikan tidak ada proses keganasan yang tersembunyi di balik penampilan yang tampak biasa.
Dua perempuan dengan benjolan yang berbeda lokasi, berbeda riwayat, namun berakhir pada diagnosis yang sama. Keduanya sembuh. Dan di antara keduanya, ada pelajaran yang berlaku jauh lebih luas: di rongga mulut, apa yang terlihat jinak belum tentu cukup hanya dilihat.
Sumber DOI :10.15517/IJDS.2022.50713
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik