Seekor bekicot bergerak lambat di pematang sawah. Ia meninggalkan jejak lendir mengkilap di atas tanah. Bagi kebanyakan orang, lendir itu tidak lebih dari sisa perayaan moluska. Namun bagi tim peneliti Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG Universitas Gadjah Mada, jejak itu menyimpan pertanyaan ilmiah yang jauh lebih besar: bisakah lendir bekicot mempercepat penyembuhan luka?
Pertanyaan itu kini memiliki jawaban awal yang mengejutkan.
Dari Sawah ke Laboratorium
Penelitian yang dipublikasikan di World Journal of Dentistry edisi Mei–Juni 2022 ini melibatkan drg. Cahya Yustisia Hasan, Sp.BM., bersama Yosaphat B. Rosanto, Rahardjo, dan Antonius Surya. Tim ini mengekstraksi lendir dari bekicot spesies Achatina fulica, hewan yang mudah ditemukan di lahan pertanian Indonesia.
Proses ekstraksi sendiri terbilang unik. Tiga puluh ekor bekicot distimulasi dengan arus listrik 6 volt selama 60 detik. Hasilnya: 40 ml lendir murni yang kemudian disaring, disterilkan, lalu dicampur dengan CMC-Na 3% untuk membentuk gel dengan konsentrasi 24%, 48%, dan 96%. Gel inilah yang kemudian diujikan pada luka eksisi berdiameter 5 mm di punggung tikus Wistar jantan.
Pilihan luka eksisi bukan tanpa alasan. Model ini merepresentasikan kondisi penyembuhan sekunder yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan penyembuhan dan membutuhkan area aplikasi topikal yang lebih luas. Setiap tikus mendapat luka di empat titik berbeda, dan diamati pada hari ke-2, ke-4, dan ke-7 pasca perlakuan melalui pewarnaan hematoksilin dan eosin di bawah mikroskop binokuler pembesaran 400x.
Gelombang Sel yang Datang Lebih Cepat
Parameter yang diukur adalah jumlah leukosit polimorfonuklear (PMN) di jaringan dermis. Sel-sel ini adalah pasukan pertama yang datang ke lokasi luka; kehadiran mereka menandai dimulainya fase inflamasi, tahap awal yang justru harus dilalui dengan tuntas agar penyembuhan berlangsung optimal.
Hasilnya mencolok. Pada kelompok gel lendir bekicot 96%, jumlah leukosit PMN mencapai puncaknya di hari ke-4 dengan rata-rata 69 sel per lapang pandang. Kelompok kontrol dan konsentrasi 24% justru masih menunjukkan peningkatan PMN hingga hari ke-7, mengindikasikan fase inflamasi yang berlarut.
“Snail mucus accelerated the inflammatory process during wound healing. Snail mucus is a potential promising material to be developed into a drug to accelerate wound healing.” — Rosanto YB, Hasan CY, et al., World Journal of Dentistry, 2022
Perbedaan ini signifikan secara statistik. Uji ANOVA dua arah menunjukkan nilai p = 0,000, dengan nilai R² sebesar 0,998, artinya variabel perlakuan memiliki pengaruh yang amat kuat terhadap respons seluler yang diamati. Uji Tukey mempertegas bahwa konsentrasi 96% berbeda nyata dibanding kelompok lainnya.
Rahasia di Balik Lendir
Apa yang membuat lendir bekicot bekerja demikian? Jawabannya ada di kandungan molekulernya. A. fulica menghasilkan sekresi glikoprotein yang kaya komponen aktif: alantoin yang membantu regenerasi sel kulit, peptida antimikroba seperti mytimacin-AF, enzim pemecah sel mati, dan glikosaminoglikan khusus bernama acharan sulfate.
Glikosaminoglikan inilah kunci utamanya. Senyawa ini menstabilkan membran sel, meningkatkan sintesis asam hialuronat, bersifat antiinflamasi, sekaligus mempercepat angiogenesis. Kombinasi efek antimikroba dan stimulasi faktor pertumbuhan seperti VEGF (vascular-endothelial growth factor) dan PDGF (platelet-derived growth factor) diduga menjadi mekanisme di balik percepatan fase inflamasi yang terukur dalam penelitian ini.
Singkatnya, lendir bekicot tidak sekadar “menenangkan” luka. Ia justru mengaktifkan respons seluler lebih cepat, sehingga tubuh bisa segera beralih ke fase proliferasi dan regenerasi jaringan.
Masih Ada Jarak Sebelum Apotek
Tim peneliti dengan jujur mencatat batas studi ini. Gel lendir bekicot yang digunakan belum diuji toksisitas, biokompatibilitas, maupun stabilitasnya. Uji-uji tersebut, menurut para peneliti, tengah disiapkan sebagai kelanjutan riset, khususnya untuk konsentrasi 96% yang menunjukkan hasil paling menjanjikan.
Konteks lebih besarnya juga penting dicermati. Indonesia memiliki kekayaan bahan alam yang belum sepenuhnya dieksplorasi sebagai fitofarmaka. Penelitian ini merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian teknologi obat berbasis sumber daya lokal, sebuah agenda yang relevan di tengah ketergantungan industri farmasi nasional pada bahan baku impor.
Jalan dari luka tikus di laboratorium UGM menuju produk klinis yang bisa digunakan di klinik gigi masih panjang. Tapi bekicot di pematang sawah itu, tanpa ia sadari, mungkin sudah mengambil langkah pertama.
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik