Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Ketika Lempeng Titanium Retak, Bakteri Mengambil Alih

Sebuah pelat titanium berukuran tidak lebih dari ibu jari manusia. Tipis, mengkilap, dan dirancang untuk menopang tulang rahang yang patah. Namun begitu pelat itu dibengkokkan berkali-kali selama operasi agar pas dengan anatomi wajah pasien, permukaannya berubah — dan perubahan itulah yang membuka pintu bagi bakteri untuk bersarang.

Itulah inti dari penelitian yang dipublikasikan di jurnal F1000Research pada Mei 2025 oleh drg. Bramasto Purbo Sejati, Sp.BMM, bersama tim dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial serta Departemen Biologi Oral Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini menjawab pertanyaan yang selama ini luput dari perhatian: apakah kerusakan mekanis pada miniplate titanium selama operasi berkontribusi langsung pada kolonisasi bakteri dan kegagalan implan?

Lempeng yang Menua Sebelum Waktunya

Empat puluh miniplate dikumpulkan: sebagian dari pasien yang implannya harus dilepas akibat infeksi, sebagian lagi pelat kontrol yang masih baru dan steril dari pabrik. Foto makro langsung memperlihatkan perbedaan mencolok. Pada pelat tipe BSSO lurus, bagian jembatan (bridge area) mengalami deformasi paling parah — logis, karena di sinilah bengkokan dan puntiran paling sering dilakukan saat operasi.

Yang lebih mengejutkan adalah hasil pengukuran sudut kontak (contact angle), sebuah parameter untuk mengukur seberapa “hidrofobik” atau tidak suka air suatu permukaan. Pelat yang ditolak pasien memiliki sudut kontak rata-rata 89,6 derajat, dibandingkan 72,3 derajat pada pelat kontrol — perbedaan yang secara statistik signifikan (p < 0,01). Permukaan yang lebih hidrofobik, paradoksnya, justru lebih disukai bakteri tertentu untuk menempel dan membangun koloni.

“Kerusakan mekanis akibat pembengkokan dan pemuntiran pelat mengubah mikrostruktur permukaan titanium, yang pada gilirannya meningkatkan kekasaran dan hidrofobisitas — dua faktor yang diketahui memfasilitasi perlekatan bakteri dan pembentukan biofilm.” — drg. Bramasto Purbo Sejati, Sp.BMM, F1000Research 2025

Empat Bakteri, Empat Perilaku Berbeda

Tim peneliti kemudian mengekspos pelat-pelat tersebut pada empat strain bakteri yang relevan secara klinis: Staphylococcus aureus, Streptococcus mutans, Pseudomonas aeruginosa, dan Enterococcus faecalis. Hasilnya mengungkap pola yang menarik sekaligus mengkhawatirkan.

S. aureus dan S. mutans menunjukkan perlekatan yang jauh lebih tinggi pada pelat yang telah rusak dibandingkan pelat baru (p < 0,001). Gambaran Scanning Electron Microscopy (SEM) memperlihatkan koloni S. aureus sebagai gumpalan kokus padat yang menempel erat di ceruk-ceruk permukaan yang tak rata, sementara S. mutans membentuk rantai panjang yang menyebar merata di sekitar area distorsi.

Sebaliknya, P. aeruginosa justru lebih banyak menempel pada pelat kontrol yang baru. Ini bukan temuan yang mengejutkan jika dikaitkan dengan sifat biologi organisme itu: sebagai bakteri motil, P. aeruginosa tampaknya lebih menyukai substrat yang halus dan terhidrasi untuk kolonisasi awal, bukan permukaan kasar yang bergelombang. E. faecalis tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua kelompok.

Lokasi anatomis juga berperan. Pelat mandibula yang ditolak mencatat perlekatan S. aureus dan S. mutans tertinggi di antara semua kelompok — konsisten dengan fakta bahwa rahang bawah menanggung beban mekanis lebih besar, lebih sering mengalami deformasi, dan memiliki kondisi lingkungan yang lebih kompleks dibanding rahang atas.

Ketika Luka Terbuka, Bahaya Berlipat

Penelitian ini juga mencatat fenomena klinis yang sering diabaikan: dehisensi luka atau terbukanya jahitan pasca operasi. Pada beberapa kasus dalam studi ini, miniplate yang semula tertutup jaringan lunak akhirnya terekspos ke lingkungan rongga mulut — terpapar saliva, mikroorganisme oral, dan tekanan mekanis dari mastikasi.

Begitu pelat terbuka, risiko kolonisasi melonjak drastis. Ini menegaskan bahwa keberhasilan awal penyembuhan luka bukan jaminan keamanan jangka panjang. Pemantauan pascaoperasi yang ketat, terutama pada pasien dengan kebersihan mulut buruk atau kondisi periodontal yang tidak optimal, menjadi krusial.

Penelitian yang didanai oleh BPI dan LPDP ini disetujui oleh Komite Etik FKG-RSGM UGM dan melibatkan data dari Rumah Sakit Daerah Temanggung antara 2020 dan 2023. Dari 651 miniplate yang dipasang selama periode tersebut, 12 pelat dari 10 pasien memenuhi kriteria inklusi — angka yang mencerminkan insidensi infeksi osteosintesis sebesar 2%, sejalan dengan rentang yang dilaporkan literatur internasional.

Titanium Bukan Akhir dari Jawaban

Penelitian ini bukan sekadar laporan teknis tentang logam dan bakteri. Implikasinya menyentuh praktik bedah sehari-hari: seberapa hati-hati klinisi memperlakukan pelat saat membengkokkannya, kapan pelat sebaiknya dilepas pada kasus berisiko tinggi, dan apakah sudah saatnya mempertimbangkan material alternatif seperti PEEK atau pelat berlapis selenium yang terbukti mengurangi adhesi bakteri.

Pertanyaan-pertanyaan itu kini bukan lagi spekulasi. Ada data di baliknya — data yang lahir dari 40 pelat kecil, empat jenis bakteri, dan satu pertanyaan sederhana yang ternyata menyimpan jawaban sangat kompleks: apa yang terjadi pada permukaan titanium setelah ia dibengkokkan?

Sumber DOI : https://doi.org/10.12688/f1000research.159954.1

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Freepik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
13 Juli 2026

Dharma Wanita Persatuan FKG UGM Salurkan Bantuan untuk Panti Asuhan di Prambanan

13 Juli 2026

Buah Mahkota Dewa Terbukti Hambat Bakteri Penyebab Karies pada Tambalan Gigi

13 Juli 2026

Ketika-Bubble-Tea-Masuk-Laboratorium-Penelitian-FKG-UGM-Ungkap-Manfaat-Mutiara Tapioka bagi Kualitas Saliva

id_ID