Tujuh puluh empat koma satu persen — itulah angka prevalensi gingivitis di Indonesia menurut Riset Kesehatan Dasar. Hampir tiga dari empat orang Indonesia pernah atau sedang mengalami radang gusi. Masalahnya bukan hanya soal gusi bengkak atau berdarah; jika dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang menjadi periodontitis yang merusak tulang penyangga gigi. Kini, tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menemukan sesuatu yang tidak terduga: ekstrak tanaman liar bernama Euphorbia hirta — yang di Indonesia lebih dikenal sebagai patikan kebo — ternyata mampu mempercepat penyembuhan radang gusi saat digunakan sebagai cairan pendingin pada alat pembersih karang gigi ultrasonik piezoelektrik. Temuan ini dipublikasikan dalam Journal of Taibah University Medical Sciences pada tahun 2024.
Air Pendingin Scaler Bukan Sekadar Air Biasa
Scaling atau pembersihan karang gigi adalah prosedur standar untuk mengatasi gingivitis. Alat yang paling sering digunakan adalah piezoelectric ultrasonic scaler, sebuah alat yang bekerja dengan getaran frekuensi tinggi untuk melepas deposit karang gigi dan plak bakteri dari permukaan gigi. Alat ini membutuhkan cairan pendingin yang mengalir terus-menerus selama prosedur berlangsung — fungsinya menjaga suhu ujung alat agar tidak terlalu panas dan sekaligus membersihkan area kerja.
Selama ini, cairan pendingin yang dipakai umumnya hanya air biasa atau larutan antiseptik standar. Prof. Dr. drg. Archadian Nuryanti, M.Kes., peneliti utama sekaligus staf Departemen Biomedika Kedokteran Gigi FKG UGM, melihat peluang yang selama ini luput dari perhatian: bagaimana jika cairan pendingin itu sendiri bisa membawa manfaat terapeutik? Bagaimana jika air yang mengalir ke jaringan gusi selama scaling juga sekaligus membantu meredakan peradangan?
Dari pertanyaan itulah penelitian ini lahir. Timnya mengolah tanaman Euphorbia hirta menjadi nanoekstrak, lalu mengujinya sebagai cairan pendingin piezoelectric ultrasonic scaler pada model hewan coba tikus Wistar yang diinduksi gingivitis.
Dari Tanaman Pinggir Jalan ke Teknologi Nano
Euphorbia hirta bukan tanaman istimewa dalam pandangan kebanyakan orang. Ia tumbuh liar di pinggir jalan, ladang, dan pekarangan rumah. Namun secara ilmiah, tanaman ini menyimpan senyawa bioaktif yang cukup potensial: flavonoid, tanin, saponin, dan terpenoid — semuanya memiliki efek antiinflamasi dan antibakteri.
Tantangannya, senyawa-senyawa itu tidak mudah masuk ke dalam jaringan tubuh dalam bentuk ekstrak biasa. Di sinilah teknologi nanopartikel berperan. Tim peneliti menggunakan metode ionic gelation dengan kitosan sebagai bahan penyalut. Kitosan sendiri adalah polimer alami yang berasal dari cangkang hewan laut, bersifat biodegradable, biokompatibel, dan memiliki efek antibakteri tersendiri — khususnya terhadap bakteri gram positif seperti Porphyromonas gingivalis, salah satu bakteri penyebab penyakit periodontal.
Hasilnya adalah partikel nanoekstrak berukuran 485 nanometer dengan zeta potential sebesar 43,6 mV. Zeta potential di atas 30 mV menunjukkan stabilitas yang baik — partikel tidak mudah menggumpal dalam larutan. Nanoekstrak ini kemudian dilarutkan dalam tiga konsentrasi berbeda: 25%, 30%, dan 35%.
Sel Darah Putih Turun, Pembuluh Darah Tumbuh
Penelitian dilakukan pada 45 ekor tikus Wistar jantan dewasa yang dibagi menjadi lima kelompok: tiga kelompok perlakuan dengan nanoekstrak konsentrasi 25%, 30%, dan 35%; satu kelompok kontrol negatif dengan air biasa; dan satu kelompok kontrol positif dengan larutan iodine gliserin 2%. Gingivitis diinduksi dengan memasang benang sutra pada gigi insisivus rahang atas selama tujuh hari hingga muncul tanda-tanda klasik radang gusi: kemerahan, pembengkakan, dan perdarahan saat disentuh.
Setelah scaling dilakukan, jaringan gingiva diamati pada hari ke-3, 5, 7, 14, dan 21. Dua penanda utama yang diukur adalah jumlah neutrofil dan angiogenesis — dua proses kunci dalam penyembuhan luka.
Neutrofil adalah sel darah putih yang pertama kali datang ke lokasi infeksi. Jumlahnya yang tinggi menandakan peradangan masih aktif; penurunannya menandakan proses penyembuhan berjalan. Angiogenesis, di sisi lain, adalah pembentukan pembuluh darah baru — proses yang penting untuk mengantarkan oksigen dan nutrisi ke jaringan yang sedang pulih.
Hasilnya menarik. Kelompok yang mendapat nanoekstrak 25% menunjukkan penurunan jumlah neutrofil yang lebih cepat dibanding kelompok air biasa, sekaligus peningkatan angiogenesis yang lebih baik. Yang lebih signifikan: performa kelompok nanoekstrak 25% tidak berbeda secara statistik dengan kelompok kontrol positif yang menggunakan iodine gliserin 2% — standar klinis yang selama ini dipakai.
“Penggunaan nanoekstrak Euphorbia hirta sebagai cairan pendingin piezoelectric ultrasonic scaler menunjukkan hasil terapeutik yang baik dalam mendorong penyembuhan gingivitis, terutama pada konsentrasi 25%.” — Prof. Dr. drg. Archadian Nuryanti, M.Kes., peneliti utama, Departemen Biomedika Kedokteran Gigi FKG UGM
Mekanisme kerjanya berlapis. Flavonoid dalam E. hirta menghambat enzim siklooksigenase dan lipoksigenase yang berperan dalam sintesis prostaglandin dan leukotrien — dua mediator utama peradangan. Saponin merangsang ekspresi vascular endothelial growth factor (VEGF), molekul yang memicu pembentukan pembuluh darah baru. Tanin bekerja sebagai antibakteri sekaligus antioksidan yang mempercepat proliferasi fibroblas dan pertumbuhan kapiler.
Potensi dan Jalan Panjang Menuju Klinik
Temuan ini membuka perspektif baru dalam terapi periodontal non-bedah. Selama ini, upaya meningkatkan efektivitas scaling banyak berfokus pada teknik instrumentasi atau penggunaan antibiotik tambahan. Opsi terakhir semakin dipertanyakan mengingat ancaman resistensi antimikroba yang kian serius di tingkat global.
Cairan pendingin berbahan herbal yang dikemas dalam teknologi nanopartikel menawarkan jalur berbeda: memanfaatkan prosedur scaling yang sudah berjalan sebagai “kendaraan” untuk mengantarkan agen antiinflamasi langsung ke jaringan gingiva yang meradang — tanpa prosedur tambahan, tanpa risiko resistensi antibiotik.
Penelitian ini didanai oleh Dana Masyarakat FKG UGM tahun 2019 dan telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Fakultas Kedokteran UGM. Namun para peneliti juga mengakui bahwa ini baru langkah awal. Studi lanjutan masih diperlukan untuk mengisolasi komponen aktif E. hirta secara individual, memahami profil farmakokinetik dan farmakodinamiknya, serta menguji keamanan dan efektivitasnya pada subjek manusia sebelum bisa diterapkan di klinik.
Tanaman yang selama ini dianggap gulma itu mungkin menyimpan lebih banyak dari yang kita bayangkan. Penelitian ini baru membuka salah satu pintu.
Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam
Foto: Freepik
Sumber DOI: https://doi.org/10.1016/j.jtumed.2023.09.004