Hampir tiga dekade lalu, film The Matrix (1999) menghadirkan imajinasi tentang dunia ketika kecerdasan buatan mengambil alih peradaban manusia. Dalam kisah fiksi ilmiah itu, manusia hidup di bawah kendali mesin, sementara batas antara kenyataan dan dunia digital menjadi kabur. Apa yang ketika itu dianggap sekadar fantasi Hollywood kini menemukan gaungnya dalam kehidupan sehari-hari. Bedanya, kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang berkembang saat ini tidak datang sebagai penguasa yang mengendalikan manusia, melainkan sebagai teknologi yang perlahan mengubah cara manusia berpikir, bekerja, dan mengambil keputusan.
Perubahan itu berlangsung jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak orang. AI kini mampu menyusun laporan, meringkas ribuan halaman dokumen, menerjemahkan berbagai bahasa, membuat ilustrasi, hingga membantu merancang strategi organisasi hanya dalam hitungan detik. Teknologi yang dulu hanya menghuni layar lebar kini nyata hadir di meja kerja, ruang rapat, hingga telepon genggam para tenaga kependidikan FKG UGM.
FKG UGM Siapkan Tenaga Kependidikan Memasuki Era Transformasi Digital
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tak lagi menjadi isu yang hanya dibahas di lingkungan industri teknologi. Perguruan tinggi pun mulai bergerak menjadikan AI sebagai bagian dari transformasi tata kelola administrasi. FKG UGM, memilih memperkuat kapasitas tenaga kependidikan melalui pelatihan pemanfaatan teknologi informasi berbasis AI sebagai strategi meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas layanan administrasi.
Di tengah tuntutan birokrasi kampus yang semakin kompleks, digitalisasi tidak lagi dipahami sebatas penggantian dokumen cetak menjadi dokumen elektronik semata. Transformasi digital menuntut perubahan cara berpikir aparatur pendidikan tinggi agar mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi kerja tanpa mengurangi akurasi dan integritas pelayanan.

Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia FKG UGM, drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D, menegaskan bahwa peningkatan kompetensi teknologi informasi menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kinerja institusi.
“Dengan teknologi informasi harapan kami kinerja Bapak-Ibu semua menjadi lebih cepat dan lebih efisien. Ketika capaian kinerja fakultas meningkat, manfaatnya akan kembali kepada seluruh sivitas,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan sistem penilaian kinerja di lingkungan FKG UGM menuntut seluruh unit kerja membangun budaya kolaborasi. Produktivitas dosen maupun tenaga kependidikan kini tidak lagi berdiri sendiri, tetapi saling memengaruhi dalam pencapaian target institusi.
Ia mengingatkan bahwa transformasi digital bukan sekadar mengikuti tren penggunaan AI, melainkan menjadi kebutuhan organisasi agar pelayanan akademik maupun administrasi dapat berlangsung lebih efektif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat kampus.

Sementara itu, Kepala Kantor Administrasi FKG UGM, Wulansari, S.S., mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi institusinya saat ini justru berada pada pengembangan karier tenaga kependidikan. Masih banyak pegawai yang belum memenuhi persyaratan kompetensi untuk naik jenjang jabatan.
“PR yang paling besar sekarang adalah menaikkan kelas jabatan teman-teman. Salah satu syaratnya adalah mengikuti pelatihan. Jadi pelatihan seperti ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi menjadi bagian dari pengembangan karier,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa FKG telah mulai memetakan kompetensi seluruh tenaga kependidikan untuk mengetahui kebutuhan pengembangan masing-masing individu. Pemetaan tersebut akan menjadi dasar penyusunan pelatihan, pendidikan lanjutan, hingga rotasi pengalaman kerja sebagai syarat pengembangan jabatan.
“Kalau ingin naik jabatan, harus mau mengikuti pelatihan, meningkatkan pendidikan, dan bersedia mengembangkan pengalaman kerja. Kami hanya bisa memfasilitasi, tetapi kemauan tetap harus datang dari masing-masing pegawai,” ujarnya.
Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital di lingkungan perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan penyediaan perangkat lunak atau aplikasi baru. Faktor manusia tetap menjadi penentu utama keberhasilan perubahan organisasi.

Sebagai narasumber, Direktur PT Global Data Inspirasi Novan Hartadi, S.T., M.Sc., menilai AI seharusnya diposisikan sebagai mitra kerja yang membantu manusia menyelesaikan pekerjaan administratif secara lebih cepat.
“Pemanfaatan AI adalah untuk membantu aktivitas menjadi lebih efektif dan produktif. Saya berharap peserta memperoleh gambaran bagaimana AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung pekerjaan sehari-hari,” katanya saat membuka materi pelatihan.
Novan menjelaskan bahwa perkembangan AI generatif telah mengubah cara manusia bekerja. Teknologi tersebut mampu membantu penyusunan surat dinas, laporan, notulen rapat, penyusunan proposal, hingga analisis dokumen yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama.
Namun, ia mengingatkan bahwa AI bukanlah pengganti manusia. “AI sebenarnya hanyalah tools atau alat bantu. AI bukan menggantikan peran manusia. Yang berubah adalah cara kita bekerja sehingga pekerjaan yang berulang dapat diselesaikan lebih cepat,” jelasnya.
Di sisi lain, Novan mengingatkan adanya risiko yang tidak boleh diabaikan. Menurutnya, kemudahan AI menghasilkan berbagai informasi sering kali membuat pengguna terlalu percaya terhadap hasil yang diberikan.
“Jangan percaya 100 persen. AI bisa saja salah atau mengalami halusinasi sehingga hasilnya tetap harus diverifikasi oleh manusia,” ujarnya.
Ia juga menyoroti persoalan keamanan data yang semakin penting ketika institusi mulai memanfaatkan layanan AI berbasis komputasi awan.
“Kita harus berhati-hati terhadap risiko kebocoran data. Data pribadi mahasiswa, dosen, maupun dokumen internal institusi tidak boleh sembarangan diunggah ke platform AI,” katanya.
Menurut Novan, kemampuan menggunakan AI kini tidak cukup hanya mengetahui aplikasi seperti ChatGPT atau Gemini. Pengguna juga harus memahami teknik menyusun instruksi (prompt) secara tepat agar hasil yang diperoleh benar-benar sesuai kebutuhan.
Ia memperkenalkan pendekatan Role–Context–Task–Output (RCTO) sebagai metode sederhana untuk menghasilkan keluaran AI yang lebih akurat.
“Semakin jelas konteks dan tugas yang diberikan kepada AI, semakin baik pula kualitas hasil yang diperoleh,” ujarnya.
Pelatihan tersebut sekaligus menunjukkan perubahan paradigma pengembangan sumber daya manusia di perguruan tinggi, terlebih di FKG UGM. Jika sebelumnya peningkatan kompetensi lebih banyak berorientasi pada kemampuan administratif konvensional, kini literasi digital dan kecerdasan artifisial mulai menjadi kompetensi dasar yang harus dimiliki tenaga kependidikan.
Meski demikian, transformasi digital tetap menyisakan pekerjaan rumah. Infrastruktur teknologi, keamanan data, regulasi penggunaan AI, hingga peningkatan literasi digital harus berjalan beriringan agar pemanfaatan teknologi tidak justru menimbulkan persoalan baru.
FKG UGM memulai langkah tersebut dari penguatan kapasitas sumber daya manusia. Pilihan itu menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi digital bukan ditentukan oleh secanggih apa teknologi yang digunakan, melainkan oleh sejauh mana manusia mampu memanfaatkannya secara kritis, tajam, bertanggung jawab, dan beretika.
(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti)