Jumlah fibroblas itu bicara banyak. Pada hari ketujuh percobaan, tikus-tikus yang gusinya diolesi gel ekstrak teh hijau terbungkus nano-kitosan memiliki rata-rata 51 fibroblas per lapang pandang — hampir menyamai kelompok yang diberi gel antiinflamasi komersial (53,50). Sementara kelompok kontrol negatif hanya mencatat 32,50. Selisih itu bukan sekadar angka statistik; itu sinyal bahwa bahan alami lokal bisa berdiri sejajar dengan obat konvensional dalam mempercepat penyembuhan luka gingiva.
Riset ini lahir dari kolaborasi lintas fakultas di Universitas Gadjah Mada: tim dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG bersama Fakultas Farmasi. Hasilnya dipublikasikan di Archives of Orofacial Sciences (2021), jurnal internasional terbitan Universiti Sains Malaysia.
Dari Cangkang Kepiting ke Kapsul Nano
Proses penelitian dimulai jauh sebelum ada tikus yang terluka. Tiga jenis teh hijau dari PT Pagilaran Yogyakarta — Pekoe, Gun Powder, dan Green Powder — diekstraksi dengan etanol 70% lalu diuji kadar flavonoidnya. Pekoe memenangkan seleksi dengan kadar 65,211 mg/L.
Flavonoid dari Pekoe kemudian dikapsulasi menggunakan nano-kitosan, polimer yang berasal dari cangkang krustasea — udang, kepiting. Ukuran partikelnya yang nano membuat senyawa lebih mudah diserap sel dan meningkatkan reaktivitas kimiawi. Uji partikel menunjukkan 77% kitosan berhasil mencapai ukuran nano. Dari sini, campuran itu diproses menjadi gel topikal dengan konsentrasi zat aktif 20%.
Dua puluh empat tikus Wistar jantan berusia tiga bulan kemudian dibagi empat kelompok perlakuan. Gingiva labial mandibula masing-masing dilukai dengan punch biopsy berdiameter 2 mm, lalu diolesi gel dua kali sehari selama tujuh hari. Pada hari ke-5 dan ke-7, jaringan gingiva diambil, dibuat preparat histologi dengan pewarnaan hematoxylin eosin, dan diamati di bawah mikroskop cahaya binokular dengan perbesaran 400×.
Fibroblas sebagai Penanda Kecepatan Pulih
Fibroblas adalah sel kunci fase proliferasi dalam penyembuhan luka: mereka mensintesis kolagen, fibronektin, dan matriks ekstraselular yang menjadi “perancah” jaringan baru. Semakin cepat fibroblas berkumpul di area luka, semakin singkat waktu pemulihan.
Hasil uji ANOVA menunjukkan perbedaan bermakna antarkelompok (p < 0,05). Pada hari ke-5, gel nano-kitosan-teh hijau sudah unggul secara signifikan dibanding gel teh hijau tanpa kapsulasi maupun kontrol negatif, namun tidak berbeda nyata dengan Difflam mouth gel sebagai kontrol positif. Performa ini bertahan hingga hari ke-7.
Mekanismenya: flavonoid menekan fase inflamasi lebih cepat, sekaligus merangsang produksi TGF-β yang mendorong migrasi dan proliferasi fibroblas, serta menginduksi VEGF untuk pembentukan pembuluh darah baru. Nano-kitosan berperan menjaga stabilitas senyawa fenolik agar tidak rusak sebelum bekerja.
Penelitian ini memang masih pada model hewan coba. Namun bagi Indra Bramanti dan tim, temuan ini adalah titik awal: membuktikan bahwa kearifan lokal Indonesia — daun teh dan cangkang kepiting — punya potensi klinis yang layak ditelusuri lebih jauh, hingga suatu hari bisa menjadi pilihan nyata di kursi perawatan gigi.
Sumber DOI : 10.21315/aos2021.16.s1.
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes
Foto : ChtGPT