Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 3, SDG 9

Cairan Sulkus Gingiva Menyimpan Rahasia Hubungan Gigi dan Sendi

Bayangkan seorang pasien datang ke klinik reumatologi dengan sendi bengkak dan nyeri, lalu dokter gigi yang duduk di sebelahnya justru menemukan petunjuk penting di sela-sela gusinya. Bukan metafora itulah inti dari sebuah tinjauan literatur yang diterbitkan di jurnal Oral Diseasespada 2019, dipimpin oleh drg. Poerwati S. Rahajoe dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial Rumah Sakit Dr. Sardjito, Universitas Gadjah Mada, bersama kolega dari University Medical Center Groningen, Belanda.

Penelitian ini menggali satu pertanyaan yang terdengar sederhana namun berdampak luas, apa yang tersembunyi di dalam cairan sulkus gingiva (gingivocrevicular fluid, GCF) pasien artritis reumatoid?

Dua Penyakit, Satu Api Peradangan

Artritis reumatoid (RA) dan periodontitis bukan sekadar “kebetulan” muncul bersamaan. Keduanya berbagi mekanisme kerusakan: destruksi tulang dan jaringan lunak, serta lonjakan penanda inflamasi sistemik. GCF eksudat yang merembes dari sulkus gingiva di sekitar gigi menjadi jendela diagnostik yang menarik karena mencerminkan kondisi inflamasi lokal sekaligus sistemik.

Tim peneliti menelusuri 64 artikel di PubMed, lalu menyaring 19 studi yang memenuhi kriteria ketat, terdapat kelompok kontrol sehat, diagnosis RA berdasarkan kriteria ACR 1987 atau 2010, dan penilaian status periodontal yang jelas. Hasilnya mencengangkan. Pasien RA memiliki kadar sitokin pro-inflamasi yang meningkat di GCF maupun serum termasuk TNF-α, IL-1β, IL-17A, dan matrix metalloproteinase (MMP) bahkan ketika mereka sudah menjalani terapi anti-reumatik. Kehadiran periodontitis memperburuk gambaran ini secara signifikan.

Ketika Mengobati Satu, yang Lain Ikut Membaik

Temuan paling mengejutkan muncul dari studi-studi terapi. Ketika pasien RA diberikan terapi anti-TNF-α (biological DMARDs), kadar TNF-α, IL-1β, dan IL-8 dalam GCF turun secara bermakna, disertai perbaikan indeks periodontal klinis. Sebaliknya, perawatan periodontal non-bedah berupa skeling dan root planing juga menurunkan kadar sitokin pro-inflamasi lokal — IL-1β, IL-6, TNF-α, dan MMP- dan, yang lebih penting, diikuti penurunan skor aktivitas penyakit RA (DAS28) pada beberapa studi.

“Analisis GCF pada pasien RA mengungkapkan bahwa hubungan antara periodontitis dan RA bersifat dua arah, kemungkinan disebabkan oleh beban inflamasi non spesifik.”

Demikian kesimpulan drg. Soetji dan koleganya sebuah pernyataan yang membuka implikasi klinis nyata: pasien RA perlu menjalani skrining periodontal secara rutin, karena merawat gusi bukan hanya soal mulut, melainkan juga sendi.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa data spesifik yang menunjukkan hubungan kausal misalnya keberadaan autoantibodi RA seperti ACPA di dalam GCF masih sangat terbatas. Pertanyaan tentang apakah periodontitis benar-benar memicu RA, atau sekadar memperburuknya, belum terjawab tuntas. Sulkus gingiva sudah bicara; kini giliran riset berikutnya untuk mendengarkan lebih seksama.

Reporter: Nanda Ayu – Andri Wicaksono

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
2 Juli 2026

Ketika Rahang Patah, Tulang Mana yang Lebih Cepat Pulih?

2 Juli 2026

Temu Putih Melawan Radang: Bukti dari Laboratorium FKG UGM

2 Juli 2026

Minyak Temu Putih Turunkan Gula Darah Sekaligus Atasi Gingivitis pada Tikus Hiperglikemia

id_ID