Secara kasat mata, mulut para pekerja pewarna batik di Yogyakarta tampak sehat: tidak ada luka, tidak ada perubahan warna, tidak ada keluhan. Namun di balik lapisan mukosa bukal yang terlihat normal itu, sesuatu tengah berubah — sesuatu yang hanya bisa ditangkap lewat lensa spektrofotometer dan elektroforesis gel.
Itulah temuan yang mendorong Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO. dari Departemen Biologi Oral FKG UGM untuk mendalami pertanyaan yang selama ini diabaikan: apa yang terjadi pada DNA sel epitel pipi pekerja yang setiap hari menghirup dan terpapar senyawa azo?
Ketika Pewarna Sintetis Masuk ke Sel
Senyawa azo adalah tulang punggung pewarna sintetis industri batik. Strukturnya mengandung gugus fungsional -N=N- yang terikat pada benzena — molekul yang terkenal sulit terurai dan diketahui bersifat karsinogenik serta mutagenik jika terakumulasi dalam jangka panjang. Paparan melalui inhalasi dan kontak kulit terjadi setiap hari, bertahun-tahun, pada para pekerja divisi pewarnaan.
Studi yang diterbitkan di F1000Research (2020) ini melibatkan 20 subjek laki-laki: 10 pekerja batik Yogyakarta yang telah terpapar azo minimal lima tahun, dan 10 orang kontrol yang tidak bekerja di industri batik. Sel epitel bukal diambil secara noninvasif menggunakan cytobrush, lalu DNA diisolasi dan dikarakterisasi.
Hasilnya mengejutkan. Konsentrasi DNA pada kelompok terpapar azo mencapai 59,02 ng/µL, jauh lebih tinggi dibanding kelompok kontrol yang hanya 19,35 ng/µL. Elektroforesis gel bahkan menunjukkan pita DNA berbobot molekul tinggi hanya pada kelompok terpapar — tidak muncul sama sekali pada kontrol.
“Karakteristik DNA dapat digunakan sebagai indikasi paparan senyawa azo pada pekerja industri batik.” —Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO., Departemen Biologi Oral FKG UGM
Perbedaan yang Tak Terlihat Mata, Terbaca oleh Data
Temuan ini membuka dua kemungkinan sekaligus. Konsentrasi DNA yang lebih tinggi pada kelompok terpapar bisa berarti lebih banyak sel yang melepaskan materi genetiknya — salah satu tanda kerusakan seluler. Di sisi lain, tidak semua sampel kelompok terpapar menunjukkan pita pada elektroforesis, yang bisa mengindikasikan fragmentasi DNA akibat paparan zat toksik.
Untuk memastikan klasifikasi, tim peneliti menggunakan principal component analysis (PCA), metode kemometrik yang mampu memisahkan dua kelompok berdasarkan tiga variabel: kemurnian DNA pada 280 nm, konsentrasi DNA, dan rasio absorbansi 260/280 nm. Hasilnya, PCA berhasil memisahkan kelompok terpapar dan kontrol secara jelas melalui plot skor PC1 dan PC2 — dengan konsentrasi DNA sebagai variabel penyumbang terbesar.
Yang penting untuk dicatat: secara klinis, tidak ada satu pun subjek dalam penelitian ini yang menunjukkan gejala abnormalitas rongga mulut. Perubahan hanya terdeteksi di tingkat molekuler. Ini berarti kerusakan mungkin sudah berlangsung jauh sebelum gejala fisik muncul — dan itu justru yang membuat temuan ini relevan sebagai alat deteksi dini.
Penelitian ini masih bersifat studi awal dengan jumlah subjek terbatas. Mekanisme pasti kerusakan DNA pada sel epitel oral akibat azo belum terungkap sepenuhnya. Tapi satu hal sudah jelas: mulut bukan sekadar pintu masuk makanan. Ia juga menyimpan arsip kimiawi dari segala sesuatu yang kita hirup setiap hari — termasuk keindahan warna-warna batik yang kita kagumi dari jauh.
Penulis: Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto: ChatGPT