Berita

/

Berita Terbaru

Pembukaan Pelatihan Kompetensi Dokter Gigi Bidang Implan di FKG UGM

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) kembali menegaskan posisinya sebagai pusat pengembangan pendidikan kedokteran gigi berstandar internasional melalui penyelenggaraan Pelatihan Implan Gigi FKG UGM 2026 (22/06/2026). Program yang berlangsung selama beberapa hari ini tidak sekadar memberikan keterampilan teknis pemasangan implan, tetapi juga membekali peserta dengan pemahaman komprehensif mulai dari aspek diagnosis, perencanaan perawatan, bedah, prostodonsia, hingga aspek medikolegal yang menjadi fondasi praktik profesional kedokteran gigi modern.

Pelatihan tersebut diikuti dokter gigi dari berbagai daerah di Indonesia dan menghadirkan jajaran pengajar lintas disiplin yang merupakan pakar di bidang periodonsia, bedah mulut dan maksilofasial, prostodonsia, radiologi kedokteran gigi, serta bidang terkait lainnya.

Implan Gigi: Kebutuhan Masa Kini dalam Rehabilitasi Oral

Perkembangan teknologi kedokteran gigi telah menjadikan implan sebagai salah satu pilihan utama dalam rehabilitasi kehilangan gigi. Berbeda dengan metode konvensional, perawatan implan menawarkan solusi yang lebih personal, stabil, dan mampu mengembalikan fungsi kunyah maupun estetika pasien secara optimal.

Dalam sambutannya saat membuka pelatihan, Wakil Dekan FKG UGM, Prof. drg. Rosa Amalia, M.Kes., Ph.D., menegaskan bahwa implantologi merupakan bidang yang terus berkembang dan memiliki prospek besar dalam pelayanan kesehatan gigi masa depan.

“Implan memiliki keunggulan karena memberikan pemulihan yang lebih personal bagi pasien. Dalam pelatihan ini peserta akan mempelajari seluruh tahapan, mulai dari perencanaan, diagnosis kasus, hingga tindakan klinis yang diperlukan,” ujarnya.

Menurut Prof.Rosa, kompetensi pemasangan implan tidak dapat diperoleh secara instan. Dibutuhkan pendidikan berkelanjutan yang menggabungkan penguasaan teori, keterampilan klinis, serta pemahaman etik dan hukum profesi.

“Kami menghadirkan pengajar yang benar-benar memiliki pengalaman dan kompetensi di bidangnya. Tidak semua dosen dapat menjadi instruktur dalam pelatihan ini karena standar yang diterapkan cukup ketat,” tegasnya.

Kurikulum Komprehensif dari Hukum hingga Osseointegrasi

Analisis terhadap kurikulum pelatihan menunjukkan bahwa FKG UGM berupaya membangun kompetensi peserta secara bertahap dan sistematis.

Pada hari pertama, peserta dibekali materi fundamental mengenai aspek medikolegal pemasangan implan, termasuk kajian indikasi dan kontraindikasi tindakan, serta batasan praktik yang harus dipatuhi dokter gigi sesuai regulasi dan etika profesi.

Materi tersebut disampaikan oleh Prof. drg. Suryono, SH., MM., Ph.D. dan Prof. Dr. drg. Ahmad Syaify, Sp.Perio., Subsp.RPID(K).

Langkah ini menjadi penting mengingat meningkatnya tuntutan hukum dalam pelayanan kesehatan. Kesalahan diagnosis, pemilihan kasus yang tidak tepat, maupun tindakan di luar kompetensi dapat menimbulkan konsekuensi hukum yang serius.

Setelah fondasi hukum dan etika dibangun, peserta memasuki pembelajaran mengenai dasar-dasar implantologi, termasuk terminologi implan, evaluasi jaringan keras dan lunak, konsep osseointegrasi, fisiologi tulang, serta pemanfaatan radiologi dalam menunjang keberhasilan perawatan.

Rangkaian materi tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pemasangan implan tidak hanya bergantung pada keterampilan bedah, tetapi juga pada pemahaman biologis dan diagnostik yang mendalam.

Pendekatan Multidisiplin Menjadi Kunci

Salah satu kekuatan utama pelatihan ini adalah pendekatan multidisiplin yang diterapkan FKG UGM. Peserta memperoleh pembelajaran dari berbagai departemen yang memiliki kontribusi langsung terhadap keberhasilan terapi implan. Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial membahas aspek anatomis dan teknik bedah, Departemen Periodonsia mengupas kesehatan jaringan penyangga implan, sementara Departemen Prostodonsia mengajarkan rekonstruksi fungsi dan estetika setelah implan terpasang.

Pada hari kedua, peserta mendalami berbagai faktor biologis yang memengaruhi keberhasilan terapi, seperti perbedaan densitas tulang pada rahang atas dan bawah, pemilihan material implan, hingga pertimbangan prostetik yang tepat sesuai kondisi pasien.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa implantologi modern telah berkembang menjadi disiplin ilmu yang kompleks dan menuntut kolaborasi lintas bidang keilmuan.

Belajar dari Kasus Nyata

Tidak berhenti pada pembelajaran di ruang kelas, pelatihan juga dilengkapi dengan demonstrasi tindakan klinis langsung(live surgery/live procedure) yang memungkinkan peserta mengamati penerapan teori dalam kasus nyata.

Model pembelajaran seperti ini menjadi salah satu nilai tambah yang sulit diperoleh hanya melalui pendidikan formal atau seminar ilmiah.

Peserta dapat menyaksikan proses pengambilan keputusan klinis, teknik bedah, penanganan jaringan, hingga strategi mengantisipasi komplikasi selama prosedur berlangsung.

Metode tersebut sekaligus menjembatani kesenjangan antara teori akademik dan praktik klinis sehari-hari.

Menjawab Kebutuhan Dokter Gigi Indonesia

Penyelenggaraan pelatihan ini juga mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan rehabilitasi oral yang berkualitas. Seiring meningkatnya kesadaran pasien terhadap fungsi dan estetika, permintaan terhadap perawatan implan terus bertambah di berbagai daerah.

Namun demikian, kebutuhan tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi dokter gigi agar layanan yang diberikan tetap aman, efektif, dan sesuai standar profesi.

FKG UGM memandang pendidikan berkelanjutan sebagai instrumen strategis untuk memastikan perkembangan teknologi kedokteran gigi dapat diikuti oleh para praktisi secara bertanggung jawab.

“Silakan memanfaatkan kesempatan belajar ini semaksimal mungkin. Semua peserta adalah bagian dari keluarga besar akademik yang memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kompetensi dan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” pesan Prof. Rosa Amalia kepada para peserta.

Membangun Ekosistem Pendidikan Implantologi Nasional

Lebih jauh, pelatihan ini memperlihatkan komitmen FKG UGM dalam membangun ekosistem pendidikan implantologi yang berkelanjutan di Indonesia.

Dengan menghadirkan tenaga pengajar berpengalaman, fasilitas pembelajaran modern, serta kurikulum yang terintegrasi antara ilmu dasar dan praktik klinis, FKG UGM tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan mutu layanan kesehatan gigi nasional.

Pelatihan Implan Gigi 2026 menjadi bukti bahwa transformasi tersebut sedang dibangun dari ruang-ruang akademik, laboratorium, dan klinik pendidikan FKG UGM, tempat lahirnya generasi dokter gigi yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga matang secara ilmiah, etis, dan profesional.

(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
24 Juni 2026

FKG UGM Lantik 47 Dokter Gigi Baru, Tekankan Integritas dan Semangat Pengabdian Masyarakat

24 Juni 2026

Kisah drg. Adinda, Alumni FKG UGM Ikuti Program Penugasan Khusus Kemenkes RI di NTT

23 Juni 2026

FKG UGM Menerima Kunjungan SMA IT Al Azhar Jambi

id_ID