Ditengah meningkatnya perhatian dunia terhadap tumbuh kembang kraniofasial anak, Ilmu Kedokteran Gigi Anak (IKGA) FKG UGM hadirkan pesan penting, pencegahan maloklusi harus dimulai sejak dini, bahkan sebelum kelainan susunan gigi dan rahang tampak secara klinis.
Pesan itu disampaikan Prof. drg. Sri Kuswandari, MS, Sp.KGA Subsp.KKfA(K), Ph.D. dalam The 19th International Indonesian Pediatric Dentistry Association Conference (IIPDAC 19) di Makassar (29 April – 2 Mei 2026). Forum internasional yang mengusung tema “Global Perspectives on Craniofacial Growth and Development in Children: Challenges and Innovations” tersebut mempertemukan akademisi, klinisi, dan peneliti kedokteran gigi anak dari berbagai negara untuk membahas tantangan terbaru dalam pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial anak.
Dalam presentasinya yang berjudul “Early Detection of Oral Bad Habit to Prevent Pediatric Malocclusion”, Prof. Sri Kuswandari menyoroti pentingnya mengenali kebiasaan orofasial sejak usia dini sebagai langkah preventif yang selama ini kerap terabaikan.
“Maloklusi tidak muncul secara tiba-tiba. Banyak kasus berawal dari kebiasaan orofasial yang berlangsung terus-menerus pada masa pertumbuhan anak. Karena itu, deteksi dini menjadi kunci agar intervensi dapat dilakukan sebelum terjadi perubahan struktur yang lebih kompleks,” ujar Sri Kuswandari dalam paparannya.
Dari Kebiasaan Sepele Menuju Gangguan Pertumbuhan Wajah
Dalam perspektif kedokteran gigi anak, kebiasaan seperti mengisap jempol, penggunaan dot berkepanjangan, menjulurkan lidah saat menelan (tongue thrusting), hingga kebiasaan bernapas melalui mulut sering dianggap persoalan sederhana oleh orang tua.
Padahal, menurut Sri Kuswandari, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi keseimbangan pertumbuhan gigi, rahang, serta jaringan pendukung wajah apabila berlangsung dalam periode yang lama.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan estetika wajah dan susunan gigi, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi pengunyahan, bicara, hingga kualitas hidup anak di masa depan.
Pendekatan preventif, kata dia, jauh lebih efektif dibandingkan tindakan korektif ketika kelainan sudah berkembang. Oleh karena itu, edukasi kepada keluarga, tenaga kesehatan, dan institusi pendidikan menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan.
FKG UGM Perkenalkan Center of Excellence Pediatric Orofacial Habits
Pada kesempatan yang sama, Sri Kuswandari memperkenalkan Center of Excellence (CoE) Pediatric Orofacial Habits FKG UGM, sebuah pusat unggulan yang dikembangkan untuk memperkuat riset, pendidikan, dan pelayanan terkait kebiasaan orofasial pada anak.
Pusat unggulan tersebut dirancang sebagai wadah kolaborasi multidisiplin yang mengintegrasikan penelitian dasar, pengembangan metode deteksi dini, edukasi masyarakat, serta strategi intervensi berbasis bukti ilmiah.
Melalui CoE tersebut, FKG UGM berupaya membangun ekosistem akademik yang tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesehatan anak.
“Pendekatan yang kami bangun tidak berhenti pada penelitian. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui deteksi yang lebih cepat, edukasi yang lebih luas, dan intervensi yang lebih efektif,” kata Sri Kuswandari.
Kolaborasi Global untuk Masalah Lokal
Menariknya, presentasi dari IKGA FKG UGM tidak hanya berbicara mengenai persoalan klinis, tetapi juga menunjukkan bagaimana isu kesehatan gigi anak dapat menjadi pintu masuk kolaborasi internasional.
Dari materi yang dipaparkan dalam konferensi terlihat bahwa CoE Pediatric Orofacial Habits FKG UGM telah mengembangkan jejaring akademik dengan sejumlah institusi luar negeri. Kolaborasi tersebut membuka peluang pertukaran pengetahuan, pengembangan riset bersama, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang kedokteran gigi anak.
Dalam konteks kesehatan masyarakat, kerja sama semacam ini menjadi penting karena tantangan tumbuh kembang kraniofasial pada anak tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan lokal semata. Perubahan pola hidup, urbanisasi, hingga transformasi lingkungan kesehatan anak menghadirkan tantangan baru yang membutuhkan pendekatan lintas disiplin dan lintas negara.

Menempatkan Pencegahan sebagai Prioritas
Partisipasi IKGA FKG UGM dalam IIPDAC 19 menunjukkan pergeseran paradigma yang semakin kuat dalam dunia kedokteran gigi anak: dari pendekatan kuratif menuju preventif.
Di tengah tingginya prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak Indonesia, pesan yang dibawakan Prof. Sri Kuswandari menjadi relevan. Upaya menjaga pertumbuhan kraniofasial yang sehat tidak hanya menjadi tanggung jawab dokter gigi, melainkan memerlukan keterlibatan keluarga, sekolah, dan sistem kesehatan secara keseluruhan.
Kehadiran FKG UGM di forum internasional tersebut sekaligus menegaskan posisi perguruan tinggi sebagai penggerak inovasi yang menjembatani penelitian, pendidikan, dan kebutuhan masyarakat.
Bagi Prof. Sri Kuswandari, masa depan kesehatan gigi anak tidak sekedar ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata, melainkan oleh kemampuan mendeteksi risiko sejak dini.
“Ketika kebiasaan yang berpotensi mengganggu pertumbuhan dapat dikenali lebih awal, kita memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk menjaga kualitas tumbuh kembang anak secara optimal,” ujarnya.
Dengan pendekatan itu, upaya membangun generasi yang sehat tidak dimulai dari ruang perawatan, melainkan dari kesadaran untuk mencegah masalah sebelum ia tumbuh menjadi beban yang lebih besar.
(Kontributor: drg. Fitta, Redaksi: Andri Wicaksono)