Berita

/

Berita Terbaru

Departemen Biomedika FKG UGM Kembangkan Teknologi Analisis Sel, Meretas Tantangan Infeksi dan Regenerasi Jaringan

Di tengah meningkatnya ancaman resistensi antibiotik & tingginya kasus penyakit periodontal yang menyebabkan kerusakan jaringan penyangga gigi, para peneliti di FKG UGM berupaya mencari terobosan baru melalui pengembangan biomaterial cerdas dan teknologi analisis sel mutakhir. Upaya tersebut membuka peluang lahirnya terapi regeneratif dan sistem penghantaran vaksin yang lebih efektif sekaligus memperlihatkan meningkatnya kapasitas riset kesehatan Indonesia di tingkat global.

Harapan itu mengemuka disampaikan oleh Kepala Departemen Biomedika FKG UGM, drg. Ruslin, M.Kes., Ph.D. mengenai teknologi analisis sel yang diselenggarakan FKG UGM bersama mitra industri internasional (09/06/2026). Forum tersebut mempertemukan peneliti, mahasiswa, dan pelaku industri untuk membahas perkembangan terbaru dalam bidang pencitraan sel, analisis metabolisme sel, hingga rekayasa biomaterial untuk kebutuhan kesehatan masa depan.

Di hadapan peserta seminar, Guru Besar FKG UGM Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D.memaparkan berbagai penelitian yang tengah dikembangkan untuk menjawab persoalan yang selama ini menjadi tantangan dalam bidang kedokteran gigi, terutama pada kasus infeksi kronis.

Menurut Prof. Ika, banyak material regeneratif yang menunjukkan hasil baik dalam kondisi normal, tetapi kehilangan efektivitas ketika digunakan pada jaringan yang mengalami infeksi.

“Dalam kondisi infeksi, lingkungan jaringan menjadi lebih asam sehingga berbagai perancah atau scaffold yang ditanamkan sering mengalami degradasi lebih cepat. Akibatnya, terapi tidak dapat bekerja secara optimal,” ujarnya.

Kondisi tersebut mendorong tim peneliti mengembangkan multifunctional scaffold, yakni biomaterial yang tidak hanya mampu mendukung regenerasi jaringan, tetapi juga tetap stabil pada lingkungan infeksi dan memiliki kemampuan antibakteri.

Persoalan ini menjadi semakin penting mengingat dunia kesehatan saat ini menghadapi ancaman resistensi antibiotik yang terus meningkat. Ketergantungan terhadap antibiotik dalam berbagai terapi mulai dipertanyakan efektivitas jangka panjangnya. Dalam konteks itulah, riset biomaterial menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan.

Memanfaatkan Potensi Lokal

Menariknya, sebagian penelitian tersebut memanfaatkan material alami yang tersedia di Indonesia. Berbagai bahan biologis dieksplorasi untuk menghasilkan biomaterial yang aman bagi tubuh sekaligus memiliki aktivitas antibakteri.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi kesehatan tidak selalu harus bertumpu pada teknologi impor yang mahal. Kekayaan biodiversitas Indonesia justru dapat menjadi sumber lahirnya produk kesehatan baru yang memiliki daya saing internasional.

Namun penelitian FKG UGM tidak berhenti pada pengembangan biomaterial. Tim peneliti juga tengah mengembangkan nanopartikel karbonat apatit yang dilapisi eksosom untuk kebutuhan imunomodulasi dan penghantaran antigen.

Teknologi ini berangkat dari pemahaman bahwa rongga mulut memiliki kepadatan sel dendritik yang sangat tinggi, bahkan lebih banyak dibandingkan sejumlah jaringan mukosa lain di dalam tubuh.

“Kondisi tersebut membuka peluang besar untuk pengembangan vaksin mukosal maupun teknologi imunomodulator berbasis rongga mulut,” kata Prof. Ika.

Dalam berbagai pengujian laboratorium, nanopartikel yang dikembangkan tim peneliti menunjukkan kemampuan internalisasi yang baik ke dalam sel serta tingkat kompatibilitas biologis yang menjanjikan.

Lebih jauh, hasil penelitian memperlihatkan bahwa material tersebut memiliki performa yang kompetitif dibandingkan aluminium hidroksida atau alum, adjuvan vaksin yang selama ini digunakan secara luas dan telah memperoleh pengakuan internasional.

Temuan ini memiliki arti strategis karena menunjukkan bahwa peneliti Indonesia berpotensi menghadirkan alternatif teknologi kesehatan yang selama ini masih didominasi negara-negara maju.

Melihat Sel Secara Real Time

Seminar tersebut juga menghadirkan Jowin Ng dari Agilent Technologies Singapura yang memperkenalkan perkembangan teknologi analisis sel generasi terbaru.

Menurut Jowin, paradigma penelitian biomedis kini mulai bergeser dari pengamatan statis menuju pemantauan sel secara real time.

Selama bertahun-tahun, banyak penelitian mengandalkan metode endpoint assay, yaitu pengukuran yang dilakukan pada satu titik waktu tertentu. Pendekatan tersebut dinilai belum mampu menggambarkan seluruh dinamika biologis yang terjadi di dalam sel.

“Teknologi real-time cell analysis memungkinkan peneliti memantau perubahan sel secara terus-menerus, bahkan dalam hitungan detik. Dengan cara ini kita bisa memahami proses biologis secara lebih lengkap,” ujarnya.

Teknologi tersebut memungkinkan peneliti mempelajari bagaimana sel merespons obat, material biomedis, maupun agen infeksi dalam waktu nyata. Informasi yang dihasilkan menjadi lebih kaya dibandingkan metode konvensional yang hanya memberikan gambaran sesaat.

Bagi dunia kedokteran gigi, kemampuan tersebut memiliki arti penting karena dapat mempercepat pengembangan biomaterial, terapi regeneratif, penelitian biofilm, hingga teknologi vaksin.

Membangun Kemandirian Sains

Di balik diskusi mengenai nanopartikel, eksosom, dan pencitraan konfokal, seminar tersebut sesungguhnya memperlihatkan arah baru perkembangan pendidikan tinggi kesehatan di Indonesia.

Perguruan tinggi tidak lagi sekadar berperan sebagai lembaga penghasil lulusan, melainkan juga pusat penciptaan pengetahuan dan teknologi.

FKG UGM menjadi salah satu contoh bagaimana institusi pendidikan berupaya masuk ke wilayah riset terdepan melalui pengembangan teknologi regeneratif, organ-on-chip, biosensor, hingga analisis metabolisme sel.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa kemampuan penelitian di Indonesia terus berkembang dan semakin siap berkompetisi di tingkat internasional.

Meski demikian, tantangan masih besar. Keterbatasan fasilitas, pendanaan riset, serta kebutuhan kolaborasi multidisiplin tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.

Karena itu, kemitraan antara perguruan tinggi dan industri seperti yang terbangun dalam seminar ini dinilai penting untuk mempercepat hilirisasi hasil penelitian agar tidak berhenti di laboratorium.

Bagi kalangan akademik, pesan yang mengemuka dari forum tersebut cukup jelas. Masa depan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang dibeli dari luar negeri, melainkan juga oleh kemampuan bangsa membangun ekosistem riset yang kuat dan berkelanjutan.

Denyut laboratorium kampus, terus menumbuhkan harapan. Pada waktunya, inovasi biomaterial, teknologi vaksin, maupun terapi regeneratif yang digunakan masyarakat dunia akan lahir dari penelitian yang dikerjakan oleh  anak bangsa.

(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
25 Juni 2026

Anestesi Lokal Pada Implant Dental, Ketepatan Teknik Lebih Penting Daripada Jenis Obat

24 Juni 2026

FKG UGM Lantik 47 Dokter Gigi Baru, Tekankan Integritas dan Semangat Pengabdian Masyarakat

24 Juni 2026

Kisah drg. Adinda, Alumni FKG UGM Ikuti Program Penugasan Khusus Kemenkes RI di NTT

id_ID