Universitas Gadjah Mada menggelar upacara bendera memperingati Hari Lahir Pancasila. Upacara yang diikuti ribuan sivitas akademika UGM berlangsung di halaman Balairung UGM, Senin (1/6) dipimpin langsung oleh Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D.
Rektor UGM dalam amanatnya mengingatkan bahwa Pancasila merupakan jiwa dan pedoman hidup yang berperan penting bagi pemersatu bangsa. Mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, nilai-nilai dasar negara ini ditekankan tidak menjadi alat penyeragaman, melainkan nadi yang memperkuat kesatuan di tengah tantangan arus globalisasi, pergeseran geopolitik internasional, hingga perjumpaan perspektif ideologi yang berbeda-beda.
Universitas Gadjah Mada, yang meneguhkan jati diri sebagai Universitas Pancasila, berupaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pengembangan keilmuan serta penguatan karakter kepribadian generasi penerus bangsa. Hal ini dibuktikan dengan langkah menjangkau daerah afirmasi 3T (Terdepan, Terpencil, dan Terluar), menyediakan platform pembelajaran terbuka, serta mengedepankan kolaborasi antarprofesi. “Pembangunan tanpa landasan ideologi akan rapuh hingga melahirkan ketimpangan dan dehumanisasi,” ungkapnya.
Penerapan Nilai Pancasila di FKG UGM
Dikatakan Rektor, manifestasi nilai dasar negara perlu dibumikan dalam praktik kehidupan sehari-hari guna mencegah ketimpangan di masyarakat. Di sektor kesehatan, pencegahan ketimpangan ini diterjemahkan melalui ketersediaan akses pelayanan medis yang merata. Selaras dengan amanat tersebut, Fakultas Kedokteran Gigi UGM turut berupaya mengurangi sentralisasi perawatan gigi spesialistik yang selama ini dominan berada di Pulau Jawa.
FKG UGM melalui Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial secara berkala mengirimkan tenaga medisnya melayani masyarakat di daerah. Contohnya di RSUD H. Badaruddin Kasim, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan pada 28-29 November 2025, serta RSUD Patut Patuh Patju, Lombok Barat pada 17-21 November 2025. Jangkauan ini memastikan tercapainya keadilan sosial bagi seluruh rakyat dalam memperoleh fasilitas kesehatan yang setara.
Pada cakupan regional, upaya meningkatkan kelayakan hidup dan kesehatan gigi guru juga tidak terlwatkan. FKG UGM menggandeng PT Haleon menyelenggarakan program pembuatan gigi tiruan bagi 170 guru di Kota Yogyakarta pada 26 Mei 2026 lalu. Para guru menjalani pemeriksaan klinis, pembersihan gigi, penambalan, hingga pencabutan sisa akar. Serangkaian tahap ini dilakukan sebagai persiapan menuju tahap pencetakan massal pada Juli dan pemasangan di bulan Agustus.

Sementara itu, dukungan terhadap kemandirian industri kesehatan terus didorong agar negara terlepas dari ketergantungan produk impor. Hingga tahun 2024, FKG UGM telah menghilirisasi 15 produk hasil kolaborasi dengan industry diantaranya adalah Gamacha, Cerrafold, Ceraspon, Clarisamin, Propagel, Dental Silkbon, Propasdent, Stem Rejuv, Berwyndent, Beauty Vamp, Corian D Lipbalm, Cinnacare Roll On Antibakteri, hingga alat seperti Gama Dentical XR, LIQUIVERN UA-6, dan Inovia.
Di tengah dorongan global menuju praktik kedokteran gigi yang ramah lingkungan, tim peneliti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) berhasil mengembangkan bahan tambal gigi berbasis serat alami sutera Wajo. Inovasi yang diberi nama Dental Silkbon ini menjadi langkah konkrit menuju penggunaan material dental yang berkelanjutan dan berasal dari sumber daya lokal Indonesia.
Dental Silkbon, material kesehatan dari serat kepompong ulat sutera Wajo (Bombyx mori) hasil penelitian tim Prof. Dr. drg. Siti Sunarintyas, M.Kes. Pemanfaatan material lokal sebagai bahan penguat tambalan gigi yang mampu mereduksi biaya produksi sejalan dengan prinsip persatuan Indonesia dalam membangun ketahanan nasional. Produk ini dirancang sebagai penguat bahan tambal gigi agar lebih kuat dan tahan lama dibandingkan resin komposit konvensional. Selain untuk tambalan besar, bahan ini juga dapat digunakan sebagai penahan ortodontik, splinting, hingga bahan prostodontik.
Selain unggul secara mekanik, Dental Silkbon juga dinilai lebih ekonomis. Harganya diperkirakan hanya separuh dari produk impor serupa karena seluruh komponennya berasal dari bahan dalam negeri. “Produk ini ramah lingkungan, lebih terjangkau, dan memperkuat kemandirian industri kedokteran gigi dalam negeri,” jelas Prof. Narin.
Penulis: Fajar Budi Harsakti
Foto: Fajar Budi Harsakti