Ketegangan bukan hal yang asing, dalam rumah tangga lembaga akademik seperti pada Fakultas. Menjelang akhir tahun anggaran, suara-suara berbeda kerap bertemu: kepentingan fakultas, aspirasi departemen, kegelisahan dosen, hingga tuntutan administrasi yang tak pernah berhenti. Bagi sebagian orang, ini sekadar rutinitas birokrasi. Bagi sebagian lain, inilah medan sunyi kepemimpinan akademik. Paparan oleh Wawan Mas’udi, S.IP., M.P.A., Ph.D dari Fisipol UGM yang dimoderatori oleh drg. Anrizandy Narwidina, MDSc, Sp.KGA, Ph.D membuka tabir mahligai rumah tangga institusi pendidikan tinggi, pada workshop Edutech Sociopreneur untuk kampus berdampak & berkelanjutan di FKG UGM.
“Setiap tahun, ketegangan itu selalu ada. Terutama soal prioritas,” ujar Wawan, mengenang banyak malam panjang yang dihabiskan bukan untuk memerintah, melainkan mendengar.
Ia bukan sedang berbicara tentang politik nasional atau pemerintahan daerah bidang keilmuannya sehari-hari, melainkan tentang bagaimana memimpin sebuah fakultas di tengah kompleksitas universitas besar. Di sinilah, katanya, kepemimpinan akademik tak bisa disederhanakan menjadi soal jabatan.
‘MENDENGAR’, BUKAN SEKADAR MENDENGAR
Dalam dunia kampus, kata dialog sering terdengar klise. Tetapi baginya, dialog adalah praktik yang melelahkan sekaligus menentukan. Bukan sekadar hearing, tetapi listening, mendengar dengan kesediaan untuk memahami, merenungkan, dan mengakomodasi.
“Banyak orang merasa sudah mendengar, padahal yang terjadi hanya suara masuk telinga kanan, keluar telinga kiri,” katanya sambil tersenyum tipis.
Ia belajar bahwa perintah (order) memang kadang diperlukan. Namun terlalu banyak perintah justru melumpuhkan daya hidup akademik. Ilmu pengetahuan, katanya, tidak tumbuh dari instruksi, tetapi dari ruang aman untuk berpikir berbeda.
UNIVERSITAS YANG TIDAK PERNAH SEDERHANA
Universitas, menurut pengalamannya, bukan organisasi yang rapi dan linear. Ia hidup dari perbedaan. Dari ego keilmuan. Dari sejarah panjang, senioritas, dan relasi personal yang tak tertulis di bagan organisasi.
“Ini rumah besar dengan banyak kepala,” ujar Wawan
Di fakultas, ada departemen yang merasa paling tua, ada yang merasa paling relevan, ada yang diam-diam merasa terpinggirkan. Semua itu nyata. Menyangkalnya hanya akan melahirkan konflik yang lebih keras.
Karena itu, sejak awal ia memilih satu sikap: tidak menafikan kenyataan. Bahwa universitas memang terfragmentasi. Bahwa konsensus tidak datang dengan sendirinya. Bahwa memimpin berarti siap lelah secara emosional.
ILMU PENGETAHUAN DAN KEGELISAHAN SOSIAL
Di sela-sela urusan tata kelola, kegelisahan lain terus mengusik: untuk apa ilmu pengetahuan ini?
Wawan menyaksikan langsung ketimpangan sosial di Yogyakarta daerah yang sering dipuji karena pendidikan dan pariwisatanya, tetapi menyimpan luka sosial di kampung-kampung pinggiran. Ia melihat bagaimana jurang kaya dan miskin tak juga mengecil, meski jargon pembangunan terus berganti.
“Kalau ilmu hanya berhenti di jurnal, kita gagal,” tegas Wawan.
Dari kegelisahan itu, lahir satu komitmen sederhana namun berat: ilmu pengetahuan harus berdampak. Bukan dalam pengertian slogan, melainkan dalam arah riset, pilihan topik, dan keberanian mengambil posisi keilmuan.
Perubahan iklim, transformasi digital, inklusi sosial semua itu awalnya terasa jauh dari disiplin ilmu sosial politik. Tapi justru di situlah tantangannya: membawa ilmu keluar dari zona nyaman.

JEJARING DAN JALAN PULANG KE MASYARAKAT
Dengan keterbatasan anggaran kampus, ia menyadari satu hal: universitas tidak bisa hidup dari dirinya sendiri. Ia harus membuka diri.
Kerja sama dengan pemerintah daerah menjadi pintu masuk. Awalnya sederhana diskusi perencanaan, pendampingan kebijakan. Lama-lama, hubungan itu tumbuh menjadi kepercayaan.
“Daerah sebenarnya butuh universitas. Mereka hanya sering tidak tahu harus mulai dari mana,” lugasnya.
Di luar negeri, cerita lain terjadi. Kewajiban mengirim mahasiswa ke universitas mitra justru memaksanya membangun jejaring global secara agresif. Bukan demi peringkat internasional, tetapi agar mahasiswa dan dosen belajar melihat dunia lebih luas.
Kadang melelahkan. Kadang membuat frustasi. Tapi ia percaya, universitas yang menutup diri akan mati pelan-pelan.
MENJAGA WARGA, BUKAN HANYA REPUTASI
Di balik semua capaian buku terbit, jejaring internasional, reputasi keilmuan ada satu hal yang baginya tak boleh dilupakan: manusia di dalamnya.
Ia berbicara tentang tenaga kependidikan. Tentang karyawan yang jarang masuk laporan kinerja, tetapi menopang kehidupan kampus sehari-hari. Tentang dosen muda yang tertekan target, dan dosen senior yang memikul tanggung jawab moral.
“Tidak ada gunanya kita unggul kalau warganya lelah dan tidak sejahtera,” kata Wawan lirih.
Maka kepemimpinan, baginya, bukan soal meninggalkan warisan kebijakan, tetapi memastikan rumah bernama universitas tetap layak dihuni.
KEPEMIMPINAN YANG TIDAK HEROIK
Pemimpin tidak menyebut dirinya teladan, juga tidak menawarkan resep instan. Yang ia bagikan hanyalah pengalaman: bahwa kepemimpinan akademik adalah kerja sunyi, penuh kompromi, dan jarang mendapat tepuk tangan.
Namun justru di sanalah maknanya.“Ilmu pengetahuan itu panjang umurnya. Kita hanya penjaga sementara,” katanya menutup pembicaraan.
Di tengah dunia kampus yang makin bising oleh target dan angka, mungkin kalimat itulah yang paling manusiawi: bahwa kepemimpinan akademik, pada akhirnya, adalah tentang menjaga arah dan menjaga satu sama lain.
(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti)