Berita

/

Berita Terbaru

Wujudkan Fasilitas Pembelajaran Modern, FKG UGM Resmi Memulai Pembangunan Gedung Harkati Dewanto dan Subagyo Harjowiyoto

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) secara resmi memulai pengerjaan fisik pembangunan kembali Gedung Harkati Dewanto dan Subagyo Harjowiyoto melalui upacara peletakan batu pertama (groundbreaking) yang berlangsung khidmat pada Selasa, 13 oktober 2026 di kompleks FKG UGM.

Pembangunan gedung baru berlantai enam ini dibiayai secara mandiri (swadana) dan ditargetkan rampung dalam waktu 10 bulan. Langkah strategis ini dilakukan untuk memperkuat fasilitas pembelajaran, riset kedokteran gigi modern berbasis teknologi digital (digital dentistry), serta mendukung konsep sharing space antar-unit di lingkungan Universitas Gadjah Mada.

Gedung baru ini dirancang untuk menunjang berbagai kegiatan akademik secara terintegrasi. Lantai pertama akan difungsikan sebagai laboratorium phantom dan fasilitas pendukung. Lantai kedua diperuntukkan sebagai sarana pembelajaran mahasiswa, sedangkan lantai ketiga disiapkan khusus untuk mendukung program kelas internasional. Selanjutnya, lantai keempat difungsikan untuk pengelolaan akademik dan pendidikan pascasarjana. Pada lantai kelima, gedung ini dilengkapi dengan pusat pendidikan, pelatihan, serta pengembangan teknologi digital dentistry. Sementara itu, lantai enam dibangun sebagai hall multifungsi berkapasitas sekitar 200 orang.

Dekan FKG UGM, Prof. Dr. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., menegaskan bahwa proyek pembangunan ini merupakan wujud nyata dari komitmen FKG UGM untuk terus bertransformasi dan meningkatkan mutu pendidikan kedokteran gigi Indonesia.

“Hari ini menjadi momen kebersamaan kita sekalian untuk merencanakan gedung ini bisa dibangun selesai tepat waktu dengan kualitas yang kita harapkan bersama. Dengan selesainya gedung ini tepat waktu, program pengembangan pendidikan kedokteran gigi ke depan dapat berjalan sesuai dengan apa yang kita cita-citakan,” ujar Prof. Suryono.

Selain mewujudkan fasilitas modern, FKG UGM juga mendukung penuh kebijakan tata kelola ruang efisien yang digalakkan oleh universitas. Direktur Aset UGM, Dr. Eng. Ir. Ahmad Sarwadi, M.Eng., yang hadir mewakili Rektor UGM, menyampaikan apresiasinya terhadap perencanaan teknis gedung yang matang dan berwawasan masa depan. Ahmad Sarwadi menyoroti pentingnya implementasi konsep pembagian ruang (sharing space) di lingkungan kampus agar pemanfaatan fasilitas kedokteran gigi dan unit akademik lainnya dapat berjalan secara optimal.

“Satu ruang yang terbangun hendaknya mampu memberi kebermanfaatan luas bagi seluruh civitas akademika UGM. Melalui optimalisasi dan spirit kesetaraan pemanfaatan fasilitas (sharing space), kita tidak hanya membangun sarana fisik, tetapi juga memperkuat kolaborasi lintas disiplin demi kemajuan ilmu pengetahuan dan pelayanan masyarakat,” ungkap Ahmad Sarwadi saat memberikan sambutan.

Acara peletakan batu pertama ini turut dihadiri oleh pimpinan fakultas di lingkungan UGM, jajaran senat, pimpinan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) UGM Prof. Soedomo, pengurus alumni (KAKGIGAMA), mitra perbankan (Bank Mandiri, BNI, BPD DIY), serta jajaran tim konsultan perencana PT Andaru Konser Jagat, kontraktor pelaksana PT Cipta Perkasa Prima, dan pengawas PT Gunung Giri Engineering Consultant.

Selama masa pembangunan 10 bulan ke depan, jajaran pimpinan FKG UGM juga memohon maaf dan pengertian dari masyarakat kampus serta rumah sakit sekitar, seperti RSUP Dr. Sardjito dan RSGM UGM, atas potensi gangguan kenyamanan dan lalu lintas di sekitar area proyek.

Pembangunan Gedung Harkati Dewanto dan Subagyo Harjowiyoto ini menjadi tonggak sejarah baru bagi FKG UGM dalam mencetak tenaga medis kedokteran gigi yang unggul, profesional, dan berdaya saing global.

Penulis: Dita, Dody
Foto: Fajar

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
12 Oktober 2026

Pembangunan Gedung Baru FKG UGM Segera Dimulai

12 Oktober 2026

Debat Eksternal PEMIRA 2026 FKG UGM: Uji Gagasan di Hadapan Publik

9 Oktober 2026

Dosen FKG UGM Bawa Nama Indonesia di Forum Internasional Gangguan Orofasial di Bali