Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Teknik Penyinaran Pulsed-Delay Terbukti Kurangi Kebocoran Mikro pada Tambalan Gigi

Sebuah penelitian dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada membuktikan bahwa cara menyinari tambalan gigi ternyata menentukan seberapa rapat tambalan itu menempel. Dr. drg. Yulita Kristanti, M.Kes., Sp.KG(K), bersama tim peneliti dari Departemen Ilmu Konservasi Gigi FKG UGM, menemukan bahwa teknik penyinaran pulsed-delay menghasilkan kebocoran mikro paling rendah dibandingkan dua teknik lainnya pada restorasi resin komposit bulk-fill viskositas rendah kavitas kelas I. Penelitian ini dipublikasikan dalam Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada pada April 2016, menggunakan 27 gigi premolar yang ditambal dengan material resin komposit jenis Smart Dentin Replacement (SDR) dan diuji di laboratorium FKG UGM, Yogyakarta. Temuan ini penting karena kebocoran mikro adalah salah satu alasan utama mengapa tambalan gigi bisa gagal dalam jangka panjang.

Tambalan gigi berbahan resin komposit sudah lama menjadi pilihan utama dokter gigi karena tampilannya yang menyerupai warna gigi asli. Namun ada satu kelemahan yang tak kasat mata, selama proses pengerasan (polimerisasi), material ini menyusut. Penyusutan itulah yang membuka celah kecil antara tambalan dan dinding kavitas, yang dikenal sebagai kebocoran mikro. Celah sekecil itu cukup untuk menjadi pintu masuk bakteri, cairan mulut, dan pigmen makanan. Lama-kelamaan, kondisi ini bisa menyebabkan karies sekunder di bawah tambalan, sensitivitas gigi, bahkan kegagalan restorasi secara keseluruhan. Pasien mungkin merasa tambalannya baik-baik saja dari luar, padahal di dalam sudah terjadi kerusakan diam-diam.

Untuk mengatasi masalah ini, dikembangkanlah material bulk-fill viskositas rendah yang mengandung modulator polimerisasi khusus dalam monomernya. Material ini dirancang agar seluruh kavitas bisa diisi sekaligus dalam satu lapisan, tanpa perlu teknik berlapis-lapis (incremental oblique) yang memakan waktu lebih lama. Meski begitu, pertanyaan berikutnya muncul, apakah cara menyinarinyapun ikut berpengaruh?

Tim peneliti membagi 27 gigi premolar pasca pencabutan menjadi tiga kelompok, masing-masing ditambal dengan resin komposit bulk-fill viskositas rendah, lalu disinari menggunakan alat Light Emitting Diode (LED) dengan tiga teknik berbeda. Teknik konvensional menyinari dengan intensitas penuh 850 mW/cm² secara konstan selama 20 detik. Teknik ramped memulai penyinaran dari intensitas rendah 200 mW/cm², naik bertahap hingga mencapai 850 mW/cm² dalam 5 detik pertama, lalu dilanjutkan dengan intensitas penuh selama 15 detik. Sementara itu, teknik pulsed-delay bekerja dengan cara yang paling unik: penyinaran dilakukan dalam 25 siklus selama 20 detik total, di mana setiap siklus selama 0,8 detik terdiri dari nyala selama 0,6 detik dan jeda (off) selama 0,2 detik.

Setelah ditambal, semua spesimen direndam dalam larutan metilen biru 2% selama 24 jam, lalu dibelah secara vertikal dari arah bukal ke palatal dan diamati di bawah mikroskop stereo dengan perbesaran 50 kali. Seberapa jauh larutan biru itu meresap ke dalam celah tambalan itulah yang diukur sebagai nilai kebocoran mikro.

Hasilnya tegas: teknik pulsed-delay menghasilkan kebocoran mikro paling rendah. Uji statistik ANAVA satu jalur dan uji LSD menunjukkan perbedaan bermakna antara pulsed-delay dengan konvensional (p<0,05), dan antara pulsed-delay dengan ramped (p<0,05). Sebaliknya, antara teknik ramped dan konvensional tidak ditemukan perbedaan yang bermakna (p>0,05).

Kunci keunggulan teknik pulsed-delay ada pada interval waktu di antara siklus penyinarannya. Jeda sepersekian detik itu ternyata memberi ruang bagi material resin komposit untuk bergerak dan mengalir sebelum mengeras sepenuhnya.

Dalam dunia polimerisasi resin komposit, ada yang disebut fase pre-gel, yaitu periode ketika material belum sepenuhnya kaku. Pada fase ini, material masih bisa bergerak untuk mengisi celah dan mengompensasi penyusutan yang terjadi. Semakin lama fase pre-gel berlangsung, semakin baik adaptasi material terhadap dinding kavitas.

Teknik pulsed-delay menghasilkan total energi sebesar 12,75 J/cm², lebih rendah dibandingkan teknik ramped dan konvensional yang keduanya menghasilkan sekitar 17 J/cm². Total energi yang lebih kecil ini memperlambat reaksi polimerisasi, memperpanjang fase pre-gel, dan memberi waktu lebih bagi monomer untuk bergerak bebas mengisi celah, sehingga tekanan internal (contraction stress) yang terbentuk lebih kecil.

“Teknik penyinaran pulsed-delay dapat digunakan untuk aktivasi resin komposit yang ditujukan sebagai lapisan pengganti dentin sebab memiliki tingkat kebocoran mikro paling rendah dibanding teknik penyinaran ramped dan konvensional.” Fitria Ayuningtyas Simamora, Tunjung Nugraheni, dan Yulita Kristanti, dalam kesimpulan penelitian.

Adapun teknik ramped dan konvensional menghasilkan total energi yang hampir setara, sehingga nilai kebocoran mikro keduanya pun tidak jauh berbeda secara statistik. Ini menegaskan bahwa bukan sekadar cara penyinaran yang menentukan, melainkan berapa besar total energi yang diserap material selama proses tersebut.

Temuan ini membawa pesan praktis bagi para dokter gigi yang bekerja dengan material restorasi resin komposit bulk-fill. Selama ini, banyak klinisi lebih memperhatikan pemilihan material dan teknik aplikasinya, sementara teknik penyinaran sering dianggap faktor sekunder. Penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan sesederhana memilih mode penyinaran pada alat LED bisa berdampak langsung pada kualitas dan daya tahan tambalan.

Penelitian ini juga membuka pintu bagi studi lanjutan. Tim peneliti menyarankan perlunya uji kekerasan mikro (microhardness) dan uji adaptasi tepi marginal dengan berbagai teknik penyinaran, untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang performa material bulk-fill viskositas rendah di bawah kondisi klinis yang beragam.

Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti

Foto : FreePik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
15 Juli 2026

Pasta Gigi Fluorida Terbukti Pulihkan Permukaan Email Gigi Pasca Bleaching

15 Juli 2026

Kawat, Sekrup, dan Wajah yang Kembali Simetris: Teknik Baru Penanganan Fraktur ZMC dari FKG UGM

15 Juli 2026

Teh Hijau Terbukti Redakan Peradangan Pulpa Setelah Bleaching Gigi

id_ID