Berita

/

Artikel, Berita Terbaru

Strategi Rekonstruksi Tulang Rahang Menggunakan Bone Graft Autologous

Cedera atau defek tulang rahang (mandibula)—baik akibat trauma, infeksi, tumor, maupun tindakan pembedahan—menjadi tantangan besar dalam bidang bedah maksilofasial. Rekonstruksi tulang rahang membutuhkan bahan graft yang mampu mempercepat regenerasi dengan tetap aman digunakan. Bone graft autologous (diambil dari tubuh pasien sendiri) sering dipilih karena memiliki risiko penolakan imun yang sangat rendah dan mendukung proses penyembuhan tulang secara optimal.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa FKG UGM, Yustinus Mulyaka dengan bimbingan drg. Prihartiningsih, SU, Sp.BM(K) dan drg. Bambang Dwiraharjo, Sp.BM(K) membandingkan efektivitas autologous cancellous bone graft dengan autologous bone marrow graft pada proses penyembuhan tulang, sehingga dapat menjadi dasar pertimbangan dalam strategi rekonstruksi tulang rahang.

Desain Penelitian

Penelitian dilakukan menggunakan hewan coba kelinci dengan dibuat kavitas tulang pada mandibula. Defek tersebut kemudian diisi dengan dua jenis graft berbeda: cancellous bone graft dan bone marrow graft, serta dibandingkan dengan kelompok kontrol tanpa graft.

Evaluasi dilakukan pada hari ke-7 dan ke-14 pasca-aplikasi, dengan pemeriksaan histologis untuk melihat kualitas pembentukan tulang baru.

Temuan Utama

  • Terdapat perbedaan signifikan dalam pembentukan tulang baru antara kelompok cancellous bone graft, bone marrow graft, dan kontrol.
  • Autologous cancellous bone graft terbukti menghasilkan regenerasi tulang yang lebih cepat dan lebih baik dibandingkan bone marrow graft.
  • Bone marrow graft tetap menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding kontrol, meskipun tidak seoptimal cancellous graft.

Implikasi Klinis

Hasil penelitian tersebut memberikan beberapa strategi praktis bagi rekonstruksi tulang rahang:

  1. Pemilihan jenis graft
    • Cancellous bone graft lebih disarankan karena menunjukkan kecepatan dan kualitas penyembuhan yang lebih baik.
    • Bone marrow graft tetap dapat menjadi alternatif jika pengambilan cancellous bone tidak memungkinkan.
  2. Pemantauan dini
    • Perbedaan hasil sudah terlihat pada hari ke-7, sehingga pemantauan awal sangat penting untuk menilai keberhasilan graft.
  3. Pertimbangan klinis
    • Lokasi defek, ukuran tulang yang hilang, serta kondisi vaskularisasi sekitar sangat mempengaruhi keberhasilan graft.
    • Autologous graft unggul karena memiliki kombinasi sifat osteogenik, osteoinduksi, dan osteokonduksi.

***

Autologous cancellous bone graft terbukti lebih efektif dalam mempercepat pembentukan tulang baru dibandingkan autologous bone marrow graft. Temuan ini memperkuat posisi cancellous bone graft sebagai pilihan utama dalam strategi rekonstruksi tulang rahang, dengan tetap mempertimbangkan kondisi klinis pasien dan ketersediaan sumber graft.

Referensi
YUSTINIANUS MULYAKA, Drg. Prihartiningsih, SU, Sp.BM(K); drg. Bambang Dwiraharjo, Sp.BM(K), PERBANDINGAN AUTOLOGOUS CANCELLOUS BONE GRAFT DENGAN AUTOLOGOUS BONE MARROW GRAFT PADA PROSES PENYEMBUHAN TULANG (Penelitian Eksperimental Pada Kelinci), https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/81378

Penulis: Rizky B. Hendrawan | Foto: Freepik

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
13 Januari 2026

FKG UGM Menerima Kunjungan Studi Banding FKG UNISULA, Bahas Rencana Pendirian Prodi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

12 Januari 2026

Dies Natalis ke-78 FKG UGM: Dari Jalan Sehat hingga Transformasi Kesehatan Gigi Berbasis Sociopreneurship

12 Januari 2026

78 Tahun FKG UGM ‘Meretas’ Air Hujan Menjadi Air Minum, Dorong Kampus Hijau Ramah Lingkungan

id_ID