Perjalanan ditempuh oleh 150 siswa-siswi SMA Negeri 3 Boyolali beserta para guru ke Fakultas Kedokteran Gigi UGM pada Jumat pagi (11/05/2026) bukan sekadar agenda kunjungan sekolah biasa. Meneropong harapan dari Boyolali menuju Kampus Biru, tersimpan asa besar, melihat masa depan lebih dekat, menyentuh atmosfer perguruan tinggi UGM.
Para siswa kelas XI tampak antusias menatap gedung-gedung akademik, laboratorium, hingga fasilitas pendidikan yang selama ini hanya mereka lihat melalui media sosial dan cerita para alumni.
Perwakilan sekolah yang membacakan sambutan Kepala Sekolah menyebut kunjungan tersebut sebagai “langkah awal menjemput masa depan”. Ia menegaskan bahwa kedatangan para siswa ke UGM bukan sekadar wisata edukasi, melainkan upaya membangun orientasi hidup dan cita-cita generasi muda.
“Menjadi seorang dokter gigi bukan hanya soal gelar, tetapi soal pengabdian. Semoga suatu hari nanti ada di antara kalian yang kembali ke kampus ini bukan lagi sebagai tamu, melainkan sebagai mahasiswa,” ujarnya penuh semangat.
Kunjungan itu menjadi momentum penting di tengah semakin ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi negeri. Bagi banyak siswa daerah, kampus seperti UGM kerap terasa jauh, bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara psikologis. Karena itu, pendekatan langsung seperti ini dinilai mampu mematahkan rasa minder sekaligus membuka cakrawala baru.

Dalam sesi pemaparan, dosen drg. Heriati Sitosari, MD.Sc,. Ph.D menjelaskan berbagai program studi, sistem seleksi masuk perguruan tinggi, fasilitas kampus, hingga peluang beasiswa di UGM. Dengan gaya komunikatif dan cair, ia berusaha menghapus kesan bahwa kuliah di universitas ternama hanya diperuntukkan bagi kelompok tertentu.
“Yang angkat tangan ingin masuk UGM, saya doakan semoga keterima,” katanya disambut tepuk tangan dan gelak tawa para siswa.
Ia menegaskan bahwa UGM membuka akses seluas-luasnya bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang ekonomi melalui skema beasiswa dan subsidi UKT. Menurutnya, banyak siswa sebenarnya memiliki kemampuan akademik yang baik, namun sering kali terhambat rasa takut terhadap biaya pendidikan.

Dalam paparannya, dijelaskan bahwa UGM memiliki berbagai jalur bantuan pendidikan mulai dari KIP Kuliah, beasiswa afirmasi daerah 3T, dukungan dari BUMN, yayasan alumni, hingga bantuan dari fakultas dan mitra industri. Bahkan, mahasiswa dengan prestasi akademik tinggi tetap memiliki peluang besar memperoleh bantuan pendanaan meskipun berasal dari keluarga menengah.
Fenomena ini menunjukkan perubahan paradigma pendidikan tinggi di Indonesia. Kampus tidak lagi hanya berlomba mengejar reputasi akademik, tetapi juga dituntut menghadirkan akses pendidikan yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Kunjungan tersebut juga memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi kini mulai aktif membangun komunikasi dengan sekolah-sekolah di daerah. Strategi ini bukan hanya promosi institusi, melainkan bagian dari upaya memperluas pemerataan pendidikan.
Di hadapan para siswa, drg. Sari memaparkan bahwa universitas memiliki 293 program studi dari jenjang sarjana, pasasarjana hingga spesialis, lengkap dengan fasilitas penunjang seperti rumah sakit akademik, perpustakaan pusat, asrama mahasiswa, layanan kesehatan, sarana olahraga, hingga transportasi internal kampus seperti bus “Tayo Gama” dan sepeda kampus.
Bagi sebagian siswa, penjelasan mengenai dunia kedokteran gigi menjadi bagian paling menarik. Pertanyaan demi pertanyaan muncul, mulai dari besaran UKT, prospek kerja lulusan FKG, hingga peluang kuliah melalui jalur internasional atau International Undergraduate Program (IUP).
Menjawab rasa penasaran itu, FKG UGM menjelaskan bahwa lulusan kedokteran gigi tidak hanya bekerja membuka praktik klinik, tetapi juga memiliki peluang di bidang manajemen kesehatan, rumah sakit, BPJS Kesehatan, penelitian, industri kesehatan, hingga kebijakan publik kesehatan.

Dalam sesi diskusi, FKG UGM bahkan mengingatkan siswa agar tidak asal memilih program studi hanya demi “yang penting lolos”. Sikap semacam itu, menurut mereka, berpotensi membuat kursi pendidikan terbuang sia-sia ketika mahasiswa akhirnya mengundurkan diri karena tidak sesuai minat.
“Kalau memilih program studi, tanyakan dulu kepada diri sendiri, apakah sesuai dengan passion? Jangan sampai diterima lalu mundur, karena itu berarti mengambil kesempatan orang lain,” ungkap salah satu narasumber dari pihak fakultas.
Pesan tersebut sangat relevan di tengah meningkatnya fenomena kebingungan karier di kalangan generasi muda. Banyak siswa memilih jurusan berdasarkan tekanan sosial, gengsi, atau sekadar mengikuti teman, bukan berdasarkan pemahaman mendalam terhadap minat dan kompetensinya.
Kunjungan edukatif seperti yang dilakukan SMA Negeri 3 Boyolali ini menjadi contoh bagaimana sekolah dan perguruan tinggi dapat membangun ekosistem pembinaan karier yang lebih sehat dan visioner.

Di akhir acara, terdapat pesan namun penuh makna mendalam kepada para siswa.
“Selain usaha dan doa, restu orang tua adalah hal utama. Insya Allah kalau doa anak dan doa orang tua bertemu, jalan akan dimudahkan,” ujar Dyana Rakhmasari Kusumaningsih, S.E., M.Ec. Dev selaku Ketua Tim Kerja Akademik dan Kemahasiswaan disambut tepuk tangan meriah oleh SMAN 3 Boyolali.
(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti)