Saat berusia delapan tahun, seorang anak laki-laki di Jawa merasakan sesuatu yang aneh di dasar mulutnya. Benjolan kecil itu tidak nyeri, tidak mengganggu, dan ia pun melupakannya. Sepuluh tahun berlalu. Kini ia berusia 18 tahun, dan benjolan itu telah tumbuh menjadi massa sublingual berukuran hampir 6 sentimeter yang menekan lidah, menyempitkan jalan napas, membuatnya sulit menelan dan berbicara. Teman-temannya mulai mengolok-olok penampilannya.
Inilah kasus yang dilaporkan tim dokter dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM dalam jurnal International Journal of Surgery Case Reports (2024). Kasus ini menjadi pengingat keras tentang bahaya mengabaikan lesi di rongga mulut, betapapun tampaknya tidak berbahaya di awal.
Kista yang Tumbuh dalam Diam
Diagnosis yang ditegakkan adalah kista epidermoid sublingual, jenis kista perkembangan yang langka. Kista ini terbentuk dari jaringan ektodermal yang terlapisi epitel skuamosa berlapis, tanpa struktur adneksa kulit seperti folikel rambut atau kelenjar keringat. Secara keseluruhan, hanya 7 persen kista epidermoid terjadi di kepala dan leher, dan 1,6 persen di antaranya muncul di rongga mulut.
Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan lesi isoekogenik soliter bertepi reguler tanpa vaskularisasi menonjol. Hasil MSCT scan dengan ketebalan irisan 1,25 mm memperlihatkan lesi hipodens inhomogen di kavum oris berukuran 57,99 × 55,33 × 41,41 mm. Fine needle aspiration biopsy (FNAB) mengkonfirmasi sel epitel skuamosa dengan massa amorf basofil mengarah ke keratin, tanpa sel ganas. Cairan yang keluar saat pungsi berwarna kuning putih, kental menyerupai pasta keju.
Tim yang terdiri dari drg. Bramasto Purbo Sejati, drg. Dimaz Aryo Nugroho Bandriananto, drg. Cahya Yustisia Hasan, dan drg. Didit Istadi memilih pendekatan intraoral untuk eksisi kista. Pertimbangannya: lesi tidak melampaui fasia submandibula dan tidak meninggalkan impresi pada kulit, sehingga aspek estetika pasien dapat dipertahankan.
Operasi, dan Akhir dari Perundungan
Insisi horizontal sepanjang 6 cm dibuat 2 cm di bawah karunkel sublingual. Diseksi tumpul dilakukan secara hati-hati menggunakan klem arteri bengkok untuk memisahkan kapsul kista dari mukosa sublingual. Ketika kapsul sulit dipisahkan dari perlekatannya di muskulus geniohioid, isi kista dievakuasi terlebih dahulu sebelum kapsul diangkat seluruhnya. Berat total isi kista mencapai 12,9 gram.
Lima hari pasca operasi, pasien kontrol dengan kondisi jaringan sublingual intak, jahitan utuh, tanpa tanda infeksi. Pada hari ke-14, jaringan telah menyatu sempurna.
“Pasien menyatakan bahwa asupan makanan dan pernapasan tidak lagi terganggu. Pasien juga menyampaikan bahwa teman-temannya tidak lagi mengolok-oloknya.”
Catatan itu muncul begitu saja di akhir laporan klinis, tanpa dramaturgi berlebihan. Namun justru di sanalah makna terbesar kasus ini tersimpan: bahwa lesi yang tampak sepele bisa menggerogoti kualitas hidup seseorang selama satu dekade penuh, dari kesehatan fisik hingga kesehatan mental.
Para penulis menekankan bahwa meski kista epidermoid bersifat jinak, sekitar 1 persen dapat bertransformasi menjadi karsinoma sel skuamosa. Semakin dini terdeteksi, semakin sederhana penanganannya dan semakin kecil risikonya.
Reporter: Nanda Ayu – Andri Wicaksono