Kolaborasi akademik antara Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) dan Tokushima University, Jepang, memasuki babak baru. Kehadiran Prof. Eiji Tanaka sebagai Adjunct Professor FKG UGM tidak sekadar menandai bertambahnya jejaring akademik internasional, tetapi juga membuka ruang lebih luas bagi penguatan riset, pertukaran pengetahuan, publikasi ilmiah, serta pengembangan pendidikan kedokteran gigi, khususnya bidang ortodonsia.
Pengangkatan tersebut ditandai dengan penandatanganan Employment Contract Prof. Eiji Tanaka, DDS, Ph.D sebagai Adjunct Professor FKG UGM. Agenda itu kemudian dilanjutkan dengan kuliah pakar yang menghadirkan Prof. Tanaka untuk membagikan pengetahuan dan pengalamannya mengenai Biomechanical Simulation in TMD Management.

Ketua Departemen Ortodonsia FKG UGM, Dr. drg. Niswati Fathmah Rosyida, M.DSc., Sp.Ort., menilai momentum tersebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat hubungan akademis antara FKG UGM dan Tokushima University.
“Hari ini merupakan hari yang sangat istimewa bagi kami di Departemen Ortodonsia dan juga Program Studi Spesialis Ortodonsia, karena kami memiliki agenda yang penting,” ujar drg. Niswati.
Menurut drg. Niswati, pengangkatan Prof. Tanaka bukan sekadar seremoni administratif. Lebih dari itu, penunjukan tersebut diharapkan menjadi pintu masuk menuju kerja sama akademik yang lebih kuat dan berkelanjutan.
“Penandatanganan kontrak hari ini bukan hanya sebuah kegiatan administratif, tetapi ini merupakan langkah awal bagi kami untuk membangun academic collaboration yang lebih kuat dan berkelanjutan antara kedua institusi,” katanya.

Menuju Kolaborasi Riset
Di tengah tuntutan pendidikan kedokteran gigi yang semakin kompleks, kerja sama lintas negara tidak lagi cukup berhenti pada kunjungan akademik atau kuliah tamu. Tantangan pengembangan ilmu menuntut adanya kesinambungan dalam riset, publikasi, mobilitas akademik, dan transfer pengetahuan.
Dalam konteks itulah posisi Adjunct Professor menjadi penting. FKG UGM berharap kehadiran Prof. Tanaka dapat mendorong terbentuknya lebih banyak agenda bersama, mulai dari joint research, penulisan publikasi ilmiah, academic exchange hingga berbagai bentuk kolaborasi di bidang ortodonsia.
drg. Niswati secara khusus menyampaikan harapan tersebut kepada Prof. Tanaka. “We look forward to more opportunities for joint research, writing papers together, academic exchange, and collaboration in orthodontics field,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kerja sama internasional ditempatkan sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas akademik. Pertukaran kepakaran diharapkan menghasilkan pengetahuan baru yang dapat dikembangkan oleh dosen, residen, alumni, sekaligus memberi dampak terhadap perkembangan layanan dan ilmu ortodonsia.
Kuliah Pakar dan Tantangan Ilmu Kedokteran Gigi
Agenda kedua yang tidak kalah penting adalah kuliah pakar Prof. Tanaka mengenai Biomechanical Simulation in TMD Management. Topik tersebut mempertemukan perkembangan teknologi dan pendekatan biomekanika dengan persoalan klinis dalam pengelolaan temporomandibular disorders (TMD). Bagi lingkungan pendidikan spesialis, forum semacam ini memiliki arti penting karena mempertemukan pengalaman akademik internasional dengan kebutuhan pembelajaran klinis dan riset di tingkat lokal.
drg. Niswati berharap materi yang disampaikan Prof. Tanaka dapat memperkaya perspektif para peserta, terutama residen, dosen, dan alumni. “Kami sangat berterima kasih atas kesempatan untuk belajar dari Professor Tanaka. Kami sangat menghargai waktu dan kesediaan beliau untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang Biomechanical Simulation in TMD Management,” ujarnya. Ia menambahkan, kuliah tersebut diharapkan memberi nilai tambah bagi perkembangan Departemen Ortodonsia FKG UGM.
“Saya berharap kuliah pakar hari ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan bagi kita semua, khususnya bagi para residen, dosen, dan juga alumni yang saat ini bergabung secara daring,” katanya.

Jejaring Akademik yang Melampaui Batas Negara
Kerja sama FKG UGM dengan Tokushima University juga memperlihatkan bagaimana jejaring akademik dibangun melalui relasi personal sekaligus kelembagaan. Dalam sambutannya, Dekan FKG UGM mengungkapkan bahwa hubungan akademiknya dengan Prof. Tanaka telah berlangsung sejak dirinya menjabat sebagai Dekan FKG UGM.
“My partnership with Prof. Tanaka began when I was the Dean of Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada,” ujar Dekan FKG UGM.
Karena itu, pengangkatan Prof. Tanaka sebagai Adjunct Professor dipandang sebagai kelanjutan dari hubungan yang telah terbangun sebelumnya.
“Today, of course, I would like to express my gratitude towards Prof. Tanaka that he has accepted his placement in the Adjunct Professor position,” katanya.
Dekan FKG UGM juga mengungkapkan kebanggaannya terhadap kedekatan Prof. Tanaka dengan komunitas akademik kedokteran gigi di Indonesia. Menurutnya, Prof. Tanaka telah dikenal luas di Indonesia dan memiliki jejaring kunjungan akademik ke sejumlah perguruan tinggi kedokteran gigi.
Membuka Jalan bagi Generasi Berikutnya
Yang menarik, kerja sama ini tidak hanya diarahkan untuk kepentingan dosen atau institusi. Kehadiran Prof. Tanaka juga menyentuh langsung ekosistem pendidikan spesialis, terutama para residen yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia profesional dan akademik.
Departemen Ortodonsia FKG UGM berharap para residen memperoleh pengalaman belajar dari perspektif internasional sekaligus memahami bagaimana ilmu kedokteran gigi berkembang melalui kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara.
Dekan FKG UGM secara khusus menyampaikan harapan agar para residen dapat memanfaatkan momentum akademik tersebut untuk terus belajar dan berkembang.
“I hope that the residents are all going to have a great semester, and then will also learn a lot about this,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penting karena kualitas pendidikan spesialis pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kurikulum formal, tetapi juga oleh seberapa luas peserta didik memperoleh paparan terhadap perkembangan ilmu, teknologi, metodologi penelitian, dan pengalaman akademik dari berbagai negara.

Menjadikan Internasionalisasi sebagai Budaya Akademik
Pengangkatan Prof. Tanaka sekaligus memberi gambaran bahwa internasionalisasi pendidikan tinggi dapat dibangun melalui langkah-langkah konkret. Kontrak akademik, kuliah pakar, penelitian bersama, publikasi, serta pertukaran akademik menjadi rangkaian yang saling memperkuat.
Dengan demikian, internasionalisasi bukan sekadar menghadirkan nama besar dari luar negeri ke dalam kampus. Ukuran keberhasilannya justru terletak pada apa yang terjadi setelah pertemuan tersebut: apakah lahir riset bersama, publikasi yang berkualitas, pertukaran mahasiswa dan dosen, penguatan kapasitas residen, serta inovasi yang dapat menjawab persoalan kesehatan masyarakat.
Kolaborasi FKG UGM dan Tokushima University menjadi salah satu upaya untuk menjawab tuntutan tersebut, menghubungkan pengalaman akademik di Jepang dengan potensi pendidikan dan riset di Indonesia, sekaligus membuka kesempatan bagi generasi muda kedokteran gigi untuk tumbuh dalam ekosistem ilmu pengetahuan yang semakin tanpa batas.
(Reporter: Andri Wicaksono, Foto: Fajar Budi Harsakti)