Berita

/

Berita Terbaru

Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D Meraih Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 Bidang Kesehatan

Kontribusi kepada Indonesia tidak selalu lahir dari “panggung & dapur” yang sama. Ia tumbuh dari laboratorium dan teknologi, dari ruang perawatan kesehatan, dari gagasan ataupun panggung seni yang membentuk masyarakat berpikir kritis dan reflektif.

Semangat itulah cukup terasa dalam Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026, yang mengusung tema “Aksi Nyata untuk Indonesia”. Penghargaan yang telah berlangsung selama 22 kali sejak 2003 ini kembali memberikan apresiasi kepada empat tokoh yang dinilai konsisten menghadirkan karya, pemikiran, inovasi, dan dedikasi yang memberi dampak bagi masyarakat.

Keempatnya datang dari dunia yang berbeda: Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, B.Eng., M.Eng., Ph.D. di bidang Sains & Teknologi, Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D. di bidang Kesehatan, Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si di bidang Pemikiran Sosial, serta Butet Kartaredjasa di bidang Seni & Budaya.

Kisah Prof. Josaphat menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat menjadi instrumen strategis bagi kemajuan bangsa. Ilmuwan Indonesia ini dikenal sebagai pelopor teknologi Circularly Polarized Synthetic Aperture Radar (CP-SAR) dan penginderaan jauh gelombang mikro yang dikembangkan untuk berbagai platform, mulai dari drone, pesawat terbang, High Altitude Platform System (HAPS), hingga mikrosatelit. Teknologi tersebut bahkan telah diadopsi oleh industri dan institusi kedirgantaraan dunia.

Di bidang kesehatan, Prof. Ika Dewi Ana menghadirkan pendekatan yang tidak kalah konkret. Sebagai pelopor rekayasa jaringan dan biokeramik medis di Indonesia, ia menciptakan Gama-CHA, bone graft berbasis karbonat apatit pertama di Indonesia. Produk tersebut telah memperoleh izin edar Kementerian Kesehatan dan diproduksi secara massal sebagai solusi mandiri untuk regenerasi jaringan.

Sementara itu, Prof. Haedar Nashir merepresentasikan kekuatan gagasan. Ia dikenal sebagai intelektual Indonesia yang menggerakkan moderasi dan Islam berkemajuan. Di ranah seni dan budaya, Butet Kartaredjasa menggunakan seni sebagai ruang kebebasan berpikir, kritik sosial, dan ekspresi dari monolog hingga karya di atas kanvas.

Empat bidang tersebut memperlihatkan satu hal penting: Indonesia tidak dibangun hanya oleh mereka yang bekerja di ruang-ruang kekuasaan. Indonesia juga dibangun oleh mereka yang tekun meneliti, merawat, berpikir, mencipta, dan terus berkarya. Bukan sekadar siapa yang berprestasi, tetapi apa yang diwujudkan. Ketua Dewan Juri Penghargaan Achmad Bakrie XXII, Prof. Ir. Sofia W. Alisjahbana, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng, menegaskan bahwa ukuran penghargaan bukan semata pencapaian individual.

“Penghargaan Achmad Bakrie bukan hanya tentang pencapaian seseorang di bidangnya, tetapi juga tentang bagaimana ilmu, pemikiran, inovasi, dan karya tersebut memberikan manfaat yang lebih luas.”

Menurut Sofia, para penerima tahun ini menunjukkan bahwa dedikasi yang konsisten dapat melahirkan dampak yang melampaui batas bidang dan generasi. Pernyataan tersebut menjadi penting ketika penghargaan terhadap tokoh publik sering kali berhenti pada daftar prestasi. Padahal, nilai sebuah karya justru semakin terasa ketika ia mampu keluar dari ruang penciptanya dan menyentuh kehidupan masyarakat.

Teknologi menjadi berarti ketika menjawab persoalan. Riset kesehatan menemukan maknanya ketika membantu pasien. Gagasan menjadi penting ketika membentuk kehidupan sosial yang lebih baik. Dan seni menemukan kekuatannya ketika mampu membuat masyarakat berpikir, merasakan, bahkan mempertanyakan keadaan. Dengan perspektif itu, penghargaan bukan sekadar selebrasi atas masa lalu. Ia juga menjadi pengingat mengenai jenis kontribusi seperti apa yang layak diteruskan pada masa depan.Inspirasi dari mereka yang memilih terus bekerja

Ketua Umum Panitia Pelaksana Penghargaan Achmad Bakrie XXII, Aninditha Anestya Bakrie (Ditha), melihat penghargaan ini sebagai ruang untuk memberikan apresiasi kepada tokoh-tokoh Indonesia yang menghadirkan kontribusi nyata.

“Selama lebih dari dua dekade, Penghargaan Achmad Bakrie terus menjadi bagian dari upaya kami untuk memberikan apresiasi kepada mereka yang dengan integritas, dedikasi, dan karya nyata turut membangun Indonesia.” Ditha menambahkan, keberagaman para penerima tahun ini menunjukkan bahwa kontribusi kepada bangsa dapat hadir melalui banyak jalan.

Pesan itu relevan di tengah perubahan zaman yang membuat ukuran keberhasilan semakin sering dikaitkan dengan kecepatan, popularitas, dan pencapaian yang mudah terlihat. Keempat penerima penghargaan justru mengingatkan bahwa sebagian kontribusi paling berarti lahir dari proses panjang: penelitian yang bertahun-tahun, pengembangan gagasan, pengabdian yang konsisten, dan keberanian untuk terus berkarya.

Penghargaan Achmad Bakrie XXII juga menempatkan nilai Ke-Indonesiaan, Kemanfaatan, dan Kebersamaan sebagai bagian dari semangat kontribusi. Ketiganya menjadi semacam pengingat bahwa karya yang besar tidak hanya dinilai dari seberapa tinggi pencapaiannya, tetapi juga seberapa jauh manfaatnya dapat dirasakan. Karena itu, kisah 4 penerima penghargaan tahun ini seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ada pelajaran yang lebih panjang di baliknya: bangsa dibangun oleh orang-orang yang bersedia mengubah keahlian menjadi pengabdian.

Mereka menunjukkan bahwa menjadi berguna bagi Indonesia tidak sekedar satu formula. Seorang ilmuwan dapat mengabdi melalui teknologi. Seorang akademisi kesehatan melalui inovasi. Seorang intelektual melalui gagasan. Seorang seniman melalui ketajaman mambaca zaman & keberanian menyuarakan realitas. Malam penganugerahan Penghargaan Achmad Bakrie XXII sendiri digelar pada 26 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Dalam siaran persnya, Ilham Fahmi selaku Head of Communication Bakrie untuk Negeri, menyampaikan bahwa Penghargaan  Achmad  Bakrie  merupakan  penghargaan tahunan yang diinisiasi  oleh Keluarga Bakrie sebagai bentuk apresiasi terhadap putra-putri Indonesia yang memberikan kontribusi luar biasa melalui pemikiran, karya, ilmu pengetahuan, seni, serta pengabdian kepada masyarakat. Penghargaan ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2003 dan terus menjadi bagian dari  komitmen Keluarga Bakrie untuk menghargai kontribusi terbaik  bagi kemajuan Indonesia.

(Siaran Pers Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026.   Redaksi: Andri Wicaksono)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
27 Agustus 2026

Persiapkan Kompetensi Klinis Mahasiswa, FKG UGM Gelar Pembekalan Panduan Ujian Komprehensif Dokter Gigi

27 Agustus 2026

FKG UGM Sambut 18 Mahasiswa Koas Baru: Tegaskan Komitmen Kelulusan Uji Kompetensi 100%

27 Agustus 2026

Sinkronisasi Koas Baru FKG UGM, Membangun Etika, Kolaborasi, dan Semangat Pantang Menyerah

id_ID