Berita

/

Berita Terbaru

Perawatan Lesi Endodontik-Periodontik Terkini: Pendekatan Multidisiplin dan Teknologi Modern

PELATIHAN OKTOBER 2025 RADIOLOGI DENTOMAKSILOFASIAL BERBASIS CONE BEAM COMPUTED TOMOGRAPHY (CBCT)

Perawatan lesi endodontik-periodontik (EPL) kini memasuki era baru dengan pendekatan multidisiplin dan pemanfaatan teknologi terkini. Prof. drg. Diatri Nari Ratih, M.Kes., PhD., Sp.KG., Subsp.KE(K) dari Departemen Konservasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM), memaparkan strategi penatalaksanaan EPL yang berfokus pada diagnosis akurat, terapi minimal invasif, serta regenerasi jaringan menggunakan bioteknologi modern.

Lesi endo-perio merupakan kondisi yang kompleks karena melibatkan interaksi antara jaringan pulpa gigi dan jaringan periodontal. “Penyakit pada pulpa dapat memicu gangguan periodontal, dan sebaliknya,” ujar Prof. Ratih, menekankan pentingnya memahami mekanisme patogenesis EPL yang meliputi faktor mikroba, trauma, hingga kerusakan iatrogenik akibat prosedur klinis sebelumnya.

Menurut penelitian terkini, prevalensi EPL mencapai 17,3% pada populasi tertentu (Prashaanthi et al., 2021). Klasifikasi EPL modern, yang sering digunakan di bidang endodontik, mengacu pada Simon et al. (1972) dan World Workshop on Classification of Periodontal & Peri-Implant Diseases (2018), dengan kategori seperti lesi endodontik primer, lesi periodontal primer, true combined lesions, serta lesi iatrogenik.

Diagnostik Akurat untuk Penanganan Optimal

Diagnosis EPL memerlukan kombinasi pemeriksaan klinis, vitalitas pulpa, radiografi konvensional, dan pemindaian 3D menggunakan Cone Beam Computed Tomography (CBCT). CBCT memungkinkan identifikasi morfologi akar, kehilangan tulang, dan keterlibatan jaringan secara lebih presisi dibanding radiograf periapikal konvensional. Selain itu, uji mikrobiologis dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Next Generation Sequencing (NGS) membantu menentukan terapi antimikroba yang efektif.

“Diagnosis yang tepat adalah kunci prognosis perawatan EPL, termasuk mempertimbangkan vitalitas pulpa, keparahan penyakit periodontal, dan kesiapan pasien,” jelas Prof. Ratih.

Terapi Multidisiplin dan Regeneratif

Perawatan EPL dilakukan dengan pendekatan multidisiplin, melibatkan konservasi gigi (endodontik & restorasi), periodontik, dan mikrobiologi. Strategi terapi meliputi:

  • Non-bedah: PSA multi-visit dengan kalsium hidroksida, diikuti terapi periodontal jika diperlukan.
  • Bedah konservatif: Hemiseks, bikuspidisasi, serta regenerasi jaringan menggunakan Platelet-Rich Fibrin (PRF) dan bone graft.
  • Terapi minimal invasif dan regeneratif: Penggunaan stem cells, laser, photodynamic therapy, dan ozon untuk mempercepat penyembuhan jaringan pulpa dan periodontal.

PRF, khususnya, terbukti meningkatkan penyembuhan tulang, merangsang osteoprotegerin, dan memfasilitasi regenerasi jaringan dengan risiko minimal dibanding bahan graft konvensional.

Integrasi Teknologi dan Artificial Intelligence

Teknologi bioprinting 3D kini digunakan untuk mencetak scaffold individual bagi regenerasi jaringan pulpa dan periodontal, memanfaatkan sel pasien atau material bioaktif. Selain itu, Artificial Intelligence (AI) membantu menganalisis radiograf dan CBCT, memprediksi perkembangan lesi, serta menyarankan protokol perawatan paling efektif.

“Dengan AI, klinisi dapat membuat keputusan berbasis bukti secara lebih cepat dan akurat, sehingga hasil perawatan optimal dapat dicapai,” tambah Prof. Ratih.

Tantangan dan Prospek Masa Depan

Meskipun perawatan EPL kini lebih efektif, tantangan seperti biaya, aksesibilitas, dan kepatuhan pasien tetap menjadi perhatian. Namun, kemajuan teknologi dan inovasi penelitian di bidang endodontik-periodontik diharapkan membawa era baru perawatan gigi holistik, dengan tujuan utama mempertahankan gigi, memperbaiki jaringan yang rusak, dan meningkatkan kesehatan pulpa serta periodontal.

Dengan integrasi pendekatan multidisiplin, teknologi 3D, dan AI, perawatan EPL bukan hanya mengatasi masalah saat ini, tetapi juga membuka peluang regenerasi dan restorasi gigi yang lebih alami dan berkelanjutan.

(Andri Wicaksono, Foto: materi Prof. Ratih)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
13 Januari 2026

FKG UGM Menerima Kunjungan Studi Banding FKG UNISULA, Bahas Rencana Pendirian Prodi Spesialis Kedokteran Gigi Anak

12 Januari 2026

Dies Natalis ke-78 FKG UGM: Dari Jalan Sehat hingga Transformasi Kesehatan Gigi Berbasis Sociopreneurship

12 Januari 2026

78 Tahun FKG UGM ‘Meretas’ Air Hujan Menjadi Air Minum, Dorong Kampus Hijau Ramah Lingkungan

id_ID