Berita

/

Berita Terbaru

Penyusunan Portofolio Pembelajaran: FKG UGM Pertajam Akurasi Kualitas Akademik

Transformasi pendidikan tinggi menuju pembelajaran yang berpusat pada capaian lulusan terus bergulir. Di FKG UGM, proses ini tidak hanya menyentuh ruang kelas, tetapi juga cara dosen merefleksikan praktik mengajarnya melalui portofolio pembelajaran.

Melalui Workshop Pengisian Portofolio Program Sarjana, Magister, dan Doktor, FKG UGM berupaya memperkuat penerapan Outcome-Based Education (OBE), pendekatan kurikulum yang menuntut keterukuran hasil belajar mahasiswa. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang menempatkan mahasiswa sebagai subjek aktif pembelajaran.

Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan. Data internal fakultas menunjukkan tingkat pengumpulan portofolio mata kuliah masih berada di bawah 50 persen. Padahal, portofolio menjadi bukti utama bahwa proses pembelajaran benar-benar mengarah pada capaian kompetensi lulusan.

“Portofolio bukan sekadar laporan administrasi. Di situ kita bisa melihat apakah mahasiswa benar-benar mencapai kompetensi yang dirancang program studi,” ujar Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKG UGM, Prof. drg. Rosa Amalia, M.Kes., Ph.D.

DARI KURIKULUM KE PRAKTIK NYATA

Sejak UGM menetapkan OBE sebagai kerangka kurikulum melalui peraturan rektor, setiap program studi dituntut merancang Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang jelas dan menurunkannya ke mata kuliah. Tantangan muncul ketika konsep tersebut harus diterjemahkan menjadi praktik pembelajaran dan asesmen yang konkret.

Di sinilah peran Sistem Informasi OBE Akademik (SiOBA) menjadi penting. Sistem ini membantu dosen melaporkan keterkaitan antara rencana pembelajaran, metode evaluasi, hingga hasil belajar mahasiswa.

Menurut narasumber workshop, drg. Fimma Naritasari, M.D.Sc., sistem digital ini justru dirancang untuk mempermudah dosen. “Jika RPS atau RPKPS sudah sesuai format, pengisian portofolio bisa diselesaikan dalam hitungan jam. Masalahnya sering kali bukan pada sistem, tetapi pada kebiasaan,” ujarnya.

Di jenjang pascasarjana, tantangan bertambah kompleks. Mata kuliah bersifat pilihan, jumlah mahasiswa dinamis, dan topik sering berubah mengikuti perkembangan riset. Kondisi ini menuntut fleksibilitas dosen dalam merancang asesmen berbasis proyek, diskusi, dan riset—prinsip yang juga ditekankan dalam MBKM.

IKU 7 DAN PEMBELAJARAN PARTISIPATIF

Dorongan perubahan semakin kuat dengan hadirnya Indikator Kinerja Utama (IKU) pendidikan tinggi, khususnya IKU 7, yang menekankan pembelajaran kolaboratif dan partisipatif. Dalam indikator ini, penilaian tidak lagi didominasi ujian kognitif, tetapi berbasis proyek, studi kasus, dan partisipasi aktif mahasiswa.

Bagi pendidikan kedokteran gigi, pendekatan ini dinilai relevan. Kompetensi klinis, patient safety, dan evidence-based dentistry tidak dapat dibangun hanya melalui hafalan, melainkan melalui analisis kasus dan refleksi praktik.

“Ujian tetap penting, tetapi harus dirancang berbasis kasus. Dengan begitu, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan selaras dengan IKU serta semangat Merdeka Belajar,” kata Vima.

PORTOFOLIO SEBAGAI ALAT REFLEKSI

FKG UGM menekankan bahwa portofolio pembelajaran bukan sekadar alat pemenuhan akreditasi. Di dalamnya terdapat evaluasi diri dosen dan rencana tindak lanjut yang dapat menjadi dasar perbaikan mata kuliah di semester berikutnya.

Dalam konteks Kampus Merdeka, refleksi ini menjadi krusial. Kebebasan belajar mahasiswa harus diimbangi dengan kesiapan dosen merancang pembelajaran yang adaptif, relevan dengan kebutuhan zaman, dan tetap terukur mutunya.

“Kita ingin dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga merefleksikan apa yang sudah dilakukan. Dari situ mutu pembelajaran bisa ditingkatkan secara berkelanjutan,” ujar Rosa.

Upaya FKG UGM ini menggambarkan dinamika pendidikan tinggi di era Merdeka Belajar: antara idealisme kebijakan, kesiapan sistem, dan realitas praktik di lapangan. Sebuah proses yang menuntut waktu, pendampingan, dan komitmen bersama, namun menjadi kunci untuk melahirkan lulusan yang benar-benar kompeten dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
26 Januari 2026

Dukung Pemerataan Kesehatan, FKG UGM Rencana Kirim Tenaga Kesehatan ke Daerah melalui Skema AHS

26 Januari 2026

Masyarakat Indonesia Menua Lebih Cepat, Kesehatan Gigi Lansia Jadi ‘Alarm’ Sistem Kesehatan Nasional

26 Januari 2026

Mahasiswa FKG UGM Lakukan Pengabdian Masyarakat di Klaten

id_ID