Berita

/

Berita Terbaru

Meneropong Teknologi Biomedika Dalam Menjaga Kehidupan Rongga Mulut

Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. drg. Archadian Nuryanti, M.Kes Bidang Teknologi Biomedika KG  Gigi FKG UGM


Pidato pengukuhan guru besar FKG UGM Prof. Dr. drg. Archadian Nuryanti, M.Kes pada 7 April 2026 menegaskan pentingnya pergeseran dari perawatan kuratif menuju preventif di tengah tantangan teknologi dan kesehatan gigi nasional Perkembangan teknologi dalam kedokteran gigi kian melaju cepat, mulai dari biomaterial cerdas hingga kecerdasan buatan. Namun, di balik kemajuan itu, persoalan mendasar kesehatan gigi masyarakat Indonesia masih belum terselesaikan: tingginya angka penyakit gigi dan lemahnya pendekatan preventif.

Dalam pidato pengukuhan guru besar di FKG UGM, Prof. Archadian menegaskan bahwa kedokteran gigi harus bergerak melampaui paradigma lama yang berfokus pada perbaikan kerusakan. “Merawat gigi bukan sekadar menambal, tetapi menjaga kehidupan,” ujarnya.

Dari Gigi ke Kehidupan

Selama ini, praktik kedokteran gigi cenderung berorientasi pada tindakan restorative, menambal atau mencabut gigi yang rusak. Pendekatan ini, menurut Archadian, tidak menyentuh akar persoalan.

Dalam perspektif teknologi biomedika, rongga mulut dipandang sebagai pintu masuk kesehatan tubuh secara keseluruhan. Penyakit gigi dan mulut memiliki kaitan erat dengan penyakit sistemik seperti gangguan kardiovaskular hingga inflamasi kronis.

Karena itu, pendekatan yang dikembangkan kini bergeser dari tooth-centered care menjadi life-centered care menempatkan kesehatan gigi sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas hidup jangka panjang.

Teknologi Maju, Akses Tertinggal

Kemajuan teknologi biomedika membuka peluang besar dalam diagnosis dan pencegahan penyakit. Pemanfaatan biomarker saliva, misalnya, memungkinkan deteksi dini berbagai penyakit rongga mulut secara non-invasif.

Selain itu, kecerdasan buatan (AI) mulai digunakan untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan efisiensi layanan kesehatan. Integrasi data klinis, genomik, hingga demografis memungkinkan pendekatan yang lebih presisi.

Namun, penerapan teknologi ini di Indonesia masih menghadapi tantangan. Selain keterbatasan infrastruktur, kesiapan regulasi juga belum sepenuhnya memadai.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi memang telah menjadi dasar hukum. Meski demikian, persoalan seperti transparansi algoritma, sertifikasi teknologi, dan perlindungan data pasien masih memerlukan penguatan.

Preventif sebagai Investasi

Pidato tersebut juga menyoroti pentingnya kedokteran gigi preventif sebagai investasi kesehatan jangka panjang. Mencegah karies, misalnya, bukan hanya menjaga gigi tetap utuh, tetapi juga mencegah dampak lanjutan terhadap kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Dalam konteks ini, tindakan sederhana seperti menjaga kebersihan mulut dan pemeriksaan rutin menjadi kunci. Namun, kesadaran masyarakat terhadap hal ini masih rendah.

Di sisi lain, sistem layanan kesehatan masih lebih menekankan pada pengobatan dibandingkan pencegahan.

Antara Tradisi dan Inovasi

Penggunaan obat tradisional atau jamu yang masih tinggi di masyarakat juga menjadi perhatian. Banyak masyarakat menganggap bahan alami lebih aman, meskipun belum seluruhnya didukung oleh bukti ilmiah yang memadai.

Pendekatan integratif yang menggabungkan kearifan lokal dengan penelitian ilmiah dinilai menjadi jalan tengah yang perlu dikembangkan.

Tantangan ke Depan

Perkembangan teknologi, termasuk AI, membawa peluang sekaligus risiko. Selain persoalan etika dan privasi, kesiapan tenaga kesehatan dalam beradaptasi dengan teknologi baru menjadi faktor penting.

Kolaborasi lintas disiplin antara tenaga medis dan ahli teknologi menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan.

Menata Ulang Arah

Pidato ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak serta-merta menyelesaikan persoalan kesehatan. Diperlukan perubahan cara pandang dari yang semula berfokus pada perbaikan menjadi pencegahan. Upaya ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat. Rongga mulut adalah pintu gerbang menuju kualitas hidup secara menyeluruh.

(Reporter : Andri Wicaksono, Fotografi: Dody Hendro Wibowo)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
8 April 2026

3 GB Perkuat Sinyal Alam Keilmiahan FKG UGM !

8 April 2026

‘Mahligai’ Pelayanan Kesehatan Gigi & Mulut di Indonesia

8 April 2026

Meretas Polimer Konvensional ke Polimer Cerdas

id_ID