Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menyelenggarakan kegiatan pembekalan stase Radiologi Kedokteran Gigi bagi mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Gigi (PPDG) Angkatan 92 pada Selasa, 1 September 2026. Acara yang berlangsung di Gedung CBT Lantai 5 FKG UGM tersebut dipimpin langsung oleh Penanggung Jawab (PJ) Coass Radiologi, drg. Ryna Dwi Yanuaryska, Ph.D. Kegiatan ini dirancang secara komprehensif untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai tata tertib akademik, alur pelayanan klinis, hingga penerapan etika profesi yang wajib dipatuhi mahasiswa selama menempuh stase.
Dalam pemaparannya, drg. Ryna Dwi Yanuaryska, Ph.D. menekankan implementasi kurikulum berbasis capaian (Outcome-Based Education/OBE) yang menaruh perhatian besar pada proses pembelajaran harian. Skema penilaian stase ini dialokasikan sebesar 60% untuk pemenuhan requirement harian dan 40% untuk ujian akhir. Pembagian bobot ini bertujuan agar evaluasi mahasiswa tidak hanya berfokus pada hasil akhir, melainkan pada pembentukan kompetensi harian, ketelitian klinis, dan konsistensi bimbingan.
Mahasiswa dapat mengikuti ujian akhir kasus setelah menyelesaikan seluruh interpretasi kasus, tanpa harus menunggu pemenuhan observasi dan tindakan Operator Mandiri (Opman). Namun demikian, nilai akhir di KHS (Kartu Hasil Studi) tidak akan dikeluarkan hingga seluruh pemenuhan requirement diselesaikan secara lengkap. Ujian kasus diselenggarakan empat kali dalam setahun bersamaan dengan pendaftaran ujian komprehensif.
Aspek krusial yang digarisbawahi adalah pentingnya objektivitas dan analisis logis saat menginterpretasikan radiograf dua dimensi. Mahasiswa diminta untuk hanya membaca data visual yang terlihat pada radiograf tanpa mengada-ada atau mengandalkan hafalan semata.
“Interpretasikan apa yang kalian lihat secara objektif dan jangan pernah mengada-ada. Kalau bitewing, kan hanya terlihat sampai servikal. Jangan sampai kalian maju bitewing, tahu-tahu menjawab periapikal dalam batas normal, padahal area periapikalnya saja tidak kelihatan. Belajarlah berpikir logis dan sesuaikan penegakan diagnosis penunjang dengan textbook maupun referensi ilmiah yang valid. Saat berkonsultasi dengan dosen pembimbing, pastikan kalian sudah mempersiapkan diri dengan baik dan tidak datang tanpa pemahaman dasar,” tegas drg. Ryna.
Selain itu, jika mahasiswa mengambil kasus radiograf dari jurnal ilmiah, penilaian diagnosis wajib didasarkan pada gambaran radiografi dua dimensi saja, tanpa menjadikan data CBCT atau pemeriksaan histopatologi sebagai dasar utama penentuan diagnosis klinis radiologi.

Selain bimbingan interpretasi kasus, mahasiswa Coass Angkatan 92 dibekali ragam keterampilan penunjang diagnostik. Dalam stase ini, mahasiswa diwajibkan menyelesaikan beberapa jenis pemenuhan klinis:
- Operator Mandiri (Opman): Tindakan pengambilan radiograf secara mandiri pada pasien di RSGM/DLC.
- Teknik SLOB (Same-Lingual Opposite-Buccal): Pembelajaran simulasi untuk menentukan letak objek atau akar gigi.
- Observasi dan Simulasi CBCT: Pengenalan teknologi radiografi tiga dimensi (Cone Beam Computed Tomography).
Untuk mendukung fleksibilitas belajar, mahasiswa juga diberikan wewenang untuk melakukan sit in atau hadir menyimak pada sesi diskusi bimbingan kelompok lain guna memperluas wawasan diagnostik.
Demi menjaga keharmonisan kerja di lingkungan rumah sakit dan fakultas, mahasiswa diimbau mematuhi aturan operasional di Dental Learning Center (DLC). Pendaftaran pasien Opman dibatasi maksimal pukul 15.30 WIB untuk memastikan proses pencitraan selesai tepat sebelum batas jam kerja kantor pukul 16.00 WIB, guna menghargai waktu kerja para pegawai dan radiografer.
Dari sisi administrasi akademik, drg. Ryna mengingatkan mahasiswa untuk teliti saat mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) pada sistem Simaspro. Pengisian nama dosen pembimbing yang tepat pada KRS sangat krusial agar nilai dapat terinput ke dalam sistem. Selain itu, seluruh pengesahan tanda tangan pada buku logbook harian wajib diselesaikan maksimal 1 (satu) minggu setelah tindakan dilakukan bersama DPJP atau residen penanggung jawab.
Melalui pelaksanaan pembekalan yang menyeluruh dan terstruktur ini, FKG UGM membuktikan komitmennya dalam mencetak lulusan dokter gigi yang handal, berintegritas tinggi, terampil dalam diagnostik radiologi, serta siap memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat.
(Redaksi: Andri Wicaksono,Nanda,Foto:Hazra)