Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menggelar sesi pembekalan komunikasi klinis dan terapeutik bagi mahasiswa calon dokter gigi di Ruang Computer Based Test (CBT) Lantai 5 Dental Learning Center (DLC) FKG UGM, Kamis (3/9). Pembekalan ini dipimpin langsung oleh Pakar Manajemen Pelayanan Kesehatan FKG UGM, Prof. Dr. drg. Julita Hendrartini, M.Kes., AAK., FISDPH., FISPD. Beliau menekankan bahwa penguasaan komunikasi terapeutik serta pemahaman bahasa tubuh (kode nonverbal) merupakan keterampilan klinis krusial yang wajib dikuasai sebelum mahasiswa terjun melayani pasien secara langsung di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM).
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. drg. Julita Hendrartini, M.Kes., AAK., FISDPH., FISPD, menegaskan bahwa pelayanan kesehatan bukan sekadar penerapan tindakan medis prosedural, melainkan seni melayani manusia secara utuh dengan empati. Komunikasi yang terjalin antara dokter gigi dan pasien memegang peranan kunci hingga 60 persen dalam menentukan keberhasilan diagnosis maupun keberlanjutan perawatan.
“Hargailah pasien Anda. Kita ini adalah provider yang melayani. Kalau kita di bidang kesehatan, memang tugas utama kita adalah memberikan pelayanan,” ujar Prof. Julita memberikan motivasi di hadapan para mahasiswa. “Tanamkan dalam diri bahwa pasien adalah sosok yang harus dimuliakan. Saat pelayanan kita berempati dan profesional, kepercayaan pasien akan terbangun dengan sendirinya.” Ujar Prof. Julita Hendrartini
Guna memberikan gambaran konkret, sesi materi diawali dengan penayangan dan analisis video simulasi penanganan pasien bruxism (kebiasaan mengikis atau mengatupkan gigi akibat stres emosional). Mahasiswa diajak mengidentifikasi berbagai kode nonverbal yang kerap terabaikan namun berdampak besar pada persepsi pasien:
- Atribut dan Penampilan Profesional: Penggunaan jas dokter atau pakaian klinis (scrub) yang bersih, rapi, dan tidak lusuh. Prof. Julita Hendrartini mengingatkan bahwa scrub hanya boleh digunakan di area klinik dan tidak dipakai saat beraktivitas di luar seperti ke kantin atau saat berkendara.
- Sapaan dan Gestur Menyambut: Penggunaan jabat tangan atau salam hangat (welcoming) saat pertama kali menyambut pasien untuk membangun ikatan awal yang ramah.
- Postur Duduk dan Proksemik (Jarak): Posisi duduk tegak dengan postur tubuh terbuka menunjukkan kesiapan dan semangat melayani. Jarak duduk ideal antara dokter dan pasien berkisar antara 1 hingga 1,5meter untuk menciptakan kenyamanan tanpa menimbulkan kesan mengintimidasi.
- Kontak Mata dan Posisi Sejajar: Menjaga kontak mata (eye contact) secara sejajar dengan duduk bersama pasien. Berdiri saat melakukan anamnesis harus dihindari karena dapat memperlihatkan kesan superioritas.
- Gerakan Mengangguk dan Respon Empatis: Mengangguk secara lambat dan dalam saat pasien menceritakan keluhan emosional (seperti beban kerja atau masalah pribadi) berfungsi sebagai tanda penyimakan aktif sekaligus bentuk empati yang nyata.

Selain bahasa tubuh, Prof. Julita Hendrartini mengupas konsep patient-centered communication (komunikasi berpusat pada pasien) dibandingkan provider-centered communication. Pada tahap penggalian riwayat penyakit (anamnesis), dokter gigi dituntut untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara (active listener). Dokter baru mengambil peran dominan (provider-centered) saat memberikan penjelasan arahan instruksi penggunaan obat, edukasi bite plate, atau menyampaikan informed consent. Penggunaan bahasa yang sederhana, artikulasi yang jelas, serta intonasi suara yang tenang dan hangat sangat membantu menenangkan pasien yang datang dalam kondisi cemas atau nyeri.
Untuk menguji pemahaman teori secara langsung, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi interaktif (role-play). Beberapa perwakilan mahasiswa diminta memperagakan alur komunikasi awal, mulai dari menyapa, memperkenalkan identitas diri sebagai dokter gigi operator, hingga mengidentifikasi keluhan utama pasien.
Dari simulasi tersebut, Prof. Julita Hendrartini memberikan evaluasi kritis. Beliau menyoroti pentingnya mengontrol tempo bicara agar tidak terlalu cepat, memperkenalkan nama dokter operator secara jelas, serta menjaga keterlibatan emosional melalui senyuman dan tatapan mata. Tatapan mata harus tetap dijaga dan diupayakan fokus ke pasien, meskipun dokter sedang mencatat rekam medis elektronik.
Di akhir sesi pembekalan, Prof. Julita Hendrartini menyampaikan pesan mendalam serta refleksinya terhadap kesiapan para mahasiswa calon dokter gigi:
“Hargailah pasien Anda dengan sungguh-sungguh. Selama di RSGM nanti, Anda adalah pemberi layanan kesehatan yang bertugas melayani dan memuliakan pasien. Kendalikan diri Anda, jaga sikap, dan selalu tampil profesional. Ingatlah bahwa pasien saat ini sangat kritis dan cerdas; pelayanan yang kurang empati tidak hanya berdampak pada reputasi diri Anda sendiri, tetapi juga membawa nama baik institusi di mata publik. Jadikan komunikasi terapeutik ini sebagai kebiasaan dan bagian integral dari keterampilan klinis Anda.” Pesan Prof. Julita Hendrartini
Melalui pembekalan komprehensif ini, FKG UGM terus memperkuat komitmennya dalam melahirkan lulusan dokter gigi yang tidak hanya mahir secara teknis medis, tetapi juga memiliki karakter humanis, beretika tinggi, serta siap memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut secara inklusif dan terpercaya.
“Saya sangat bangga melihat antusiasme dan kepekaan para mahasiswa dalam mengikuti simulasi dan memahami pentingnya aspek nonverbal serta komunikasi terapeutik ini. Meskipun sesi pembekalan ini singkat, semangat belajar dan keberanian mereka untuk dievaluasi menjadi modal yang sangat baik. Saya optimistis para calon dokter gigi FKG UGM mampu menjadi tenaga medis yang unggul, empati, serta mampu memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.” Kesan dari Prof. Julita Hendrartini
(Redaksi: Andri Wicaksono,Nanda , Foto: Hazra)