Berita

/

Berita Terbaru

Masyarakat Indonesia Menua Lebih Cepat, Kesehatan Gigi Lansia Jadi ‘Alarm’ Sistem Kesehatan Nasional

Indonesia sedang melaju menuju masyarakat menua (aging society) dengan kecepatan yang kerap luput dari perhatian. Data terbaru menunjukkan lebih dari 12 persen penduduk Indonesia kini berusia di atas 60 tahun. Dalam dua dekade ke depan, proporsi ini diperkirakan melonjak tajam. Di balik angka-angka demografi itu, tersimpan tantangan serius yang jarang dibahas: kesehatan gigi dan mulut lansia.

Isu tersebut mengemuka dalam Workshop on Geriatric Dentistry: Geriatric Oral Health Assessment in Asia yang mempertemukan akademisi FKG UGM dengan (Japanese Society for Oral Health (JSOH) Jepang pada 23-24 Januari 2026 di Sekolah Pascasarjana UGM. Forum ini menegaskan satu pesan kunci: usia panjang tanpa kesehatan fungsional hanya akan menambah beban individu dan sistem kesehatan.

DARI JEPANG, CERMIN MASA DEPAN INDONESIA

Jepang kerap disebut sebagai “laboratorium masa depan” bagi negara-negara Asia. Lebih dari 25 persen penduduknya kini berusia di atas 65 tahun. Namun, Jepang tidak sekadar menua; negara itu mempersiapkan diri sejak tiga dekade lalu melalui kebijakan kesehatan gigi yang terukur.

Salah satu tonggaknya adalah kampanye 8020, target agar warga tetap memiliki minimal 20 gigi asli pada usia 80 tahun. Hasilnya signifikan. Pada awal 1990-an, hanya sekitar 10 persen lansia Jepang yang mencapai target tersebut. Kini, lebih dari separuh lansia berusia 80 tahun mampu mempertahankan 20 gigi atau lebih.

“Jumlah gigi bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah fungsi kunyah, bicara, dan menelan,” ujar Prof. Hiroshi Ogawa dari Niigata University. Jepang bahkan mulai menggeser target ke konsep fungsi oral, bukan sekadar hitung gigi.

KETIKA MULUT MENJADI GERBANG KESEHATAN LANSIA

Riset mutakhir menunjukkan penurunan fungsi oral yang dikenal sebagai oral frailty, berkaitan erat dengan malnutrisi, penurunan massa otot, risiko jatuh, hingga kematian dini. Lansia dengan kesulitan mengunyah cenderung memilih makanan lunak rendah protein, yang mempercepat siklus kerapuhan fisik (frailty).

Prof. Masanori Iwasaki dari Hokkaido University menjelaskan bahwa oral frailty merupakan fase awal yang masih bisa dibalik. “Jika dikenali lebih dini, intervensi sederhana seperti latihan otot mulut, perbaikan gigi, dan edukasi gizi dapat memperlambat bahkan menghentikan penurunan,” katanya.

Di Jepang, pendekatan ini telah terintegrasi dalam pelayanan komunitas, termasuk kunjungan dokter gigi ke rumah lansia dan panti jompo, sebuah model yang nyaris belum berkembang di Indonesia.

MASALAH LAMA, TANTANGAN BARU

Di Indonesia, persoalan kesehatan gigi justru dimulai sejak dini. Angka karies anak masih tinggi, sementara kebiasaan pemeriksaan gigi rutin belum membudaya. Dampaknya bersifat kumulatif: memasuki usia lanjut, banyak warga kehilangan sebagian besar gigi sebelum fungsi oral optimal tercapai.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa geriatric dentistry bukan isu eksklusif lansia, melainkan hasil dari kegagalan sistem kesehatan gigi sepanjang daur hidup.

“Jika kita ingin lansia Indonesia tetap mandiri, intervensi harus dimulai sejak anak-anak dan dewasa muda,” ujar salah satu akademisi kesehatan gigi Indonesia dalam forum tersebut.

DARI SEMINAR KE KEBIJAKAN PUBLIK

Workshop ini menyoroti kebutuhan mendesak akan:

  1. Strategi nasional kesehatan gigi lansia, setara dengan kampanye 8020 kesehatan gigi di Jepang.
  2. Integrasi kesehatan gigi dalam agenda pencegahan penyakit tidak menular (PTM).
  3. Model layanan proaktif, termasuk kunjungan rumah dan pelatihan kader kesehatan.
  4. Pengukuran fungsi oral, bukan hanya status gigi, dalam survei kesehatan nasional.

Tanpa langkah sistemik, bonus demografi Indonesia berisiko berubah menjadi beban demografi di masa depan.

MENATA USIA PANJANG DENGAN KUALITAS HIDUP

Usia harapan hidup Indonesia terus meningkat. Namun, pertanyaan krusialnya bukan lagi berapa lama kita hidup, melainkan bagaimana kita menjalani usia panjang itu. Jepang telah memberi pelajaran bahwa kesehatan gigi dan mulut adalah fondasi yang kerap diremehkan, tetapi menentukan kualitas hidup lansia.

Indonesia kini berada di persimpangan: belajar lebih awal atau membayar mahal di kemudian hari.

(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti & drg. Muhammad Fahmi Alfian, M.P.H.)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
26 Januari 2026

Dukung Pemerataan Kesehatan, FKG UGM Rencana Kirim Tenaga Kesehatan ke Daerah melalui Skema AHS

26 Januari 2026

Penyusunan Portofolio Pembelajaran: FKG UGM Pertajam Akurasi Kualitas Akademik

26 Januari 2026

Mahasiswa FKG UGM Lakukan Pengabdian Masyarakat di Klaten

id_ID