Pengakuan internasional terhadap Prof. Ika Dewi Ana membuka rasa penasaran lebih besar tentang masa depan ilmu pengetahuan Indonesia. Di tengah potensi riset yang luas, tantangannya bukan hanya melahirkan ilmuwan unggul, melainkan membangun sistem yang memungkinkan pengetahuan tumbuh menjadi inovasi dan menjawab persoalan masyarakat.
Prestasi seorang ilmuwan kerap dirayakan sebagai kebanggaan bangsa. Namanya disebut, pencapaiannya diapresiasi, dan reputasinya menjadi bukti bahwa peneliti Indonesia mampu berkiprah di panggung internasional. Namun, di balik kebanggaan itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar, setelah seorang ilmuwan memperoleh pengakuan, apa yang berubah dalam ekosistem penelitian yang menopangnya?
Pertanyaan tersebut menjadi latar ketika Prof. Ika kembali mendapatkan pengakuan internasional sebagai ilmuwan berdampak. Pengakuan itu menandai capaian akademik, tetapi sekaligus membuka ruang untuk menengok keadaan riset Indonesia, mulai dari pendanaan, fasilitas penelitian, hingga koordinasi kebijakan ilmu pengetahuan.
Bagi Prof. Ika, tugas ilmuwan tidak berhenti pada menghasilkan publikasi. Pengetahuan harus disebarluaskan agar dapat menjadi pijakan bagi penemuan berikutnya dan, pada akhirnya, memberi manfaat bagi masyarakat. “Penyebarluasan ilmu itu bisa melalui misalnya munculnya teori baru, metode baru, ataupun penemuan ataupun inovasi baru yang kemudian nanti dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan itu menempatkan ilmu pengetahuan bukan semata-mata sebagai urusan kampus atau komunitas akademik. Penelitian memiliki tanggung jawab sosial, membantu manusia memahami persoalan, menemukan jalan keluar, dan memperluas kemungkinan bagi kehidupan yang lebih baik.
Namun, tanggung jawab tersebut tidak dapat dibebankan kepada ilmuwan seorang diri. Pengetahuan membutuhkan lingkungan yang memungkinkan gagasan diuji, penelitian dikembangkan, dan temuan diterjemahkan menjadi solusi. Di titik inilah persoalan riset Indonesia menjadi lebih kompleks daripada sekadar menghitung jumlah publikasi atau merayakan prestasi individu.
Ketika sitasi menjadi ukuran, apa yang sebenarnya dinilai?
Dalam percakapan akademik, sitasi sering menjadi penanda pengaruh sebuah karya ilmiah. Karya yang dikutip peneliti lain menunjukkan bahwa gagasan di dalamnya digunakan, dipertimbangkan, atau dikembangkan dalam penelitian berikutnya. Bagi Prof. Ika, sitasi memiliki makna karena menunjukkan bahwa suatu karya menjadi landasan bagi orang lain.
“Ketika tulisan kita itu ada sitasinya, berarti tulisan kita itu dibaca oleh orang lain,” katanya. Ada makna penting di balik pandangan tersebut. Ilmu pengetahuan tumbuh melalui percakapan panjang antargenerasi peneliti. Temuan hari ini dapat menjadi pijakan bagi penemuan esok hari. Tidak ada penelitian yang sepenuhnya berdiri sendiri, selalu ada pengetahuan sebelumnya yang diuji, diperbaiki, atau dikembangkan.
Sitasi juga perlu ditempatkan secara proporsional. Banyaknya kutipan tidak otomatis menunjukkan besarnya manfaat sosial sebuah penelitian. Sebuah karya dapat berpengaruh di lingkungan akademik, tetapi belum tentu menghasilkan teknologi yang dapat diterapkan. Sebaliknya, penelitian yang menjawab persoalan lokal yang mendesak belum tentu memperoleh perhatian sitasi sebesar penelitian di bidang yang lebih populer secara internasional.
Karena itu, ukuran keberhasilan penelitian semestinya tidak dipersempit menjadi satu angka. Mutu metodologi, kebaruan temuan, keterbukaan ilmiah, relevansi terhadap kebutuhan masyarakat, dan kemungkinan penerapan hasilnya juga patut diperhitungkan. Pengakuan World’s Top 2% Scientists sendiri harus dibaca sesuai metodologi dan indikator yang digunakan oleh pemeringkatnya. Yang lebih penting, pengakuan akademik seharusnya menjadi pintu untuk memperluas kontribusi ilmiah, bukan garis akhir perjalanan penelitian.
Rongga mulut dan cakrawala ilmu yang lebih luas
Bidang kedokteran gigi memberikan gambaran menarik tentang bagaimana sebuah disiplin yang kerap dipandang sempit ternyata menyimpan potensi penelitian yang luas. Selama ini, kedokteran gigi sering diasosiasikan dengan kesehatan gigi dan rongga mulut. Padahal, menurut Prof. Ika, penelitian di bidang tersebut dapat membuka jalan bagi pengembangan diagnostik penyakit sistemik, imunologi, regenerasi jaringan, hingga teknologi biomedis. Ia mencontohkan potensi saliva atau air liur untuk pengembangan metode diagnosis penyakit tertentu, termasuk kanker serta penyakit infeksi dan inflamasi. “Misalnya, kita bisa mendiagnosis penyakit-penyakit umum itu dari saliva,” ujarnya.
Gagasan ini memperlihatkan bahwa bagian tubuh yang sehari-hari dianggap biasa dapat menyimpan peluang bagi pengembangan teknologi kesehatan. Dalam penelitian biomedis, saliva berpotensi menjadi bahan pemeriksaan untuk kondisi tertentu. Namun, potensi tersebut tetap memerlukan pembuktian melalui pengujian akurasi, validasi klinis, serta penilaian keamanan dan kelayakan sebelum dapat digunakan secara luas.
Di sinilah penelitian dasar dan penelitian terapan bertemu. Gagasan yang menjanjikan membutuhkan proses panjang: perumusan hipotesis, pengujian di laboratorium, pengembangan metode, validasi, dan penerapan sesuai kebutuhan klinis. Proses tersebut menuntut lebih dari kecerdasan individual. Dibutuhkan laboratorium yang memadai, peralatan yang sesuai, pendanaan berkelanjutan, serta kerja sama antara berbagai disiplin ilmu.
Prof. Ika menilai potensi kedokteran gigi untuk memberikan kontribusi kepada ilmu pengetahuan secara umum masih sangat besar. Artinya, tantangannya bukan semata-mata mencari topik baru, melainkan menyediakan kondisi agar peluang ilmiah itu dapat diteliti secara mendalam.
Potensi pengetahuan, dengan demikian, baru menjadi kekuatan ketika tersedia sistem yang sanggup mengembangkannya.
Ilmuwan diminta berprestasi, tetapi bagaimana dengan dukungannya?
Prof. Ika menyoroti rendahnya proporsi pendanaan riset dan inovasi Indonesia dibandingkan dengan sejumlah negara lain. Ia tidak menyebut angka pasti dalam wawancara, sehingga besaran kesenjangan tersebut perlu diperiksa melalui data resmi. Namun, pesan yang ingin disampaikannya tegas, ambisi menjadi negara maju harus disertai investasi yang memadai dalam ilmu pengetahuan. “Kalau kita memang ingin menjadi negara yang maju, dana riset dan dana inovasi itu juga harus dikembangkan,” katanya.
Masalahnya, tuntutan kepada ilmuwan sering kali lebih mudah disampaikan daripada dukungan sistem yang dibutuhkan untuk memenuhi tuntutan tersebut. Peneliti diminta menghasilkan publikasi bermutu, inovasi, dan solusi bagi masyarakat. Namun, jika fasilitas terbatas dan pendanaan tidak berkelanjutan, produktivitas ilmiah akan berhadapan dengan kendala struktural.
Prof. Ika berpandangan pendekatan yang lebih konkret dalam memberikan dukungan kepada ilmuwan berprestasi. Menurutnya, apresiasi seharusnya dilanjutkan dengan identifikasi kebutuhan penelitian. “Kalau sudah mencapai sesuatu, coba ditantang: apa lagi yang akan dikerjakan, apa lagi yang ingin dipecahkan, apa lagi yang ingin diberikan solusinya pada masyarakat?” ujarnya.
Tentu saja, dukungan semacam itu harus diberikan melalui mekanisme yang transparan dan berbasis kebutuhan ilmiah. Status sebagai ilmuwan berprestasi tidak dengan sendirinya menjadi jaminan bahwa setiap usulan fasilitas layak dipenuhi. Kualitas penelitian, kelayakan program, manfaat yang ditargetkan, dan akuntabilitas penggunaan anggaran tetap harus menjadi dasar keputusan. Yang dibutuhkan bukan perlakuan istimewa tanpa evaluasi, melainkan sistem yang mampu mengenali potensi, menghilangkan hambatan yang relevan, dan memberi kesempatan kepada penelitian bermutu untuk berkembang.
Sinergitas BRIN dan Perguruan Tinggi
Prof. Ika juga menilai koordinasi penelitian antara BRIN, perguruan tinggi, dan kementerian masih memerlukan penguatan, terutama ketika suatu persoalan membutuhkan kerja lintas sektor. Dalam pandangannya, Indonesia memerlukan mekanisme yang mampu menyelaraskan prioritas ilmu pengetahuan secara nasional. Ia merujuk pada model Science Council yang diterapkan di Perancis, Inggris, Jepang, & Amerika Serikat. Menurutnya dapat berfungsi mengarahkan kebijakan sains, pendanaan, dan kerja sama antarlembaga. “Awalnya BRIN itu seharusnya diposisikan seperti itu, Dewan Nasional Ilmu Pengetahuan, yang mengatur tema-tema riset,” katanya. Ia menilai, apabila setiap institusi bergerak terutama berdasarkan lingkup kewenangannya masing-masing, sejumlah persoalan lintas sektor berisiko tidak memperoleh koordinasi yang memadai. “Kalau sekarang, kemendikti saintek hanya mengarahkan yang di bawahnya saja. BRIN juga hanya mampu mengarahkan yang di bawahnya,” ujarnya.
Namun, persoalannya tidak otomatis selesai dengan membentuk lembaga baru. Koordinasi yang efektif memerlukan kewenangan yang jelas, mekanisme akuntabilitas, pembagian tugas yang tidak tumpang tindih, serta keterlibatan perguruan tinggi, peneliti, industri, dan kementerian teknis.
Pelajaran yang lebih luas adalah bahwa riset harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan. Penelitian tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan; kebijakan juga perlu memastikan pengetahuan itu bertemu dengan persoalan yang hendak diselesaikan.

Rasa Syukur & Daya Tahan Seorang Peniliti
Ketekunan Prof. Ika juga berakar pada pengalaman personal. Ia menceritakan bahwa pada awal perjalanan pendidikan, ia sempat menangis ketika diterima melalui jalur undangan di bidang kedokteran gigi. Ia pernah mempertimbangkan pilihan lain, tetapi kemudian mengingat nasihat ayahnya. “Kamu itu harusnya bersyukur. Kamu masuk ke sana bukannya tanpa alasan, pasti sudah ditata semuanya,” kenangnya.
Seiring waktu, ia menemukan bahwa bidang yang semula tidak sepenuhnya sesuai dengan harapannya ternyata menyimpan banyak peluang untuk dipelajari dan dikembangkan. Bagi Prof. Ika, menyukai bidang yang ditekuni, bersyukur, dan berdoa merupakan bagian dari cara menjaga konsistensi menghadapi tantangan. Pengalaman itu mengingatkan bahwa perjalanan ilmiah tidak selalu berawal dari keyakinan yang utuh tentang masa depan. Minat dapat tumbuh melalui pengalaman, proses belajar, dan kesediaan mendalami bidang yang dipilih.
Namun, kisah ketekunan personal perlu dibaca bersama konteks yang lebih luas. Tidak semua peneliti menghadapi kesempatan, fasilitas, atau lingkungan kerja yang sama. Karena itu, semangat individual penting, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab institusi untuk membangun kondisi penelitian yang layak. Ilmuwan membutuhkan daya tahan untuk menghadapi ketidakpastian. Negara dan institusi membutuhkan kebijakan yang memungkinkan daya tahan itu berbuah menjadi kemajuan ilmu pengetahuan.
Prestasi seorang peneliti boleh menjadi kebanggaan bangsa. Ukuran kemajuan yang lebih mendasar adalah ketika prestasi itu tidak berhenti pada nama seseorang, tetapi ikut memperkuat kemampuan bangsa untuk berpikir, menemukan, dan menyelesaikan persoalannya sendiri. Di situlah penghargaan menemukan makna sosialnya: bukan semata-mata sebagai pengakuan atas apa yang telah dicapai, melainkan sebagai pengingat tentang apa yang masih harus dikerjakan.
(Reporter: Andri Wicaksono, Foto: Fajar Budi Harsakti)