Minat mahasiswa internasional untuk menempuh pendidikan tinggi di Indonesia kian meningkat. Salah satunya datang dari Malaysia melalui jaringan lembaga pendidikan tinggi seperti Goon International College, yang mendorong & memfasilitasi mahasiswanya melanjutkan studi ke luar negeri, termasuk ke FKG UGM.
Lembaga yang telah berdiri sejak 1936 itu mengelola ribuan mahasiswa dengan pendekatan unik, pembiayaan pendidikan berbasis beasiswa penuh yang dibayarkan kembali setelah lulus dan bekerja. Strategi ini dinilai menjadi solusi atas keterbatasan akses pendidikan tinggi di Malaysia.
“Di bawah kami ada kurang lebih 10.000 siswa yang belajar, dan semuanya mendapatkan beasiswa. Mereka tidak perlu membayar di awal, nanti setelah bekerja baru mencicil tanpa bunga,” ujar dr. Kartigeyan Perumal selaku perwakilan Goon International College.

Kuota Ketat, Mahasiswa Cari Alternatif
Fenomena meningkatnya minat kuliah ke luar negeri tidak lepas dari sistem kuota ketat perguruan tinggi negeri Malaysia. Persaingan tinggi, ditambah kebijakan afirmasi tertentu, membuat sebagian mahasiswa kesulitan mendapatkan kursi, terutama di program studi favorit seperti kedokteran, kedokteran gigi & kedokteran hewan. Dr. Kartigeyan disambut oleh Kaprodi Pendidikan Dokter Gigi FKG UGM, drg. Aryan Morita, M.Sc., Ph.D, Sekretaris Prodi Pendidikan Dokter Gigi drg. Heriati Sitosari, MDSc., Ph.D, Kepala Unit Kerja Sama FKG UGM drg. Raras Ajeng Enggardipta, MDSc., Sp.KG, Ph.D beserta jajarannya & Unit Humas FKG UGM (04/05/2026).
“Masalah utama di Malaysia itu kuota terbatas. Banyak siswa yang nilainya tinggi tetap tidak dapat tempat, sehingga mereka memilih ke luar negeri,” jelasnya.
Ia menambahkan, universitas negeri di Malaysia memang menawarkan biaya pendidikan yang sangat terjangkau bahkan nyaris gratis karena disubsidi pemerintah. Namun, keterbatasan daya tampung menjadi tantangan utama.
Indonesia Jadi Tujuan Strategis
Indonesia, menurutnya, menjadi salah satu destinasi perguruan tinggi yang menarik. Selain biaya pendidikan yang relatif terjangkau, sistem pendidikan dinilai lebih fleksibel dibandingkan Malaysia. Beberapa kerja sama juga telah dibangun, termasuk dengan beberapa perguruan tinggi di Indonesia.
Mahasiswa dari Malaysia umumnya menjalani program persiapan terlebih dahulu sebelum masuk universitas di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk membantu adaptasi, terutama dalam sistem ujian yang dinilai berbeda.
“Kami siapkan dulu mereka untuk adaptasi, karena sistem ujian di Indonesia berbeda. Misalnya, di sini banyak yang tidak menggunakan kalkulator, sementara di Malaysia itu sudah terbiasa,” ungkapnya.
Skema Pembiayaan Tanpa Beban
Salah satu daya tarik utama sistem pendidikan Malaysia adalah skema pembiayaan tanpa bunga. Mahasiswa tidak dibebani biaya selama studi berlangsung, dan pembayaran baru dilakukan setelah mereka memiliki pekerjaan.
“Pembayarannya tidak ada bunga, nol persen. Dicicil setelah mereka bekerja, jadi tidak memberatkan,” pungkasnya.
Model ini dinilai mampu memperluas akses pendidikan, sekaligus menjaga keberlanjutan finansial lembaga pendidikan.

Peluang dan Tantangan
Di tengah meningkatnya mobilitas mahasiswa lintas negara, Indonesia memiliki peluang besar menjadi sentra pendidikan regional ASEAN. Namun, tantangan cukup besar, mulai dari standardisasi mutu hingga pemutakhiran sistem seleksi.
Minat mahasiswa asing yang terus tumbuh menjadi sinyal positif bahwa Indonesia semakin dilirik sebagai destinasi pendidikan berkualitas. Dengan strategi yang tepat, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi magnet baru pendidikan tinggi di Asia Tenggara.
(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti)