Tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Tim yang terdiri dari Kayla Ramadhani Sandy, Daffa Muhafiz Rizky Rachmawan, dan Michael Haris Ang berhasil meraih Juara 1 dalam ajang National Dentistry of Hang Tuah Scientific Competition (NDHSC) 2026 kategori cerdas cermat.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hang Tuah, Surabaya pada 9 Mei 2026 itu mempertemukan mahasiswa kedokteran gigi terbaik dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia. Sepuluh universitas turut bersaing pada babak semifinal dan final, di antaranya Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, Universitas Padjadjaran, Universitas Brawijaya, hingga Universitas Hasanuddin.
Bagi tim FKG UGM, kemenangan ini bukan sekadar soal membawa pulang piala, melainkan juga tentang perjuangan menaklukkan keterbatasan waktu, tekanan akademik, dan tantangan mental sebagai mahasiswa preklinik.
Kayla Ramadhani Sandy, mahasiswa angkatan 2023 asal Jakarta, mengungkapkan bahwa persiapan lomba dilakukan di sela-sela aktivitas perkuliahan dan pengerjaan skripsi.
“Kami mempersiapkan lomba sambil menyelesaikan tugas akademik dan skripsi. Jadi benar-benar harus pandai membagi waktu,” ujarnya.
Tantangan terbesar justru datang pada hari penyisihan. Mereka harus menghadapi ujian topik berbobot 3 SKS pada pagi hingga siang hari, sebelum kembali bertanding pada kompetisi daring yang berlangsung hingga malam.
“Hari penyisihan itu cukup berat. Kami selesai ujian sekitar pukul 11 siang, lalu langsung lanjut persiapan dan lomba online sampai malam. Kondisi itu benar-benar menguji fokus dan stamina kami,” tutur Daffa Muhafiz Rizky Rachmawan, mahasiswa FKG UGM asal Pekalongan.
Meski demikian, tekanan tersebut justru menjadi energi tambahan bagi mereka untuk membuktikan kemampuan. Tanpa didampingi dosen pembimbing secara khusus, ketiganya mengandalkan kekompakan, komunikasi, dan disiplin belajar mandiri.
Michael Haris Ang, mahasiswa asal Bali, mengatakan bahwa kompetisi bukan hanya tempat untuk mencari kemenangan, tetapi juga ruang untuk membangun jejaring dan pengalaman.
“Kami ingin mengukir prestasi dengan cara kami sendiri dan memaksimalkan masa preklinik. Selain itu, lomba juga menjadi wadah untuk membangun relasi dan kebersamaan dengan mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia,” katanya.
Nuansa humanis tampak kuat dalam perjalanan mereka. Di tengah jadwal akademik yang padat, ketiganya tetap berusaha menjaga semangat satu sama lain. Mereka saling mengingatkan untuk tidak menyerah, bahkan ketika waktu belajar terasa sangat sempit.
Keberhasilan ini sekaligus menjadi gambaran bahwa prestasi mahasiswa tidak lahir secara instan. Ada proses panjang, pengorbanan waktu, hingga keberanian untuk terus mencoba meski berada dalam tekanan akademik yang tinggi.
Bagi mereka, kemenangan di NDHSC 2026 bukan garis akhir, melainkan langkah awal untuk terus berkembang sebagai calon dokter gigi yang kompeten sekaligus adaptif menghadapi tantangan.
Mereka pun menitipkan pesan inspiratif bagi rekan-rekan mahasiswa FKG UGM lainnya.
“Jangan takut untuk terus mencoba dan mengeksplorasi hal baru. Failures don’t define you, giving up does. Bangun relasi dan jaringan dengan cara kalian sendiri,” ujar Kayla, Daffa, dan Michael kompak.
Prestasi ini kembali mempertegas kiprah mahasiswa FKG UGM sebagai generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menunjukkan daya juang, solidaritas, dan semangat kompetitif di tingkat nasional.
(Reporter: Andri Wicaksono)