Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 12, SDG 15, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Lendir Bekicot dan Rahasia Pembuluh Darah Baru: Riset FKG UGM yang Mengejutkan

Empat luka kecil di punggung tikus Wistar. Tiga konsentrasi lendir bekicot. Dan sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana: apakah cairan licin dari hewan paling lambat di dunia itu bisa mempercepat penyembuhan luka?

Jawabannya ternyata mengejutkan.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal F1000Research pada Mei 2021 ini membuktikan bahwa gel lendir bekicot Achatina fulica, terutama pada konsentrasi 96%, mampu mendorong angiogenesis — pembentukan pembuluh darah baru — secara signifikan selama proses penyembuhan luka. Riset ini lahir dari tangan drg. Yosaphat Bayu Rosanto, MDSc, Sp.BMM, bersama tim dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM, dengan dukungan dari Departemen Anatomi Fakultas Kedokteran Hewan UGM.

Dari Luka Terbuka hingga Jaringan Pulih

Setiap kali pisau bedah menyayat kulit — dalam tindakan operasi bedah mulut dan maksilofasial sekalipun — tubuh langsung memulai kerja kerasnya sendiri. Proses penyembuhan luka berlangsung dalam tiga fase besar: inflamasi, proliferasi, dan remodeling jaringan. Di antara ketiga fase itu, angiogenesis menjadi penopang paling krusial.

Angiogenesis adalah proses tumbuhnya pembuluh darah baru dari pembuluh yang sudah ada. Tanpa pembuluh darah baru, oksigen dan nutrisi tidak bisa mencapai jaringan yang rusak. Sel-sel yang dibutuhkan untuk perbaikan — fibroblast, sel inflamasi, sel mesenkim — pun tak punya jalur untuk datang ke lokasi luka.

Bekicot raksasa Afrika (Achatina fulica) dikenal mengandung glikosaminoglikan, heparan sulfat, dan asam hialuronat. Senyawa-senyawa ini bukan asing di dunia biomedis: mereka diketahui berinteraksi dengan faktor pertumbuhan seperti VEGF (vascular endothelial growth factor), FGF (fibroblast growth factor), dan PDGF (platelet-derived growth factor) — tiga mediator utama yang mengendalikan angiogenesis. Pertanyaannya tinggal satu: apakah lendir bekicot dalam bentuk gel topikal bisa benar-benar mengaktifkan mekanisme itu di dalam luka?

Hari Keempat, Angka yang Berbicara

Tim peneliti membuat empat luka berbentuk lingkaran berdiameter 5 mm pada punggung masing-masing tikus menggunakan punch biopsy. Setiap luka mendapat perlakuan berbeda: gel lendir bekicot 24%, 48%, 96%, dan kontrol negatif berupa CMC-Na tanpa lendir. Gel dioleskan sekali sehari, setiap pagi. Tikus dikorbankan pada hari kedua, keempat, dan ketujuh, lalu jaringan luka dipreparasi dengan pewarnaan hematoxylin-eosin untuk diamati di bawah mikroskop.

Hasilnya? Pada hari keempat, kelompok 96% lendir bekicot mencatat rata-rata 17,2 pembuluh darah baru per lapang pandang — angka tertinggi di antara semua kelompok, pada semua hari pengamatan. Uji two-way ANOVA menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok (p = 0,00), dan uji korelasi Spearman mengonfirmasi adanya efek interaktif antara konsentrasi lendir dan hari pengamatan (R = 0,946; p = 0,001).

“Snail mucus concentration and day of observation showed interactive effects on angiogenesis during skin wound healing in Wistar rats. Specifically, the higher the snail mucus concentration and the greater the number of observation days, the faster the wound healing process.” — Rosanto et al., F1000Research 2021

Yang tak kalah menarik: pada hari ketujuh, jumlah pembuluh darah baru di kelompok 48% dan 96% justru menurun dibanding hari keempat. Ini bukan kegagalan — ini adalah tanda kematangan. Pembuluh darah berlebih yang sudah tidak diperlukan mengalami apoptosis terprogram, diatur oleh sel perisit yang aktivitasnya turut distimulasi oleh glikosaminoglikan dalam lendir bekicot. Sementara itu, kelompok kontrol dan 24% masih terus menanjak, menandakan proses mereka berjalan lebih lambat.

Bahan Alami, Potensi Klinis

Lendir bekicot bukan bahan baru di industri kosmetik. Kandungan asam hialuronat dan glikoproteinnya sudah lama dimanfaatkan dalam produk perawatan kulit. Namun penelitian dari FKG UGM ini membawa diskusi ke wilayah yang lebih serius: potensi terapeutik dalam konteks penyembuhan luka pascaoperasi.

Mekanisme yang diduga bekerja adalah interaksi heparan sulfat dengan reseptor pada permukaan sel endotel. Heparan sulfat bertindak sebagai “jembatan” yang membantu VEGF, FGF, dan PDGF menempel lebih efektif ke reseptornya, memicu serangkaian sinyal intraseluler yang mendorong proliferasi dan migrasi sel endotel — cikal bakal pembuluh darah baru.

Meski menjanjikan, tim peneliti mengakui keterbatasan studi ini. Kadar hormonal VEGF, FGF, dan PDGF tidak diukur secara langsung, sehingga mekanisme molekuler yang tepat masih perlu dikonfirmasi lewat penelitian lanjutan. Formulasi gel yang lebih stabil dan memiliki laju absorpsi lebih baik juga disebut sebagai agenda riset berikutnya.

Sembilan tikus, 36 luka, tiga puluh enam titik observasi. Dari sana, sebuah temuan muncul: alam menyimpan lebih banyak jawaban daripada yang kita duga — termasuk dalam lendir seekor bekicot yang merayap lambat di atas tanah basah.

Sumber DOI : https://doi.org/10.12688/f1000research.51297.1

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
15 Juli 2026

Wajah yang Bercerita: Membaca Tanda Talasemia dari Profil Lateral Anak Jawa

15 Juli 2026

Gigi yang Hampir Hilang Diselamatkan dengan Cangkok Tulang dan Material Bioaktif

15 Juli 2026

Ketika Gigi Hitam Bisa Kembali Putih: Kisah Internal Bleaching dan Restorasi Porselen

id_ID