Dari 74 anak usia 3–6 tahun yang diperiksa di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Kabupaten Bantul, Yogyakarta, sebanyak 96 persen ditemukan mengalami karies gigi — atau yang awam kenal sebagai gigi berlubang. Angka ini jauh melampaui target WHO yang menargetkan 90 persen anak usia lima tahun bebas karies. Penelitian yang dipublikasikan di Journal of International Oral Health (2020) ini dilakukan oleh Leny Pratiwi Arie Sandy, S.Kp.G., MDSc., bersama Prayudha Benni Setiawan, S.Kp.G., M.P.H. dari Program Studi Higiene Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Hasilnya membuka mata: konsumsi karbohidrat yang melebihi 10 persen dari total energi harian meningkatkan risiko gigi berlubang hingga 62 kali lipat dibandingkan faktor usia maupun jenis kelamin.
Camilan Setelah Sarapan: Kebiasaan Kecil, Dampak Besar
Penelitian ini dilaksanakan pada 2016 dengan metode potong lintang (cross-sectional). Sampel dipilih secara purposive sampling dari 100 anak, lalu disaring hingga 74 anak yang memenuhi kriteria inklusi. Ibu dari masing-masing anak juga dilibatkan untuk mengisi kuesioner recall diet selama 24 jam — mencatat semua yang dimakan anak dalam sehari.
Data asupan gizi kemudian diolah menggunakan perangkat lunak NutriSurvey 2007, sementara status karies diperiksa dengan indeks DMF-T (Decay, Missing, Filling Teeth) — standar WHO untuk mengukur jumlah gigi yang rusak, tanggal, atau sudah ditambal.
Dari pengamatan langsung di lapangan, peneliti menemukan pola yang konsisten: anak-anak yang sudah sarapan di rumah tetap membeli jajanan tinggi sukrosa seperti biskuit, permen, dan cokelat saat berada di sekolah. Kebiasaan ini yang mendorong total asupan karbohidrat harian mereka melampaui batas aman.
Hasilnya memperlihatkan bahwa 89 persen dari seluruh subjek mengonsumsi karbohidrat lebih dari 10 persen dari total energi per hari. Dari kelompok ini, 92 persen mengalami karies gigi. Sebaliknya, dari anak-anak yang asupan karbohidratnya di bawah 10 persen, sebanyak 67 persen bebas karies.
Mengapa Karbohidrat Menjadi “Bahan Bakar” Gigi Berlubang
Karies gigi bukan sekadar soal malas sikat gigi. Ini adalah penyakit multifaktorial — melibatkan bakteri, gigi, dan makanan secara bersamaan.
Karbohidrat, terutama sukrosa, adalah “bahan bakar” favorit bakteri Streptococcus mutans yang hidup di plak gigi. Bakteri ini mampu mengubah sukrosa menjadi glukan — zat yang membantu pembentukan plak gigi — sekaligus menghasilkan asam laktat melalui proses glikolisis. Asam inilah yang perlahan melarutkan lapisan email gigi hingga terbentuk lubang.
Kondisi ini semakin diperparah oleh sifat gigi sulung yang secara morfologi lebih tipis dan lebih rentan dibanding gigi permanen. Ketika karies sudah menyerang satu gigi sulung, penyebarannya ke gigi lain pun lebih cepat.
“Carbohydrate intake caused risk in dental caries in preschool children. The majority of subjects who experienced dental caries had a habit of consuming carbohydrates more than 10% of total energy in one day.” — Leny Pratiwi Arie Sandy, S.Kp.G., MDSc., dalam simpulan penelitian
Monosaccharida dan disakarida — seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa — terbukti lebih bersifat kariogenik dibanding polisakarida. Ini berarti camilan manis yang terasa “kecil” justru punya potensi merusak yang lebih besar dibanding nasi yang dimakan dalam porsi besar.
Angka 62 Kali: Peringatan yang Sulit Diabaikan
Hasil uji regresi logistik dalam penelitian ini menghasilkan temuan yang cukup mengejutkan. Risiko konsumsi karbohidrat terhadap kejadian karies gigi tercatat 62 kali lebih besar dibandingkan faktor jenis kelamin maupun usia anak. Artinya, apakah anak laki-laki atau perempuan, berusia 3 atau 6 tahun, tidak terlalu menentukan — yang jauh lebih menentukan adalah apa yang mereka makan setiap hari.
Penelitian sebelumnya oleh Palacios dan kolega di Puerto Rico menyebutkan angka empat kali lebih berisiko bagi anak yang mengonsumsi karbohidrat berlebih. Temuan dari Bantul ini menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi — kemungkinan mencerminkan pola konsumsi jajanan kariogenik yang lebih intens di lingkungan sekolah yang diteliti.
WHO sendiri sejak 2015 telah merekomendasikan agar asupan gula bebas dibatasi di bawah 10 persen dari total energi harian. Rekomendasi ini bukan tanpa alasan — dan data dari Bantul mempertegas urgensinya, khususnya untuk anak usia prasekolah.
Dari Bantul untuk Seluruh Anak Indonesia
Angka karies 96 persen pada sampel penelitian ini bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka ada anak yang mungkin merasakan sakit gigi, sulit makan, atau terganggu tidurnya — kondisi yang pada akhirnya berdampak pada tumbuh kembang mereka secara keseluruhan.
Penelitian ini menegaskan bahwa intervensi paling realistis dan paling efektif dimulai dari hal sederhana: membatasi camilan manis di sekolah, mengedukasi orang tua soal bahaya karbohidrat berlebih, dan membiasakan anak makan makanan dengan kandungan gula yang terkontrol.
Indonesia mencatat lebih dari 29 juta anak dalam rentang usia 1–6 tahun. Jika pola konsumsi karbohidrat mereka tidak diperhatikan sejak dini, angka karies anak yang sudah tinggi ini akan terus bertumbuh seiring bertambahnya usia — dan masalah kesehatan gigi yang seharusnya bisa dicegah akan terus meninggalkan bekas.
Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam
Foto: Freepik