Berita

/

Berita Terbaru

Ketika Efisiensi Energi Berawal dari Kesadaran Perilaku

Upaya menekan emisi gas rumah kaca nasional kini memanggil keterlibatan aktif dari sektor yang kerap terabaikan: bangunan komersial dan fasilitas publik. Di balik megahnya struktur beton gedung perkantoran dan ruang kuliah kampus, terdapat konsumsi energi skala besar yang mayoritas disokong oleh pasokan listrik berbasis batu bara.

Di tengah komitmen menuju Net Zero Emission (NZE), efisiensi energi bangunan kini bukan sekadar opsi teknis, melainkan keharusan strategis dan bentuk tanggung jawab lingkungan. FKG UGM menyadari akan pentingnya wujud nyata kesadaran efisiensi energi berawal dari pribadi. Civitas FKG UGM mengadakan sosialisasi penerapan inventarisasi emisi gas rumah kaca menuju Net Zero Emission. Acara yang dipandu oleh Adi Nugroho, ST selaku pengelola IT FKG UGM menghadirkan narasumber Maharani Dyah Alfiana, selaku Analis Energi Efisiensi dan Konservasi dari Institute for Essential Services Reform (IESR) berlangsung secara daring.

Mahligai: Teknologi vs Perilaku

Upaya pengurangan beban emisi di sektor bangunan membutuhkan pemahaman jernih atas dua pilar utamanya: efisiensi energi dan konservasi energi. Analis Energi Efisiensi dan Konservasi dari Institute for Essential Services Reform (IESR), Maharani Dyah Alfiana, menegaskan bahwa kedua aspek ini kerap disalahartikan oleh masyarakat.

“Efisiensi energi adalah upaya menggunakan energi lebih sedikit untuk mendapatkan hasil yang sama dengan bantuan teknologi, seperti mengganti lampu neon dengan LED. Sedangkan konservasi energi berfokus pada perubahan perilaku, seperti mematikan pendingin udara saat ruangan kosong atau mengatur suhunya di angka ideal,” ujar Maharani.

Kombinasi keduanya bertumpu pada kebijakan penataan energi yang solid. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2023 tentang Konservasi Energi dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Manajemen Energi, pengelola gedung yang mengonsumsi energi di atas 500 Ton of Oil Equivalent (TOE) per tahun wajib mengimplementasikan manajemen energi terstruktur. Hal ini mencakup penunjukan manajer energi bersertifikat hingga kewajiban pelaporan berkala.

Mengukur Intensitas: Pengalaman dari Lapangan

Guna mengukur seberapa hemat sebuah bangunan, parameter yang digunakan adalah Indeks Konsumsi Energi (IKE),yakni total konsumsi listrik tahunan (kWh) dibagi luas area ber-AC per meter persegi. Semakin rendah nilai IKE, semakin efisien kinerja energi gedung tersebut.

Sebagai gambaran audit lapangan yang dilakukan IESR di Politeknik Negeri Batam, nilai IKE tercatat berada di angka 343 kwh per peter persegi per tahun. Angka ini masuk dalam kategori boros jika disandingkan dengan standar bangunan pendidikan skala besar yang idealnya berada di bawah 99,9 kwh per meter persegi.

Penilaian Standar Kinerja Energi Minimum (SKEM) pada peralatan elektronik juga menjadi kunci instan. Penggunaan pendingin ruangan atau lemari es berlabel bintang empat, misalnya, mampu memangkas konsumsi listrik hingga 58% dari baseline awal.

Harapan dari Atap: Potensi Surya Nusantara

Di samping pembenahan internal, pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap menjadi alternatif hijau yang kian matang. Pasokan listrik jaringan nasional yang masih memuat porsi batu bara tinggi mendorong instansi beralih ke sumber terbarukan. Indonesia menyimpan potensi radiasi matahari melimpah sepanjang tahun . Studi IESR di Nusa Penida, Bali, mencatat potensi kapasitas terpasang hingga 125, 17 KwhP. Jika 8 hotel bintang 4 dan 5 mengoptimalkan area atap seluas 721 meter persegi.

Transformasi menuju bangunan rendah emisi tidak selalu berawal dari proyek infrastruktur berbiaya tinggi. Penyesuaian suhu AC ke standar 24-25 derajat selsius, mematikan perangkat elektronik saat jam istirahat, serta memaksimalkan pencahayaan alami di siang hari adalah tindakan sederhana yang memberikan dampak signifikan.

(Reporter: Andri Wicaksono, Foto: tangkapan layar zoom meeting)

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
28 Agustus 2026

Prof. Eiji Tanaka, DDS, Ph.D Resmi Menjadi Adjunct Professor FKG UGM, Perkuat Kolaborasi Ortodonsia Indonesia–Jepang

27 Agustus 2026

Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D Meraih Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 Bidang Kesehatan

27 Agustus 2026

Persiapkan Kompetensi Klinis Mahasiswa, FKG UGM Gelar Pembekalan Panduan Ujian Komprehensif Dokter Gigi

id_ID