Mesin bisa membaca foto rontgen dalam hitungan detik. Bisa mendeteksi titik-titik anatomis pada citra sefalometri tanpa lelah, tanpa bias suasana hati. Tapi apakah ia bisa menggantikan mata terlatih seorang spesialis ortodonti? Sebuah scoping review yang melibatkan drg. Rellyca Sola Gracea, Sp.RKG. Subsp.RDP(K) bersama koleganya dari luar negeri menjawab pertanyaan itu dengan hati-hati: belum.
Penelitian bertajuk “Artificial Intelligence for Orthodontic Diagnosis and Treatment Planning: A Scoping Review” ini diterbitkan dalam Journal of Dentistry edisi 2024. Tim peneliti yang terdiri dari Gracea, Winderickx, Vanheer, dan kolega melakukan penelusuran sistematis di tiga basis data ilmiah besar, yaitu PubMed, Web of Science, dan Embase. Dari ratusan artikel yang tersaring, 71 studi akhirnya masuk sebagai bahan kajian.
Tiga Medan Tempur AI di Klinik Ortodonti
Studi ini memetakan aplikasi kecerdasan buatan dalam ortodonti ke dalam tiga domain utama: diagnostik (29 studi), identifikasi landmark anatomis (20 studi), dan perencanaan perawatan (22 studi). Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan ke mana perhatian peneliti dunia saat ini sedang tertuju.
Domain yang paling banyak diteliti adalah deteksi landmark anatomis, yakni kemampuan AI untuk menandai titik-titik referensi spesifik pada foto sefalometri. Ini adalah pekerjaan yang dalam praktik klinis konvensional membutuhkan konsentrasi tinggi dan jam terbang panjang. AI menawarkan kecepatan dan konsistensi, dua hal yang memang menjadi kelemahannya manusia ketika berhadapan dengan volume kasus yang besar.
Namun temuan yang paling krusial justru bukan soal apa yang bisa dilakukan AI, melainkan apa yang belum bisa.
“AI menunjukkan potensi dalam meningkatkan efisiensi waktu dan mengurangi variabilitas operator, tetapi akurasi dan reliabilitasnya belum secara konsisten melampaui klinisi ahli.” — Gracea RS, Winderickx N, Vanheer M, dkk., Journal of Dentistry, 2024
Efisiensi Iya, Supremasi Belum
Bayangkan dua skenario di ruang klinik: seorang spesialis ortodonti berpengalaman duduk di depan monitor, menelaah sefalogram dengan teliti selama dua puluh menit. Di sebelahnya, sebuah sistem AI menyelesaikan analisis yang sama dalam dua menit. Siapa yang lebih akurat?
Jawabannya, berdasarkan kajian ini, masih bergantung pada konteksnya. AI unggul dalam kecepatan dan mampu menekan variasi antar-operator, sebuah masalah nyata dalam praktik klinis di mana dua dokter bisa menghasilkan interpretasi berbeda dari gambar yang sama. Tapi ketika bicara soal akurasi absolut dan kemampuan mengintegrasikan berbagai variabel klinis secara holistik, manusia masih berada di atas.
Inilah yang membuat review ini terasa jujur. Ia tidak tergoda untuk menjual optimisme berlebihan tentang AI. Perencanaan perawatan ortodonti bukan sekadar urusan geometri wajah dan gigi. Ada faktor psikologis pasien, preferensi estetika, kondisi periodontal, bahkan proyeksi pertumbuhan tulang yang semuanya harus ditimbang bersama. Sampai hari ini, belum ada sistem AI yang mampu mengintegrasikan semua itu secara otomatis dan terpercaya.
Supervisi Manusia, Syarat yang Tidak Bisa Ditawar
Para peneliti menegaskan satu poin yang berulang kali muncul di sepanjang kajian: supervisi manusia tetap esensial di setiap tahap penggunaan AI. Bukan sebagai formalitas, melainkan sebagai penjaga keselamatan pasien.
AI yang salah mendeteksi satu titik landmark mungkin terlihat sepele di layar. Tapi kesalahan kecil itu bisa berujung pada rencana perawatan yang meleset, pergerakan gigi yang tidak tepat, bahkan hasil akhir yang merugikan pasien. Sistem AI, secanggih apapun, belum memiliki kemampuan untuk menyadari keterbatasannya sendiri.
Oleh karena itu, penelitian ini menutup dengan seruan untuk pengembangan lebih lanjut. Optimisasi algoritma, validasi pada populasi yang lebih beragam, dan yang paling ambisius: kemajuan menuju perencanaan perawatan yang benar-benar patient-specific dan otomatis. Sebuah cita-cita yang belum tercapai, tapi bukan tidak mungkin.
Dunia kedokteran gigi sedang belajar hidup bersama AI, bukan berlomba melawannya. Dan mungkin, itulah cara yang paling masuk akal untuk melangkah maju.
Sumber DOI : https://doi.org/10.1038/s41415-024-8237-3
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Freepik