Momentum Dies Natalis ke-78 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menjadi ruang refleksi yang kuat tentang peran individu dalam membangun peradaban akademik. Salah satu sorotan utama datang dari orasi tokoh yang disampaikan oleh drg. Rudi Wigianto, PhD, DFM, yang mengurai perjalanan Panjang, dari mahasiswa biasa hingga aktor penting dalam jejaring kerja sama internasional kedokteran gigi.
Dalam orasinya, drg. Rudi membuka dengan nada rendah hati, bahkan menyangsikan label “tokoh” yang disematkan kepadanya. Namun justru dari kerendahan hati itulah muncul narasi kuat tentang dedikasi, keberanian, dan konsistensi.
“Saya sendiri sampai saat ini masih bertanya, saya ini tokoh apa. Tapi saya bersyukur bisa berbagi perjalanan tentang kerja sama, tentang perjuangan, bahkan tentang hal-hal yang kontroversial,” ujar drg Rudi.

Awal yang Tak Direncanakan: Titik Balik ke Jepang
Perjalanan internasional Rudi berawal dari sesuatu yang nyaris kebetulan. Saat bertugas di Universitas Mahasaraswati Denpasar, ia diminta mengurus kunjungan profesor dari Jepang. Dari pertemuan itu, ia justru mendapatkan tawaran yang mengubah hidupnya.
“Saya pikir itu basa-basi. Semua orang Indonesia kan suka basa-basi. Tapi ternyata seminggu kemudian saya benar-benar dikirimi formulir beasiswa,” kenangnya.
Kesempatan itu membawanya ke Tokushima University, Jepang, melalui beasiswa pemerintah daerah setempat. Pengalaman tersebut tidak hanya membentuk kapasitas akademiknya, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya kerja sama internasional yang kini berdampak luas.

Diplomasi Akademik: Dari Individu ke Institusi
Salah satu kontribusi terbesar Rudi adalah perannya dalam menjembatani kerja sama antara universitas di Indonesia dan Jepang, khususnya Tokushima University. Awalnya berskala kecil, kerja sama itu berkembang menjadi kemitraan antar universitas.
Ia bahkan secara sadar “mengalihkan” peluang kerja sama dari institusi tempatnya bekerja saat itu ke almamaternya, FKG UGM.
“Dalam benak saya, saya harus mengabdi kepada alumni. Maka kerja sama itu saya arahkan ke Universitas Gadjah Mada,” ungkapnya.
Dampaknya kini nyata. Hingga 2025, puluhan dokter gigi Indonesia telah meraih gelar PhD dari Tokushima University, sebuah capaian yang tidak lepas dari fondasi kerja sama tersebut.

Peran Guru dan “Paksaan” yang Mengubah Sejarah
Dalam narasinya, Rudi berulang kali menekankan pentingnya peran guru. Ia menyebut sejumlah tokoh seperti Prof. Niken W. Sriyono dan Prof. Naoyuki Matsumoto sebagai figur sentral yang membentuk arah hidupnya.
Menariknya, ia menyebut proses tersebut tidak selalu berjalan mulus. bahkan penuh “paksaan”.
“Saya ini korban pertama yang dipaksa berangkat ke Jepang. Prof. Suryono juga dikejar-kejar sampai ngumpet di WC,” ujarnya disambut derai tawa hadirin.
Namun di balik anekdot itu tersimpan pesan mendalam: bahwa dorongan keras dari mentor bisa menjadi katalis kemajuan generasi berikutnya.
Publikasi, SDM, dan Budaya Akademik
Rudi juga mengulas bagaimana kerja sama internasional turut mengubah budaya akademik di Indonesia, khususnya dalam hal publikasi ilmiah.
Ia mengingat masa ketika dorongan untuk menulis justru mendapat resistensi.
“Dulu saya minta staf membuat publikasi, saya dicaci maki. Sekarang justru dosen berlomba-lomba, bahkan sampai stres,” katanya.
Transformasi ini menunjukkan pergeseran paradigma: dari akademisi yang pasif menjadi kompetitif di kancah global.
Kontroversi dan Kepemimpinan di Dunia Implan
Tak hanya di ranah akademik, Rudi juga aktif dalam pengembangan kedokteran gigi implan di Indonesia melalui Ikatan Peminat Kedokteran Gigi Implan Indonesia (IPKGII). Ia mengakui perjalanan organisasi ini penuh dinamika, termasuk penolakan dan regulasi yang berubah-ubah.
“Perkembangan tidak berhenti, peminat tidak berhenti, sehingga kontroversi juga tidak berhenti,” tegasnya.
Namun dari konflik tersebut, lahir fondasi regulasi dan kolaborasi yang kini lebih matang, termasuk keterlibatan kolegium dan organisasi profesi.
Dari Jepang ke Indonesia
Dalam fase terbaru kariernya, Rudi juga membawa teknologi dari Jepang untuk diproduksi di Indonesia, khususnya dalam bidang alat kesehatan berbasis magnetic attachment.
Langkah ini bukan tanpa tantangan, terutama dalam proses regulasi.
“Apa yang disampaikan bahwa kita mendukung produk dalam negeri, pada praktiknya luar biasa sulit. Tapi saya bangga bisa melewati proses itu,” ujarnya.
Pesan Besar Dokter Gigi Lebih dari Sekadar 32 Gigi
Menutup orasinya, Rudi menyampaikan refleksi yang menjadi inti dari seluruh perjalanannya: bahwa profesi dokter gigi memiliki ruang kontribusi yang jauh lebih luas dari sekadar praktik klinis.
“Jadi dokter gigi itu tidak hanya berkutat di 32 gigi. Kita bisa berbuat banyak untuk bangsa ini,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya harmoni antar profesi, antara akademisi, praktisi, dan spesialis sebagai kunci kemajuan bersama.

Inspirasi dari Ketekunan dan Jaringan
Orasi ini bukan sekadar cerita personal, melainkan potret bagaimana individu dapat menjadi simpul penting dalam ekosistem pendidikan, riset, dan profesi. Dari “kebetulan” yang diolah dengan ketekunan, lahir jejaring global yang kini memberi manfaat luas.
FKG UGM, dalam konteks ini, tidak hanya mencetak lulusan semata, tetapi juga agen perubahan berkelanjutan yang mampu menjembatani Indonesia dengan dunia.
(Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti & Arsip Pribadi drg. Rudy Wigianto)