Di Desa Keteleng, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, kehilangan gigi bukan sekadar perkara estetika. Bagi banyak lansia, berujung pada kesulitan mengunyah, menurunnya asupan gizi, hingga membatasi interaksi sosial. Di wilayah perdesaan dengan akses layanan kesehatan gigi yang terbatas, persoalan ini kerap dibiarkan menjadi bagian dari keseharian.
Data nasional memperlihatkan gambaran yang serupa. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 56,9 persen penduduk Indonesia mengalami gangguan kesehatan gigi dan mulut, namun hanya 11,2 persen yang memperoleh perawatan dari tenaga medis gigi. Prevalensi karies bahkan mencapai 82,8 persen. Di balik angka-angka itu, lansia perdesaan menjadi kelompok paling rentan.
Kondisi tersebut mendorong Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) melalui Departemen Prostodonsia merancang program pengabdian masyarakat berbasis teknologi tepat guna di Desa Keteleng. Program bertajuk Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut serta Pemulihan Fungsi Pengunyahan melalui Pembuatan Protesa Gigi ini menargetkan bukan hanya pemulihan fungsi oral, tetapi juga perubahan perilaku kesehatan jangka panjang.

DARI EDUKASI HINGGA REHABILITASI
Berbeda dari layanan kesehatan insidental, program ini dirancang berlapis. Tahap awal dilakukan melalui sosialisasi dan skrining untuk memetakan kondisi kesehatan gigi warga, khususnya lansia. Dari hasil pemeriksaan tersebut, ditentukan tindakan lanjutan—mulai dari pencabutan dan penambalan gigi sederhana, pembersihan karang gigi, hingga seleksi kasus yang memungkinkan untuk pemasangan gigi tiruan.
Sebanyak 94 warga tercatat mengikuti tahapan skrining awal. Tidak semua dapat langsung menerima protesa gigi. Pada kasus kehilangan gigi yang terlalu banyak dan kondisi rongga mulut yang belum siap, diperlukan tindakan pendahuluan agar pemasangan dapat dilakukan dengan aman. Pemasangan protesa gigi direncanakan pada Mei 2026, setelah rangkaian perawatan awal tuntas.
“Pemulihan fungsi pengunyahan tidak bisa instan. Yang kami lakukan adalah memastikan kondisi rongga mulut sehat terlebih dahulu, agar gigi tiruan benar-benar bermanfaat dan nyaman digunakan,” ujar drg. Pramudya Aditama, MDSc., Sp.Pros, Ketua Tim Pelaksana program.
Selain tindakan klinis, warga juga mendapatkan edukasi kesehatan gigi dan mulut, termasuk cara menyikat gigi yang benar serta perawatan gigi tiruan. Pendekatan ini menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penerima layanan, melainkan subjek yang dilibatkan aktif.

TEKNOLOGI TEPAT GUNA DAN KEADILAN AKSES
Isu biaya menjadi penghalang utama pemanfaatan gigi tiruan di perdesaan. Dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), layanan gigi tiruan belum sepenuhnya ditanggung, sehingga masyarakat masih harus menanggung biaya tambahan yang tidak sedikit.
Melalui penerapan teknologi tepat guna, tim Prostodonsia FKG UGM mengembangkan model pembuatan protesa gigi lepasan yang lebih terjangkau tanpa mengabaikan fungsi dan standar klinis. Pendekatan ini sejalan dengan upaya memperkecil kesenjangan akses layanan kesehatan gigi antara perkotaan dan perdesaan.
Program ini juga melibatkan Puskesmas Blado I, pemerintah desa, organisasi profesi kedokteran gigi, serta mahasiswa dan alumni FKG UGM. Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan menjadi fondasi keberlanjutan layanan kesehatan gigi di tingkat komunitas.

DAMPAK YANG LEBIH LUAS
Bagi wilayah seperti Desa Keteleng dengan luas sekitar 8,83 kilometer persegi dan akses antardusun yang tidak selalu mudah kehadiran layanan kesehatan gigi berbasis komunitas membawa arti penting. Selain meningkatkan kualitas hidup lansia, program ini diarahkan untuk membentuk model layanan protesa gigi berbasis masyarakat yang dapat direplikasi di desa lain di Kecamatan Blado.
“Gigi yang kembali berfungsi bukan hanya soal makan. Ia memengaruhi rasa percaya diri dan kualitas hidup.”
Di Desa Keteleng, senyum baru bukan sekadar simbol keberhasilan klinis. Ia menjadi penanda bahwa kesehatan, termasuk kesehatan gigi adalah hak yang semestinya dapat diakses hingga ke pelosok.
(Redaksi: Andri Wicaksono, Foto: Arsip Departemen Prostodonsia FKG UGM)