Berita

/

Artikel, Berita Terbaru, SDG 3, SDG 9

Gigi Buntu yang Tersesat ke Sinus, Kisah Operasi Langka di RSA UGM

Seorang perempuan 26 tahun datang ke Poli Bedah Mulut dan Maksilofasial Rumah Sakit Akademik UGM dengan keluhan yang terasa janggal: pipi kanannya bengkak dan nyeri, menjalar sampai ke telinga. Bukan sakit gigi biasa. Ketika foto rontgen ortopantomograf (OPG) diambil, dokter menemukan sesuatu yang tidak terduga, gigi molar ketiga kanan atasnya tidak ada di tempatnya. Ia tumbuh di dalam sinus maksilaris.

Kasus ini kemudian didokumentasikan oleh drg. Didit Istadi dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM bersama dr. Feri Trihandoko dari Departemen Bedah Kepala dan Leher FK-KMK UGM, dan dipublikasikan dalam jurnal e-GiGi edisi 2025.

Ketika Gigi Tumbuh di Tempat yang Salah

Gigi ektopik adalah gigi yang berkembang di luar lengkung rahang normal. Lokasinya bisa beragam: kondilus mandibula, palatum, rongga hidung, hingga sinus maksilaris. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari gangguan odontogenesis, kista dentigerous, trauma, infeksi, hingga faktor genetik.

Yang membuat kasus ini sulit dideteksi sejak awal: gigi ektopik sering tidak menimbulkan gejala apa pun pada tahun-tahun pertama. Pasien ini pun baru merasakan keluhan setelah kondisi memburuk. Pemeriksaan lanjutan dengan CT-scan sinus paranasal memperlihatkan gigi 18 terjepit di antara septum sinus dan dinding superoanterior sinus maksilaris kanan, disertai area radiolusen di bagian inferiornya.

Diagnosis ditegakkan: gigi ektopik simtomatik pada sinus maksilaris kanan.

Operasi dengan Pendekatan Caldwell-Luc

Tim bedah memilih pendekatan Caldwell-Luc (CWL), teknik pembedahan yang membuka akses langsung ke sinus maksilaris melalui dinding anterior. Operasi dilakukan di bawah anestesi umum. Saat sinus dibuka, ditemukan pus dan jaringan granulasi. Gigi 18 berhasil dikeluarkan dengan hati-hati meski ruang gerak terbatas dan lapang pandang sempit karena letak gigi yang dekat dengan dasar orbita.

Pasien dirawat tiga hari. Pembengkakan wajah berangsur surut sejak hari kedua pascaoperasi. Proses pemulihan tidak berjalan mulus sepenuhnya, pada kontrol hari ke-7 masih ada dehisensi luka, dan penjahitan ulang diperlukan pada hari ke-14. Namun pada bulan kedua, luka sudah menutup baik. Foto OPG tiga bulan pascaoperasi menunjukkan penyembuhan sempurna tanpa gambaran kista maupun lesi lain.

Laporan ini menegaskan satu hal yang kerap terlewat dalam praktik sehari-hari: pemeriksaan odontogram menyeluruh pada kunjungan pertama pasien bukan formalitas. Jika ada gigi yang “hilang” tanpa riwayat pencabutan, kecurigaan harus segera muncul. Rontgen OPG yang relatif murah sudah cukup sebagai skrining awal, sebelum gigi yang tersesat itu memilih untuk bersuara sendiri, dengan cara yang menyakitkan.

Reporter: Nanda Ayu-Andri Wicaksono

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
2 Juli 2026

Ketika Rahang Patah, Tulang Mana yang Lebih Cepat Pulih?

2 Juli 2026

Temu Putih Melawan Radang: Bukti dari Laboratorium FKG UGM

2 Juli 2026

Minyak Temu Putih Turunkan Gula Darah Sekaligus Atasi Gingivitis pada Tikus Hiperglikemia

id_ID