Berita

/

Berita Terbaru

FKG UGM Terapkan Prinsip Halal, Higienis, dan ASUH dalam Penyembelihan Hewan Kurban

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) melaksanakan penyembelihan hewan kurban dengan menerapkan prinsip halal, higienis, dan ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) pada 28 Mei 2026 di lingkungan FKG UGM. Pada Iduladha tahun ini, FKG UGM menyembelih 3 sapi dan 1 kambing.

Ketua Forum Komunikasi Islam FKG UGM, drg. Mohammad Fadyl Yunizar, M.PH., Ph.D., mengatakan jumlah hewan kurban tahun ini meningkat dibanding tahun sebelumnya. Tahun lalu, FKG UGM menyembelih 2 sapi dan 5 kambing.

Jumlah pekurban juga meningkat dari 19 orang menjadi 22 orang. “Alhamdulillah tahun ini jumlah pekurban meningkat. Semoga ke depan partisipasi warga FKG UGM dalam ibadah kurban juga terus bertambah,” ujar Fadyl.

Dalam pelaksanaannya, FKG UGM bekerja sama dengan tim Juru Sembelih Halal (Juleha) Yogyakarta untuk memastikan proses penyembelihan berjalan sesuai syariat Islam dan memperhatikan keamanan pangan.

Ir. Putut Proboseto Agung Nugroho dari Juleha Yogyakarta menjelaskan prinsip halal dalam penyembelihan diterapkan mulai dari penanganan hewan sebelum disembelih hingga proses pemotongan. Hewan diperlakukan dengan tenang agar tidak stres, kemudian disembelih dengan memotong saluran makan, saluran pernapasan, dan dua pembuluh darah utama di leher.

“Kalau hewan stres sebelum disembelih, kualitas dagingnya bisa menurun. Darah juga lebih sulit keluar sempurna,” jelasnya.

Ia menambahkan petugas juga harus memastikan hewan benar-benar mati sebelum memasuki tahap lanjutan seperti pengulitan dan pengeluaran jeroan.

Selain aspek halal, panitia juga menerapkan prinsip higienis selama pengolahan daging kurban. Panitia membagi lokasi kerja menjadi area kotor dan area bersih untuk mengurangi risiko kontaminasi silang.

Area kotor digunakan untuk penyembelihan dan pengeluaran jeroan, sedangkan area bersih digunakan untuk pemotongan, penimbangan, dan pengemasan daging. Petugas di area bersih diwajibkan menggunakan pakaian bersih dan tidak diperbolehkan merokok di sekitar pengolahan daging.

Menurut Putut, daging termasuk bahan pangan yang mudah terkontaminasi bakteri apabila ditangani secara tidak higienis. “Daging sangat mudah menyerap kontaminasi dari lingkungan sekitar, termasuk dari pakaian kotor dan asap rokok,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan pengolahan daging kurban perlu memenuhi prinsip ASUH, yaitu Aman, Sehat, Utuh, dan Halal. Aman berarti daging tidak tercemar bakteri maupun bahan lain, sehat berarti layak dikonsumsi, utuh berarti tidak dicampur dengan bahan lain, sedangkan halal berkaitan dengan proses penyembelihan yang sesuai syariat Islam.

Untuk menjaga kualitas daging, panitia memisahkan pengemasan daging dan jeroan. Jeroan hijau seperti usus dan babat juga disarankan direbus terlebih dahulu untuk mengurangi risiko bakteri sebelum dibagikan kepada masyarakat.

Putut mengingatkan distribusi daging kurban sebaiknya dilakukan maksimal enam jam setelah penyembelihan apabila tidak tersedia fasilitas pendingin. Menurutnya, pembusukan daging dimulai dari darah yang masih tertinggal di dalam jaringan daging.

Fadyl berharap pelaksanaan kurban di FKG UGM dapat terus berjalan dengan baik dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. “Kami berharap pelaksanaan kurban ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kepedulian sosial di lingkungan FKG UGM,” katanya.

Panitia menargetkan distribusi minimal 300 paket daging kurban kepada warga sekitar FKG UGM, sohibul kurban, masjid yang mengajukan proposal, wilayah Godean, Gunungkidul.

Penulis: Fajar Budi Harsakti
Foto: Fajar Budi Harsakti

Tags

Bagikan Berita

Berita Terkait
26 Mei 2026

FKG UGM dan Haleon Fasilitasi Pembuatan Gigi Tiruan bagi Guru Yogyakarta

26 Mei 2026

47 Calon Dokter Gigi Baru FKG UGM Resmi Dinyatakan Lulus !

25 Mei 2026

Mahasiswa FKG UGM Sukses Gelar Prasasti 2026 di Tengah Padatnya Kuliah

id_ID